Plus Minus Hary Tanoe di Nasdem

Plus Minus Hary Tanoe di Nasdem

Headline

Hary Tanoesoedibjo, Ketua Dewan Pakar Partai NasDem – Inilah.com/Ardhy Fernando

inilah.com, Jakarta – Pekan depan atau minggu ketiga Januari ini, ada kegiatan politik yang ditunggu para pelaku politik. Yaitu pertemuan petinggi Nasdem yang akan menentukan nasib kolaborasi Surya Paloh dan Hary Tanoe di partai yang baru berusia 'seumur jagung' itu.

Maklum sudah sejak akhir 2012, santer beredar bahwa hubungan Surya dan Hary di Partai Nasdem, sudah mengalami keretakan. Dan keretakan itu disebut-sebut sangat serius.

Surya sebagai pendiri Nasdem, dikabarkan sangat tersinggung dengan manuver Hary, pengusaha sukses yang baru didaulat sebaga pakar politik setelah ada Nasdem. Hary disebut-sebut ingin merebut posisi Ketua Umum Partai Nasdem. Sesuatu yang bagi Surya, penentuannya secara etika dan psikologis, hanya ada di tangan dia.

Sehingga yang dinanti adalah apakah keretakan Surya dan Hary dapat dihindari atau akan berujung dengan 'perceraian'? Yang berkepentingan melihat terjadinya 'perceraian' Surya dan Hary banyak pihak. Tidak hanya 9 partai politik lainnya yang sudah dipastikan lolos mengikuti Pemilu Legilslatif April 2014.

'Perceraian' atau perpecahan di dua petinggi Partai Nasdem itu, jika terjadi, memang ada imbas positifnya terhadap kesembilan partai tersebut. Setidaknya, kekuatan Partai Nasdem dalam bertarung memperebutkan suara pemilu, bakal melemah.

Kabar keretakan itu memang tidak pernah memperoleh pembenaran ataupun konfirmasi dari Surya maupun Hary apalagi oleh kedua-duanya. Bahkan sejumlah fungsionaris Nasdem berusaha membantahnya. Boleh jadi karena Surya dan Hary sama-sama menyadari, jika mereka memberi komentar, kegaduhan di luar dan di dalam Nasdem, tak terhindarkan.

Tetapi dengan sikap diam Surya dan Hary dalam menghadapi isu keretakan itu, semakin membuat orang non-Nasdem berspekulasi bahkan percaya bahwa keretakan duet mereka, memang valid. Bukan sekadar kabar burung. Keretakan itu digembar-gemborkan cukup serius. Karena masing-masing memiliki pendukung yang sama-sama kuat.

Surya didukung oleh anggota Nasdem yang tergolong senior, sementara Hary oleh kelompok muda. Pengelompokan itu seakan mewakili usia dari kedua tokoh Nasdem itu. Surya yang berusia di atas 60 tahun didukung oleh mereka yang sudah lebih lama terjun di dunia politik dan organisasi kemasyarakatan. Sementara Hary yang baru berusia 40-an, didukung oleh kekuatan muda.

Sebagai satu-satunya partai baru di antara 10 partai politik yang lolos untuk mengikuti Pemilu Legislatif April 2014, sesungguhnya tidak sedikit yang berharap agar Nasdem bisa menjadi partai baru alternatif.

Sekalipun di Partai Nasdem juga terdapat sejumlah bekas kader dari 9 partai yang saat ini memiliki perwakilan di DPR-RI, tetapi kehadiran mereka, tidak mengurangi daya tarik Partai Nasdem sebagai sebuah partai baru.

Jargon restorasi! yang diusung Partai Nasdem, memiliki daya magis tersendiri. Selain itu adanya keberanian dan kemampuan Surya Paloh menjadikan Nasdem dari “nothing” menjadi “something”, telah membangunkan kesadaran banyak orang. Bahwa memang benar dalam hidup manusia, tidak ada sesuatu yang mustahil. Selama masih ada kemauan, di sana masih ada peluang keberhasilan.

Sangat dipahami apabila Surya Paloh cukup tersinggung dengan manuver Hary Tanoe di Nasdem. Bahkan kalau mau lebih provokatif, bisa diterima bila Surya merasa sangat tersengat dengan keinginan Hary menjadi orang nomor satu di Partai Nasdem.

Sekalipun tidak diucapkan, tetapi kesediaan Surya menerima atau menampung Hary Tanoe di Partai Nasdem, tidak dalam arti untuk memberi panggung kepada bos RCTI itu menjadi orang nomor satu di Nasdem.

