Nasional | Nazaruddin Tutup Mulut Soal Kasus Simulator

Terdakwa kasus suap M. Nazaruddin di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta

Terdakwa kasus suap M. Nazaruddin di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta (sumber: Afriadi Hikmal/JAKARTA GLOBE )

Sambil tersenyum, terdakwa kasus suap wisma atlet ini, berlalu menuju mobil tahanan Komisi Pemberantasan Korupsi ketika ditanyakan kaitan dirinya dengan kasus simulator.

Jakarta – Usai menjalani pemeriksaan sebagai saksi dalam kasus dugaan tindak pidana korupsi dan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) dalam proyek pengadaan alat simulator uji Surat Izin Mengemudi (SIM) kendaraan bermotor roda dua dan empat, Eks Bendahara Umum DPP Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin enggan berkomentar seputar pemeriksaannya.

Sambil tersenyum, terdakwa kasus suap wisma atlet ini, berlalu menuju mobil tahanan Komisi Pemberantasan Korupsi ketika ditanyakan kaitan dirinya dengan kasus simulator.

Sebaliknya, Nazaruddin lebih memilih berkomentar seputar kasus dugaan korupsi pembangunan Pusat Pendidikan Pelatihan dan Sekolah Olahraga Nasional (P3SON) di Hambalang, Jawa Barat.

“Soal Monas saja, semoga segera pak Jokowi menyiapkan kepala dinas agama. Persiapan, nanti kalau ada yang menyiapkan tali di situ ada yang mendoakan,” ujar Nazaruddin.

Bahkan, Nazaruddin menegaskan bahwa sudah terbukti bahwa Ketua Umum DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum terlibat dalam kasus Hambalang.

Seperti diketahui, KPK memang menjadwalkan pemeriksaan terhadap Nazaruddin terkait kasus korupsi dan TPPU yang telah menjerat eks Kepala Korlantas Mabes Polri, Irjen Pol Djoko Susilo.

Tetapi, belum diketahui peran Nazaruddin dalam kasus korupsi yang dilansir merugikan keuangan negara sebesar Rp 100 miliar tersebut.

Menurut informasi, perusahaan Nazaruddin mengikuti tender pengadaan alat simulator pada tahun 2011. Tetapi sayangnya, perusahaan milik Nazaruddin kalah. Sebab, yang memenangkan tender adalah PT Citra Mandiri Metalindo Abadi milik Budi Susanto.

Tetapi, perusahaan milik Nazaruddin diduga mendapatkan tender proyek pengadaan alat simulator tahun 2010, yang sayangnya tidak didalami oleh KPK.

Untuk diketahui, ada lima perusahaan yang  mengikuti tender proyek senilai Rp 196,8 miliar tersebut, yakni PT Bentina Agung, PT Digo Mitra Slogan, PT Dasma Pertiwi, PT Kolam Intan Prima, dan PT Citra Mandiri Metalindo Abadi. Dua dari lima perusahaan tersebut, yaitu PT Digo Mitra Slogan dan PT Kolam Intan Prima, diduga milik Nazaruddin.

Dalam kasus simulator, KPK telah menetapkan empat tersangka. Mereka adalah mantan Kakorlantas Irjen Djoko Susilo, Wakakorlantas Brigjen Didik Purnomo serta Direktur Utama PT Inovasi Teknologi Indonesia Sukotjo S Bambang dan Direktur Utama PT Citra Mandiri Metalindo Abadi Budi Susanto juga turut ditetapkan sebagai tersangka.

Lebih lanjut, dalam pengembangannya, KPK juga menetapkan Djoko Susilo sebagai tersangka dalam kasus TPPU terkait pengadaan simulator.

Sumber:Suara Pembaruan