Nasional | Kasus Peluru Nyasar di Makassar Banyak Kejanggalan

Logo Kepolisian Republik Indonesia.

Jakarta – Keluarga Fatir Muhammad, bayi 14 bulan yang tewas terkena peluru nyasar di Mamajang, Sulawesi Selatan meminta kasus yang menimpa bungsu dari tiga bersaudara itu segera diungkap.

Kasus yang terjadi 1 Februari lalu itu hingga kini masih jalan ditempat. Pihak Polsek Mamajang yang menangani kasus ini belum terlihat melakukan penyelidikan.

“Tujuan saya ke Jakarta ingin meminta didampingi oleh kepada Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) agar kasus ini segera terungkap. Banyak kasus peluru nyasar yang tidak terungkap. Saya berharap polisi membuktikan kasus semacam ini bisa terungkap,” kata Vicar Munandar, di Jakarta, Rabu (13/3).

Menurut Vicar, kepolisian sejauh ini terkesan tidak serius dan hanya meminta keterangan dari warga saja tanpa penyelidikan lebih jauh. Dia khawatir, lamban laun kasus ini akan kadaluarsa.

“Setiap kami tanya, polisi selalu bilang masih dalam pemeriksaan. Lalu polisi bilang kasus peluru nyasar ini lama untuk diungkap. Bisa sampai 14 tahun katanya. Itu yang membuat kami tidak percaya. Terlalu lama. Kalau tidak terkena peluru dia sudah dewasa saat itu,” kata Vicar.

Vicar mengungkapkan berbagai kejanggalan terkait penanganan kasus ini. Kepada keluarga, kepolisian menyatakan, hasil forensik 6 Februari lalu bersifat rahasia dalam rangka pengembangan. Namun, beberapa media justru mengetahui hasil forensik yang menyebutkan peluru yang bersarang di otak kecil sebelah kanan Fatir berkaliber 30 dari senjata api pabrikan bukan rakitan.

“Kenapa media dan wartawan tahu itu kaliber 30. Padahal, keluarga tidak diberitahu karena kata polisi itu rahasia,” katanya.

Keganjilan berikutnya, saat pihak keluarga dilarang kepolisian mengadukan kasus ini ke lembaga bantuan hukum (LBH) setempat. “Alasannya sudah ditangani kepolisian, ngapain lapor lagi ke LBH,” tambah Vicar.

Pihak keluarga tak ingin menuduh pihak tertentu yang harus bertanggung jawab dalam peristiwa ini. Namun, ibu korban bernama Nur Hikmah berharap tidak ada yang ditutupi.

Fathir, terkena peluru nyasar pada Jumat (1/2) lalu. Saat itu, sang ibu, Nur Hikmah yang sedang bermain dengan Fathir dan dua kakaknya, Putra (2) dan Fadel (4), di atas tempat tidur rumah mereka Jalan Baji Gau Raya, Nomor 3F Mamajang, Makassar, Sulawesi Selatan, mendengar bunyi letusan keras.

Nur yang semula berfikir letusan berasa dari lampu, mendadak panik saat melihat Fathir mendadak tertunduk. Dari kepalanya mengucur darah segar.

Bayi malang itu kemudian dibawa ke rumah sakit. Keterbatasan peralatan membuat Fathir harus berpindah ke beberapa rumah sakit. Fathir mulanya dibawa ke Rumah Sakit Haji yang gagal mengangkat proyektil yang bersarang di kepala korban.

Rumah sakit ini kemudian merujuk Fathir ke RS Bhayangkara yang kembali merujuk Fathin ke RS Wahidin Sudirohusodo. Namun, usai proyektil diangkat, kondisinya semakin menurun dan Fathir menghembuskan nafas terakhirnya pada Senin (18/2).

Setelah terkena peluru nyasar, pihak keluarga sebenarnya langsung melapor ke polisi setempat. Namun, entah apa yang terjadi pembuatan berita acara pemeriksaan baru dilakukan pada 4 Februari.