Nasional | Politisi Diminta tidak Lakukan Politik Pencitraan

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR — Maraknya politik pencitraan yang dilakukan politisi Indonesia membuat Ketua Umum PP Muslimat NU, Khofifah Indar Parawansa gusar.

“Padahal untuk membangun bangsa dibutuhkan kejujuran,” kata Khofifah dalam acara Focus Group Disccusion ‘Jadilah Pemilih Pemula Yang Cerdas’ yang diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) di Bogor, Jabar, Kamis (14/2).

Seharusnya, lanjut dia, politisi melakukan politik produktivitas dan bekerja keras untuk membangun masyarakat yang adil dan sejahtera. Bukan menjelek-jelekan pihak lain agar dirinya terlihat lebih baik.

“Sekarang keadaannya begini. Orang itu akan lebih baik jika ada orang buruknya terbuka,” jelas mantan Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) ini.

Dikatakan Khofifah, media massa terutama televisi mempunyai pengaruh yang luar biasa terhadap pendapat di masyarakat, sehingga bisa membentuk opini yang ada.

Mantan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan ini mencontohkan seseorang yang tidak biasa melakukan aktivitas keagamaan, tetapi tiba-tiba melakukannya dan disorot televisi, maka akan timbul rasa simpati masyarakat.

Untuk itu mantan Wakil Ketua DPR RI itu berharap media bisa memberikan pencerahan kepada masyarakat tentang proses demokrasi. “Televisi mampu menciptakan opini publik yang kuat sekali,” seloroh wanita 47 tahun ini.

Lebih jauh Khofifah menyadari keadaan saat ini memang seperti ini dan kita harus bisa menerima kenyataan ini. Namun, kata dia, kita harus berani melakukan kebaikan tanpa menjelek-jelekkan orang lain.a