Nasional | Langkah Rustriningsih Setelah Gagal Dapat Rekomendasi PDIP



Semarang – Setelah rekomendasi calon gubernur dari PDIP diberikan kepada Ganjar Pranowo, Rustriningsih sampai sekarang belum memutuskan bertahan atau tetap di PDIP. Lalu apa langkah Rustri selanjutnya?

Menurut Rustri, saat ini ia sedang melakukan evaluasi atas peristiwa-peristiwa politik yang melingkupinya dan pengabdiannya kepada PDIP selama 27 tahun.

“Saya di PDIP 27 tahun. Evaluasi keberadaan saya apakah bermanfaat buat PDIP. Demikian pula jika saya memutuskan mundur, apakah keputusan itu berdampak baik bagi saya. Karenanya butuh waktu untuk mengevaluasi diri,” kata Rustri saat ditemui di rumah dinasnya, Jl Rinjani nomor 1 Semarang, Jumat (8/3/2013).

Rustriningsih kemudian bercerita mengenai karier politiknya. Dimulai dari perlawanan kepada rezim Soeharto yang mencoba mematikan karier politik Megawati. Saat itu ia menjadi ikon perlawanan di daerah Kebumen, Banyumas dan meluas hingga Jawa Tengah. Seiring dengan kemenangan gerakan perlawanan itu, namanya mencuat secara nasional.

“Saya masih ingat, bagaimana ibu Megawati, dulu kami menyebutnya Mbak Mega, memerintahkan agar kami melakukan gerakan penggembosan terhadap PDIP. Ketika sukses, maka PDI kemudian berganti nama menjadi PDI Perjuangan,” kata Rustri.

Setelah dua periode menjabat sebagai Bupati Kebumen, ia menapaki karier politiknya sebagai Wakil Gubernur. Sayang di posisinya itu, ia justru ‘tenggelam’. Hubungan yang awalnya harmonis dengan Gubernur Jateng, Bibit Waluyo kelamaan merenggang, Rustri seperti dibonsai.

Di tengah situasi sulit ini, Rustri kemudian menyibukkan diri dengan riset produk-produk agro dan menciptakan laboratorium hidup pertanian di beberapa tempat.

“Di Kebumen, saya menyewa tanah seluas dua hektar. Saya bekerja sama dengan beberapa peneliti dari berbagai perguruan tingggi. Tanah itu lalu saya tanami singkong, namun dengan perlakuan berbeda. Hasilnya, luar biasa. Biasanya tiap hektar menghasilkan maksimal 20 ton, ini mampu menghasilkan 120 ton,” beber Rustri.

Yang dimaksud perlakuan berbeda adalah soal pengolahan tanah, kedalaman mencangkul, pemilihan pupuk organik, hingga perlakuan khusus terhadap bibit singkong yang hendak ditanam.

Selain itu, ia juga bekerjasama dengan teman-temannya menanam Jati. Tentu saja berdasar riset ilmiah. Hasilnya, dalam tempo 10 bulan, tanaman jati miliknya sudah mencapai tinggi sampai 12 meter dan sangat lurus serta tak banyak cabang.

“Dari pengalaman itu, saya berpikir akan memilih kegiatan pemberdayaan masyarakat dengan cara saya. Yang perlu dicatat, semua riset tak ada satupun yang didanai APBD atau APBN. Ke depan saya juga tidak akan mengakses APBD atau APBN dalam program pemberdayaan ini,” tambahnya.

Niat terjun dalam bidang pemberdayaan ini, dipicu banyaknya SMS dan telepon yang masuk setelah ia tidak mendapatkan rekomendasi dari PDIP untuk maju di Pilgub 2013. Selain itu, ada pula yang datang langsung.

“Ada yang telepon nangis-nangis, ada juga seorang kepala desa yang sampai sakit demam mendengar berita itu, bahkan ada satu mobil dari teman-teman difabel datang,” pungkas Rustri.

“Jaringan ini tidak main-main. Mereka bukan hanya kader PDIP namun massa yang cair. Jadi jaringan ini harus dirawat, cara merawat paling efisien adalah dengan pemberdayaan,” imbuhnya.

Ketika berbincang itu, tiba-tiba ada telepon dari seorang tokoh perempuan sepuh. Dalam perbincangan itu, sang tokoh mendoakan agar Rustri tetap memperhatikan masyarakat.

“Tolong nama pengusaha nasional ini dirahasiakan ya, tadi sudah dengar sendiri. Telepon atau sms yang senada, sangatlah banyak,” tambahnya.

Mengenai pinangan dari partai lain Rustri menyebutkan bahwa tidak etis jika dirinya berbicara tentang partai lain, sementara ia masih menjadi kader PDIP. Begitu pula dengan Rustri akan menempati daerah pemilihan Ganjar Pranowo di Jawa Tengah dan diberi nomor urut 1 persis seperti nomor Ganjar Pranowo.

“Mengenai isu ditarik ke legislatif, saya pikir itu belum bisa saya sikapi. Semua masuk dalam evaluasi diri” tandasnya.

Tekadnya untuk menempuh jalur pemberdayaan masyarakat sudah bulat. Menurutnya dengan kerja riil, diharapkan bisa menginspirasi masyarakat.

“Saya sedang berpikir untuk merawat jaringan itu, saya tak akan mendirikan ormas. Memangnya Rustriningsih itu siapa kok mendirikan ormas? Tapi saya masih pengin bisa kumpul-kumpul dan diskusi dengan mereka. Masyarakat yang mendukung saya.” tutup Rustri.

(alg/mok)