BK DPR Periksa 4 Anggota Komisi XI

BK DPR Periksa 4 Anggota Komisi XI


Jakarta: BK DPR memeriksa empat orang anggota Komisi XI DPR yang dilaporkan Dahlan Iskan atas dugaan pemerasan terhadap BUMN, Rabu (28/11). Keempat anggota Komisi XI DPR itu adalah Linda Megawati dan Saidi Butar Butar dari Fraksi Parta Demokrat, Muhammad Hatta dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN), dan I Gusti Agung Rai dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Sejak pukul 10.00 WIB hingga saat ini BK DPR sudah memeriksa tiga orang anggota Komisi XI DPR. I Gusti Agung Rai akan menjadi orang terakhir yang diperiksa karena belum hadir. Pemeriksaan terhadap I Gusti Agung Rai direncakan akan dilaksanakan setelah istirahat makan siang. Ketiga anggota Komisi XI DPR yang telah diperiksa membantah telah meminta upeti pada Rudi Setya Purnomo pada pertemuan dengan Dirut Merpati pada 1 Oktober 2011 lalu.(***)

Sekolah Partai; Pertemuan Tradisi Kepartaian & Tradisi Keilmuan

Sekolah Partai; Pertemuan Tradisi Kepartaian & Tradisi Keilmuan


Untuk jangka panjang, PDI Perjuangan telah dan sedang menyekolahkan sejumlah kader agar kelak memiliki kemampuan yang diperlukan dalam mengelola pemerintahan. Kita juga dengan sangat serius melakukan kaderisasi di berbagai daerah. Kita bahkan sedang menyiapkan “sekolah partai” dengan bantuan para guru besar dari sejumlah perguruan tinggi yang kredibel. Kaderisasi dan sekolah partai bahkan sengaja dirancang untuk membentuk kader yang memiliki karakter, di luar kemampuan teknokrasi dan manajerial yang diperlukan. Hal ini dilakukan melalui penekanan pada ideologi dan praktek ideologi.

Max Sopacua Mangkir Lagi dalam Persidangan Angie

Max Sopacua Mangkir Lagi dalam Persidangan Angie


Jakarta: Max Sopacua tidak hadir lagi dalam sidang kasus suap pengurusan anggaran Kemendiknas dan Kemenpora dengan terdakwa Angelina Sondakh di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Kamis (29/11). Max dipanggil sebagai saksi. “Untuk saksi Max Sopacua tidak bisa hadir di persidangan karena sedang berada di Malaysia,” kata Jaksa Penuntut Umum KPK Kiki Ahmad Yani kepada Majelis hakim Pengadilan Tipikor Jakarta. Ini ketiga kalinya Max mangkir dari panggilan Jaksa Penuntut Umum. Sebelumnya, Max tidak hadir tanpa konfirmasi. Majelis Hakim meminta jaksa menghadirkan Max secara paksa. Saat Angie masih diperiksa sebagai tersangka di KPK, Max pernah dihadirkan sebagai saksi. Ia mengatakan tidak pernah mengetahui pembahasan anggaran di Komisi X. Di DPR, dia adalah anggota Komisi I yang tidak terkait dengan pembahasan anggaran di Kementerian Pendidikan Nasional. Max menduga dirinya diperiksa terkait informasi yang pernah diungkap mantan Bendahara Umum Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin. Nazaruddin membeberkan bahwa Tim Pencari Fakta Partai Demokrat menggelar pertemuan pada 11 Mei tahun lalu. Max termasuk di dalamnya. Dalam pertemuan itu, Nazar mengatakan Angie mengakui menerima uang Rp9 miliar sebagai fee dari pembahasan anggaran di DPR. Uang diberikan kepada sejumlah koleganya, termasuk Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum sebesar Rp2 miliar. Namun Anas berkali-kali membantah tuduhan tersebut.(IKA)

