Politisi Golkar: Atasi tahanan berduit keluar-masuk LP, ganti aja menterinya


Politisi Golkar: Atasi tahanan berduit keluar-masuk LP, ganti aja menterinya - Rutan berfasilitas khusus buat napi kantong tebal - Anggota Komisi III DPR RI, Bambang Soesatyo

Anggota Komisi III DPR RI, Bambang Soesatyo(Foto: ist)

LENSAINDONESIA.COM: Anggota Komisi III DPR RI, Bambang Soesatyo membenarkan apa yang disampaikan Ketua KPK, Abraham Samad. Baginya, keluhan KPK itu bukanlah sesuatu yang baru karena begitulah kenyataannya. Selain keluar masuk, beberapa Lapas (Lembaga Pemasyarakatan) punya kamar khusus yang mewah untuk ukuran lapas.

“Yang dilengkapi perangkat pendingin (AC) juga lemari es, televisi dan komputer atau laptop juga jarang tidur malam di lapas. Biasanya seperti yang disinyalir Abraham dan itu memang fakta,” ujarnya Bambang kepada Wartawan, Jakarta, Jum’at (10/05/2013).

Baca juga: Koruptor “pengkhianat” keluar-masuk tahanan, Kemenkumham kerja keras, dong! dan Hadapi isu tahanan keluar-masuk rutan, Wamenkumham Curhat ke Komisi IX

Menurut Politikus Partai Golkar ini, para tahanan kerap pulang ke rumah malam hari dan kembali pagi. Tentu, berbagai perlakuan istimewa itu ada harganya. Kalau ada pihak yang harus bertanggung jawab, menurutnya adalah Kemenkumham.

Ia mempunyai solusi masalah Rutan itu. Politisi Golkar ini menyarankan agar pemerintah mengganti menterinya. Menurutnya, tindak itu cepat selesai.

‎​”Ganti menterinya. ‎​Ah itu pencitraan saja. Hanya seolah-olah saja,” imbuhnya.

Seperti diketahui, Ketua KPK, Abraham Samad memaparkan hal itu di depan ratusan peserta seminar dengan tema “Peran Penegak Hukum Terkait Perlindungan dan Pengembalian Aset-aset Negara yang Dikuasi Pihak Lain Secara Melawan Hukum,” di Hotel Borubudur, Jakarta, Kamis, (09/05/2013).

“Di sini ada teman-teman wartawan, bisa dibuktikan kalau terpidana korupsi kelas wahid itu tidak pernah tidur di rutan. Mereka tidur di rumahnya, kembali lagi subuh ketika apel pertama di pagi hari,” tegasnya. Pernyataan Abraham sontak membuat pemateri lain yang hadir di situ, termasuk Kejaksaan Agung dan petinggi Kepolisian terncengang.

Lebih lanjut Abraham menyatakan, korupsi tidak akan pernah bisa diberantas jika penanganannya secara konvensional. Pelaku korupsi bisa diberantas jika penanganannya secara luar biasa. “Salah satunya dengan menyita aset hasil korupsinya meski itu tidak menjamin ketika putusan sudah inkracht,” kata Abraham.@endang

Berita Terkait:

lensaindonesia.com