Nasional | Pengamat: Parpol Rawat Konstituennya Hanya Jelang Pemilu

REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG — Pengamat politik Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Eric Hiariej menilai kecenderungan kalangan partai politik di Indonesia hanya merawat konstituennya setiap lima tahun sekali.

“Kebanyakan parpol kan merawat konstituennya hanya setiap lima tahun sekali, menjelang pemilu. Bagaimana parpol bisa kuat,” katanya usai seminar “Pendidikan Politik Berwawasan Kebangsaan” di Semarang, Kamis (28/2).

Bahkan, kata dia, langkah merawat konstituennya pun terkadang ditempuh parpol menggunakan uang (politik uang) sehingga jangan mengharapkan parpol akan memiliki konstituen yang kuat dan solid.

Menurutnya, parpol seharusnya menjaga kesolidan dan kekuatan dengan merawat konstituennya secara berkelanjutan, bukan hanya menjelang pemilu demi mendulang perolehan suara yang besar dalam pesta demokrasi.

“Kalau seperti ini, hanya lima tahun sekali merawat konstituennya, ketika ada pihak lain yang datang untuk merawat ya dengan gampang konstituen pindah dan gampang membuat parpol yang baru,” katanya.

Kesolidan parpol, kata dia, dipengaruhi pula oleh perlakuan yang diberikan terhadap konstituennya yang kalah dalam persaingan, yakni dengan tetap merangkul agar tidak kemudian membuat parpol baru.

Ia mencontohkan Partai Golkar yang dulunya dikenal sebagai partai besar saat ini memiliki banyak ‘cabang’, seperti Partai Demokrat, Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura), dan Partai Nasional Demokrat.

“Untuk itu, partai besar harus memperhatikan bagaimana memperlakukan orang-orang yang ‘kalah’ untuk menjaga kesolidan parpol,” kata pengajar Jurusan Hubungan Internasional FISIP UGM Yogyakarta tersebut.

Eric juga menyoroti kemungkinan golongan putih (golput) yang meningkat karena pandangan apatis terhadap parpol, sebab masyarakat merasa tidak ada gunanya mereka menggunakan hak suara untuk memilih wakil rakyat.

“Dulu, golput menjadi pilihan yang sangat ideologis dengan konsekuensi yang serius. Namun, sekarang sepertinya cenderung memilih golput karena apatis. Ini harus menjadi perhatian kalangan parpol,” kata Eric.

Politikus senior Akbar Tandjung yang juga menjadi pembicara pada seminar yang diprakarsai Universitas Negeri Semarang (Unnes) itu mengatakan idealnya tidak terlalu banyak parpol dalam pemilu.

“Jumlah parpol yang sederhana akan menjamin efektivitas politik. Idealnya ya hanya 5-6 parpol saja yang ikut pemilu. Namun, sudah cukup baik kalau pada Pemilu 2014 mendatang hanya diikuti 10 parpol,” katanya mengakhiri