Nasional | Benarkah Jakarta Banjir Besar pada 27 Januari?

Benarkah Jakarta Banjir Besar pada 27 Januari?

Aktivitas warga Pluit di tengah kepungan Banjir yang empat hari telah menggenangi kawasan mewah Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara, Ahad (20/1).

, JAKARTA — Adanya isu banjir besar yang akan terjadi pada Ahad (27/1) menyebabkan keresahan di masyarakat. Isu banjir besar santer merebak di pesan singkat, seperti Blackberry Messanger.

Menghadapi pesan tersebut, masyarakat diimbau tidak cemas. Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho mengatakan memang pada (27/1) air laut pasang mulai pukul 05.00 hingga mencapai puncak pada pukul 08.00 – 10.00 setinggi satu meter dari normalnya. Namun ini bukan pasang maksimum.

“Justru pada 24 dan 25 Januari terjadi pasang maksimum mencapai 1,1 meter,” ujar pria yang juga menjadi Profesor Hidrologi BPPT ini dalam siaran persnya, Jumat (25/1). Sementara pada 26 hingga 28 Januari 2013 pasang berkisar satu meter.

Dalam pesan berantai tersebut disebutkan air tidak akan dapat mengalir ke laut karena terhalang pasang air laut maksimum pada (27/1). Sementara itu hujan sangat lebat sehingga debit sungai meluap dan tidak dapat mengatus ke laut sehingga Jakarta tenggelam. “Akibatnya masyarakat resah, apalagi bagi masyarakat yang berdampak langsung terlanda banjir pada 15 Januari hingga sekarang,” ucap Sutopo.
 
Menurutnya, untuk terjadi banjir besar seperti Februari 2007 harus ada curah hujan berintensitas tinggi dan berdurasi lama. Banjir Jakarta 2007 disebabkan curah hujan yang ekstrem dan jauh di atas pola normalnya. Sebagai gambaran, kata Sutopo, pada 2 Februari 2007 hujan di Cileduk 340 milimeter perhari, di Kemayoran 235 milimeter perhari, dan di Pasar Minggu 220 milimeter perhari. Hujan juga merata di semua Daerah Aliran Sungai (DAS) dari 13 sistem sungai yang mengalir ke Jakarta.

Bandingkan dengan hujan yang terjadi 17 Januari 2013 yang menyebabkan banjir Jakarta tertinggi 125 milimeter perhari di Kedoya.

Sutopo mengatakan ditinjau dari durasi hujannya berlangsung selama lima hari secara terus menerus. Bahkan di Ciledug akumulasi hujan 29 Januari hingga 2 Februari sebanyak 521 milimeter.

“Ini melebihi rata-rata curah hujan sebulan di Jakarta yang berkisar 450 milimeter perbulan,” katanya. Begitu pula akumulasi hujan selama lima hari di Jakarta Pusat 354 milimeter, Jakarta Timur 333 milimeter, Jakarta Selatan 332 milimeter, dan Jakarta Utara 320 milimeter.

Fenoma hujan yang sangat ektrem tersebut dipengaruhi perambatan cold surge (seruak dingin) dari Siberia dan adanya siklon tropis di selatan Indonesia atau sebelah utara Teluk Carpentaria Australia. Kondisi demikian menyebabkan massa uap air berlimpah dan hujan yang jatuh di wilayah Jakarta dan sekitarnya di atas normal.
 
Saat itu bersamaan dengan pasang air laut sehingga banjir meluas. Luas Jakarta yang terendam banjir saat ini 231,8 kilometer persegi atau 36 persen dari luas DKI Jakarta. Pengungsi mencapai 320 ribu orang dan kerugian Rp 4,3 trilyun.
 
Saat ini, iklon tropis tidak ada di selatan Indonesia. Indeks cold surge di Hongkong juga tidak terdeteksi. “Jika ada, maka akan ada perambatan //cold surge// ke daerah selatan ekuator yang terjadi setelah empat hingga enam hari yang kemudian Pulau Jawa akan mengalami curah hujan besar,” ujar Sutopo.

Demikian pula indek Madden Julian Oscillation (MJO) yang negatif. MJO adalah sebuah osilasi berperiode 40 hingga 50 hari, yang dalam beberapa kasus bisa melebar menjadi 30 hingga 60 hari. Gugus awan konveksi diproduksi di atas Samudera Hindia (sebelah barat Indonesia) kemudian bergerak ke arah timur di sepanjang ekuator untuk menempuh satu siklus putar dengan periode 40 hingga 50 hari.

Sutopo berujar dengan tiga faktor iklim tersebut kecil peluangnya curah hujan ektrem terjadi di wilayah Jakarta dan sekitarnya seperti halnya curah hujan 2007 yang menyebabkan banjir besar di Jakarta. Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisika juga melaporkan bahwa selama 25 hingga 28 Januari, curah hujan yang jatuh di Jakarta dominan berintensitas rendah hingga sedang. “

Jadi, kecil peluangnya banjir besar akan terjadi pada 27 Januari 2013,” ucap Sutopo.  Jika pun terjadi banjir hanya pengaruh dari rob atau genangan saja. Masyarakat dihimbau untuk tetap waspada dan siap siaga terkait ancaman banjir. Sebab curah hujan tinggi masih berpotensi hingga Maret mendatang.