Universitas Trisakti Anugerahi Taufiq Kiemas Doktor Kehormatan

JAKARTA – Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI Taufiq Kiemas, Minggu (10/3) akan dianugerahi gelar Doktor Kehormatan (Doctor Honoris Causa) dari Universitas Trisakti, Jakarta. Pengukuhan Doktor Kehomarmatan akan berlangsung di gedung Nusantara IV, komplek Parlemen, Senayan Jakarta, akan dihadiri oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Wapres Boediono serta menteri Kabinet Indonesia Bersatu II.

Meskipun tempatnya di komplek parlemen, penganugerahan gelar doktor kehormatan itu tetap melalui prosesi sidang terbuka Universitas Trisakti yang dipimpin Rektor Prof Dr Thoby Muthis. Setelah itu, Taufiq Kiemas menyampaikan pidato ilmiahnya berjudul, "Empat Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara Sebagai Sumber Moralitas dan Hukum Nasional."

Empat Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara semakin dikenal luas masyarakat sejak pimpinan MPR ditangan Taufiq Kiemas, Meilani Leimena Suharli, Hajriyanto Y Thohari, Lukman Hakim Saifuddin dan Ahmad Farhan Hamid yang terpilih 1 Oktober 2009. Empat pilar tersebut adalah Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika.

Karena gencarnya sosialisasi Empat Pilar ini, di kalangan internal pimpinan MPR, Taufiq Kiemas pun dijuluki sebagai Bapak Empat Pilar. "Empat Pilar ini memang murni gagasan dari Taufiq Kiemas. Makanya kita memberi titel ke beliau sebagai Bapak Empat Pilar," kata Wakil Ketua MPR Hajriyanto Y Thohari, di gedung gedung Nusantara III, komplek Parlemen, Senayan Jakarta, Jumat (8/3).

Dalam MPR periode 2009-2014,  Empat Pilar dicanangkan sebagai programnya. “Rupanya program Empat Pilar sangat populer di masyarakat,” imbuh Hajriyanto.

Tidak hanya itu, menurut politisi Partai Golkar tersebut, MPR sejak di bawah pimpinan Taufiq Kiemas nampak menjadi lembaga yang terhormat dan dihormati. "Taufiq Kiemas memang begitu bersemangat memimpin lembaga MPR. Dia juga membuat langkah besar dengan menjadikan Pidato Bung Karno 1 Juni sebagai tradisi peringatan di MPR dan menjadikan Bung Karno sebagai pahlawan nasional," ungkap Hajriyanto Y Thohari. (fas/jpnn)