Surya butuh Hary. Tetapi itu tidak berarti, Surya-lah yang sangat membutuhkan. Sebab tanpa Hary, Surya tetap akan bisa berpolitik dan menjalankan Nasdem. Surya butuh Hary dalam rangka sebuah sinerji, di antaranya menghadapi kekuatan Partai Demokrat plus SBY dan loyalisnya. Kebetulan Surya dan Hary yang sudah pecah kongsi dengan Presiden, pernah menjadi “darling”-nya SBY.

Surya menerima Hary di Nasdem dilandasi oleh pemikiran konstruktif bahwa Hary bergabung untuk membangun dan memperkuat pesatuan di Nasdem. Bukan dengan agenda lain. Sementara Surya menyerahkan jabatan Ketua Umum Partai Nasdem kepada Rio Capelle, tidak berarti penyerahan itu sudah dengan harga mati dan totalitas. Surya pasti berpikir bahwa Hary Tanoe, sebagai sahabat baik dari iparnya, pasti tidak akan datang dengan agenda untuk menggesernya.

Tetapi begitulah manusia. Seperti pepatah tua yang mengatakan bahwa dalam politik, tidak ada sahabat dan musuh yang abadi. Yang abadi hanya kepentingan. Demikianlah persoalan yang terjadi dalam persaingan Surya dan Hary.

Sewaktu Surya dan Hary berada di kubu berseberangan dengan Presiden SBY, keduanya masih memiliki kepentingan yang sama. Tetapi begitu Hary berniat menjadi orang nomor satu di Partai Nasdem, kepentingan mereka berdua sudah berbeda.

Boleh jadi Hary Tanoe tergoda dengan daya tarik jabatan Ketua Umum partai politik, sebab selama 10 tahun terakhir ini, hampir semua cita-citanya berhasil ia wujudkan. Semua kendala ia singkirkan dengan mudah.

Atau mungkin juga Hary Tanoe terlanjur percaya diri. Demikian besar rasa percaya dirinya, sehingga Hary tidak melihat lagi Surya sebagai sosok yang harus dia tenmpatkan pada posisi yang semestinya, pendiri Nasdem. Mungkin saja, besarnya kekayaan materi, aset dan perusahaan Hary, telah mengubah cara pandangnya terhadap Surya.

Hary mungkin sudah mensejajarkan Surya dengan salah seorang Presiden Direktur dari salah satu anak perusahaan MNC Group. Sebab diakui atau tidak, kewenangan Hary di semua perusahaannya, serba tak terbatas. Tak ada yang bisa mengatakan “tidak” kepada Hary. Bahkan Hary bisa mempekerjakan siapa saja yang dianggap bisa dikendalikannya.

Keberhasilan Hary di dunia bisnis, ibarat keberhasilan seorang juara di sebuah cabang olahraga. Dalam pertandingan olahraga yang menggunakan sistem gugur, Hary telah berubah menjadi seorang pendatang baru yang mampu menyingkirkan lawan-lawanya di babak penyisihan secara mudah.

Hary sudah pernah mengalahkan Mbak Tutut dalam “pertandingan” memperebutkan stasiun TV, TPI. Hary, berhasil bebas dari kasus Sisminbakum dan NCD (Negotiable Certificate Deposit) bodong.

Hary yang tidak pernah dikenal sebagai pengusaha besar, tiba-tiba sudah menjadi pemilik baru dari semua bisnis yang dikuasai oleh Bimantara. Hary berhasil menenggelamkan kharisma Bambang Trihatmodjo, pendiri Bimantara, termasuk Anthony Salim, sahabat Bambang. Kesuksesannya di dunia bisnis telah melambungkan namanya tercatat sebagai salah seorang manusia terkaya di Indonesia.

Sesungguhnya sinerji Surya dan Hary di Partai Nasdem, sangat baik. Kalau saja Hary mau memahami obsesi, visi dan perspektif Surya Paloh tentang politik dan bisnis, keretakan di antara mereka tidak perlu terjadi.

Bagi Surya, dengan usianya yang sudah tidak muda, Pemilu 2014 boleh dibilang merupakan panggung politiknya yang paling akhir. Sedangkan Hary yang belum berusia setengah abad semestinya bersabar sedikit, jangan mempercepat perputaran jarum jam seperti berputarnya jarum detik.

Hary harus sadar akan plus minusnya di Partai Nasdem. Di luar Nasdem, Hary akan lebih sulit serta terbebani dengan berbagai liability. [mdr]

Rekomendasi Untuk Anda


  • BBM, Hanya Seram di Atas Kertas

    BBM, Hanya Seram di Atas Kertas

  • Wenger Pertanyakan Dua Gol Chelsea

    Wenger Pertanyakan Dua Gol Chelsea