Surya Paloh Bertemu Megawati

Surya Paloh Bertemu Megawati


Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Megawati Sukarnoputri datang ke markas Media Group, Kedoya, Jakarta Barat, Rabu (10/12). Ia datang untuk rekaman acara talk show Kick Andy. Sebelum rekaman dimulai, Mega bertemu Surya Paloh. Ia didampingi Ketua Dewan Pertimbangan Pusat PDIP, Taufik Kiemas, Sekretaris Jenderal DPP PDIP Pramono Anung, Ketua DPP PDIP Firman Jaya Daeli. Tampak pula anak perempuan Megawati, Puan Maharani dan Ketua Dewan Pengurus Daerah PDIP Jakarta, Adang Ruchyatna. Pertemuan Megawati dengan Surya berlangsung selama sekitar 30 menit. Taufik Kiemas yang juga suami Megawati sempat bertukar pikiran dengan Surya Paloh tentang berbagai perkembangan di Tanah Air, khususnya di bidang politik menjelang Pemilu 2009. Menghadapi Pemilu 2009, PDIP telah menetapkan Megawati sebagai calon presiden. Namun sejauh ini, PDIP belum memutuskan orang yang akan mendampingi Mega sebagai calon wakil presiden.

Konflik Nasdem, Ribut Sebelum Berkarya

Konflik Nasdem, Ribut Sebelum Berkarya



Headline

Ketua Majelis Tinggi Partai Nasdem Surya Paloh dan Hary Tanoesoedibjo – Inilah.com/Ardhy Fernando

inilah.com, Jakarta – Partai Nasional Demokrat (NasDem) yang baru lahir, kini dalam sorotan publik. Semangat restorasinya terganggu oleh berita minor bahwa partai besutan Surya Paloh itu mengalami konflik internal. Surya dan Hary Tanoe dikabarkan bersaing dan saling mengintai karena benturan kepentingan masing-masing.

Tidak akan ada asap kalau tak ada api, apalagi terkait politik Nasdem yang masih dini. Para analis melihat Ketua Majelis Tinggi Partai Nasdem Surya Paloh dan Hary Tanoesoedibjo, ketua dewan pakar, diduga sama-sama berminat menjadi ketua umum Partai Nasdem.

“Baik Hary Tanoe maupun Surya Paloh adalah konglomerat di Indonesia. Tujuan mereka masuk politik tak lain adalah menjadi presiden atau wakil presiden,” kata Prof Dr Hamdi Muluk, pakar psikologi politik dari UI.

Internal Partai NasDem bergejolak seiring rencana Surya Paloh mengambil alih posisi Ketua Umum Partai NasDem. Bahkan petinggi Partai NasDem tak membantah adanya gejolak internal dan pertemuan di akhir Januari ini adalah sarana mencari solusi dan mensinergikan kembali Surya dan Hary Tanoe.

Sekjen Partai NasDem, Ahmad Rofiq menuturkan dalam silaturahim yang ditegaskan Surya Paloh sebagai Kongres Partai NasDem akhir bulan ini akan dicari jalan penyelesaiannya. Terutama menyangkut adanya beda pandangan antara dua petinggi NasDem itu. “Kita akan mencari titik temu antara Pak Surya Paloh dan Pak Hary Tanoe,” kata Rofiq. Bisakah titik temu dicapai?

Semestinya bisa, sebab kalau tidak, toh tak ada gunanya. Ibaratnya, ‘’menang jadi arang, kalah jadi abu’’. Artinya, kalah menang nyaris tak ada artinya, sebab Nasdem belum berbuat banyak, belum bekerja apapun kepada rakyat, kecuali pasang iklan besar-besaran di media dan di mana-mana.

Cita-cita besarnya untuk mewujudkan restorasi demokrasi dan pembaruan di Indonesia bisa kandas kalau konflik antar-elitenya merebak. Publik mencatat bahwa Nasdem ingin berbuat dan bekerja nyata, tapi sejauh ini belum berbuat, karena belum pernah ikut pemilu dan punya wakil di parlemen. Nasdem harus membuktikan dirinya kredibel dan tangguh.

