Nasional | KUNJUNGAN SBY, SBY Benar-benar Boros dan Melupakan Persoalan dalam NegeriKUNJUNGAN SBY, SBY Benar-benar Boros dan Melupakan Persoalan dalam Negeri, Hampir Setiap Dua Bulan, SBY ke Luar Negeri

KUNJUNGAN SBY
SBY Benar-benar Boros dan Melupakan Persoalan dalam Negeri
Hampir Setiap Dua Bulan, SBY ke Luar Negeri
Kamis, 07 Maret 2013 , 12:33:00 WIB

Laporan: Yayan Sopyani Al Hadi

FADLI ZON/IST

  

RMOL. Selain promosi wisata SBY ke Jerman dan Hongaria akan sia-sia karena Eropa masih dilanda krisis dengan tingkat pengangguran yang tinggi sejak Perang Dunia II, kunjungan ini juga kurang strategis dan memboroskan anggaran.

“Di era SBY, anggaran kunjungan luar negeri terbesar dibanding anggaran presiden sebelumnya. Termasuk era Presiden Abdurrahman Wahid maupun Megawati Soekarnoputri,” kata Wakil Ketua Umum Gerindra, Fadli Zon, kepada Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Kamis, 7/3).

Fadli mencatat, total alokasi keseluruhan perjalanan dinas para pejabat negara dari APBN per tahun mencapai lebih dari Rp 21 triliun rupiah. Tentu saja angka ini sangat besar di tengah banyak masalah lain yang lebih prioritas.

Karena itu, saran Fadli, SBY harus selektif dan harus membatasi kunjungan luar negerinya. Apalagi, seperti bulan lalu, SBY pergi ke Nigeria, padahal neraca perdagangan dengan Nigeria grafiknya flat sejak 15 tahun terakhir. Akhir 2012 juga SBY berkunjung ke Inggris.

“Hampir setiap dua bulan, Presiden ke luar negeri. Kapan bisa fokus urus dalam negeri? Seharusnya SBY datang ke Papua ketika delapan prajurit dan empat sipil tewas beberapa waktu lalu,” tegas Fadli.

Lebih baik, saran Fadli selanjutnya, di akhir periode ini, SBY fokus pada urusan dalam negeri. Sebab masih banyak masalah yang perlu dibenahi. Sementara kunjungan luar negeri lebih banyak sekedar seremonial dan pencitraan.

“Blusukan di dalam negeri harus lebih diperbanyak agar ada perhatian pada rakyat secara langsung. Dan Partai Gerindra kini satu-satunya partai yang melarang kunjungan studi banding bagi anggota DPR RI dan DPRD. Karena itu hanya pemborosan anggaran,” demikian Fadli. [ysa]