Nasional | Politisi Nasdem: Kita Pantas Khawatir Perkembangan Ekonomi Indonesia

Politisi Nasdem: Kita Pantas Khawatir Perkembangan Ekonomi Indonesia
Jum’at, 08 Maret 2013 , 18:14:00 WIB

Laporan: Firardy Rozy

ILUSTRASI

  

RMOL. Neraca perdagangan Indonesia pada tahun 2012 defisit sebesar 1,7 miliar dolar AS, berasal dari defisit migas sebesar 5,6 miliar dolar AS ditutupi surplus non migas sebesar 3,9 miliar dolar AS. Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan defisit neraca perdagangan masih berlanjut hingga tahun ini, dengan defisit bulan Januari 2013 tercatat sebesar 171 juta dolar AS.

“Kita sudah sepantasnya khawatir atas perkembangan perekonomian Indonesia belakangan ini, terutama dalam bidang perdagangan,” ujar Ketua DPP Partai Nasdem Bidang Ekonomi dan Moneter, Anthony Budiawan, dalam diskusi bertema ‘Defisit Neraca Perdagangan Mengkhawatirkan: Tanda Deindustrialisasi’ di kantor DPP Partai Nasdem, Jakarta, Jumat (8/3).

Lebih lanjut dia menjelaskan, dalam menyikapi defisit  terlihat jelas bahwa semua pihak mencoba untuk melepas tanggung jawabnya masing-masing. Oleh karena itu, sektor migas dijadikan kambing hitam sebagai penyebab defisit karena membukukan defisit yang cukup besar sepanjang tahun 2012.

“Karena sektor non-migas masih membukukan surplus sebesar 3,9 miliar dolar AS pada tahun yang sama, maka sektor ini dianggap aman dan tidak pernah dibicarakan dalam perbincangan atau defisit neraca perdangan,” tuturnya.

Dalam kerangka berpikir seperti ini, menurut Anthony, seolah-olah permasalahan neraca perdagangan hanya terletak pada sektor migas saja. Hal itu dapat dilihat dari berbagai solusi untuk mengatasi permasalahan defisit neraca perdagangan.

“Misalnya diusulkan untuk segera konversi penggunaan BBM ke gas, atau usulan untuk menaikan harga BBM bersubsidi untuk mengurangi konsumsi BBM,” terangnya.

Padahal menurut Anthony, seharusnya pemerintah tidak merencanakan untuk menaikan harga BBM karena harga yang sekarang sudah cukup menguntungkan pemerintah. Jadi tidak mungkin defisit.

Dia juga mengkritik rencana pemerintah menaikan harga gas 12 kg karena dinilai hanya akal-akalan saja.

“Menurut pengamatan saya gasnya itu masih gas Indonesia jadi tidak perlu naik,” katanya. [dem]