Nasional | Indonesia Butuh Pemimpin Seperti Chavez

Presiden Hugo Chavez tampil dihadapan pendukungknya saat memenangkan Pemilu Presiden di Caraca, Venezuela. FOTO: AFP PHOTO/JUAN BARRETO

Jakarta – Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon mengatakan bahwa Indonesia membutuhkan sosok seperti mendiang Presiden Venezuela Huga Chavez, dalam memimpin bangsa. Chavez amat berani mengambil risiko dalam membela hak rakyat miskin. Juga sangat jujur dan berani bertindak untuk menjaga kepentingan nasional tanpa ketakutan atas bayang-bayang kepentingan asing.

“Itulah pemimpin. Ia berani mengambil risiko atas setiap kebijakan dan tindakannya,” kata Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon, menanggapi kabar wafatnya Hugo Chavez di Jakarta, Rabu (6/3).

Chavez, lanjut Fadli, adalah pembela rakyat miskin di Venezuela, sekaligus pelopor demokrasi sosialis dan integrasi Amerika Latin. Ia sangat dicintai rakyatnya karena secara lantang berani meneriakkan anti-imperialisme dan mengkritik keras globalisasi neoliberasi serta kebijakan luar negeri Amerika Serikat di era Presiden Goerge W Bush.

“Itulah mengapa pihak Barat tak menyukainya,” sambung Fadli.

Meski begitu, Chavez begitu dicintai oleh seluruh rakyat Venezuela. Buktinya saat 2002 silam, di mana Chavez hendak dikudeta oleh pihak militer Venezuela, ia langsung dibela oleh seluruh rakyatnya.

“Ribuan rakyat langsung berunjuk rasa agar Chavez tetap dikukuhkan menjadi presiden. Dan, atas dukungan rakyat, kudeta itupun akhirnya gagal. Itu wujud cintanya rakyat kepada pemimpinnya,” ujar Fadli.

“Selamat jalan Hugo Chavez dalam peristirahatan yang damai dan abadi. Legacy-mu menjadi teladan bagi sebagian orang yang mencintai kemerdekaan,” paparnya.

Untuk diketahui, Jenazah Presiden Venezuela, Hugo Chavez, akan dimakamkan pada Jumat (8/3) waktu setempat. Menteri Luar Negeri (Menlu) Venezuela, Elias Jaua mengungkapkan bahwa pemakaman itu merupakan acara publik (terbuka), dengan undangan khusus tamu-tamu penting dari seantero Amerika Selatan.

Untuk persemayaman, Jaua menyatakan bahwa rencananya jenazah Chavez yang wafat lantaran penyakit kanker tersebut, akan dipindahkan dari rumah sakit ke sebuah akademi militer, pada Rabu (6/3) waktu setempat.

Lebih jauh, Jaua juga mengumumkan secara resmi bahwa Venezuela akan menjalani tujuh hari berkabung terkait kematian pemimpinnya tersebut.