Nasdem yang masih baru lahir, janganlah sia-sia hanya karena persoalan elitenya. Justru para elite itulah yang harus jadi teladan dalam memimpin parpol baru ini dengan gagasan besar ke depan, bukan konflik besar yang merisaukan.

Surya Paloh dan Hary Tanoe cukup mampu untuk mewujudkan cita-cita restorasi demokasi dan pembaruan itu, kecuali kalau keduanya siap ‘’menang jadi arang, kalah jadi abu’’. Nasdem harus sadar benar dan mengerti total soal dampak konflik internal yang merusak itu. [berbagai sumber]

Kiai Tanggapi Positif Pertemuan SBY Muhaimin

Kiai Tanggapi Positif Pertemuan SBY Muhaimin


Headline News / Polkam / Jum’at, 27 Maret 2009 1:03 WIB. Metrotvnews.com, Jakarta: Pertemuan Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono dan Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Partai Kebangkitan Bangsa, Muhaimin Iskandar menuai respon positif dari kiai. Tanggapan ini dikirim lewat pesan singkat di ponsel Muhaimin. Berbicara di Jakarta, Kamis (26/3), Muhaimin mengatakan para kiai mendukung rencana SBY untuk tidak berfokus pada satu partai Islam saja. Adapun rencana itu sebagai upaya SBY menyamakan persepsi dan merujuk pada koalisi dengan PKB.(RAS)

Nasional | Mundur Bersama HT, Rofiq Tak Akan Pernah Balik Lagi ke NasDem


Foto: Ari Saputra/detikcom

Jakarta – Sekjen Partai Nasional Demokrat (NasDem) Ahmad Rofiq telah mundur dari Partai NasDem bersama Hary Tanoesoedibjo. Rofiq menegaskan dirinya tak akan pernah kembali ke NasDem.

“Nggak akan pernah kembali, justru mundurnya kami tidak ingin menjadi faktor pengganggu bagi Partai Nasdem, keputusan kami sudah pasti tidak berubah,” kata Ahmad Rofiq usai Jumpa Pers di Museum Adam Malik, Jalan Diponegoro 29, Jakpus, Senin (21/1/2013).

Menurut Rofiq, keputusan dirinya beserta Hary Tanoe untuk mundur dari Partai Nasdem adalah karena perbedaan pandangan. Terutama menyangkut Surya Paloh yang ingin merebut posisi ketua umum dari Rio Capella.

Lebih jauh ia menilai, kongres Partai Nasdem yang akan mengukuhkan Surya Paloh sebagai ketua umum adalah inkonstitusional alias tidak sesuai dengan AD/ART.

“Kongres tanggal 25-27 Januari saya juga tidak tahu Kongres itu atas keputusan siapa. Saya tidak mau tandatangani karena tidak jelas itu keputusan organisasi atau perorangan,” ucapnya.

“Bagi saya jabatan bukan segalanya,” imbuh Rofiq

Saat ditanya apakah ada negosiasi dari Surya Paloh sebelum Hary Tanoe dan 3 orang lainnya menyatakan mundur dari Nasdem, Rofiq menyatakan yang terpenting bagi mereka adalah menjalankan organisasi sesuai prosedur atau AD/ART.

“Saya tidak tahu persis tapi saya tidak mau negosiasi yang berorientasi jabatan. Saya hanya toleransi kalau seseorang melakukan organisasi sesuai prosedur,” jawab Rofiq.

Apakah selanjutnya akan ikut dengan Hary Tanoe soal keputusan politik berikutnya? “Pertemuan saya dengan pak Hary Tanoe sekarang karena satu gagasan ada persamaan prinsip, maka keputusan pak Hari Tanoe nanti akan saya ikuti apapun keputsan politiknya kalau untuk masa depan perubahan,” kata Rofiq.

(bal/van)