Kekalahan Yance, Warning Bagi Golkar

INDRAMAYU – Kekalahan Cagub DR H Irianto MS Syafiuddin (Yance) dalam Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat memang tak bisa dipungkiri. Apalagi kekalahan ini juga diikuti dengan penurunan dukungan dari masyarakat Indramayu, yaitu hanya sekitar 54 persen atau lebih rendah dibandingkan perolehan suara saat pemilihan Bupati Indramayu 2010 yang mencapai 62 persen.

Pengamat politik dari Universitas Wiralodra Indramayu, Drs Murip Yahya MPd mengatakan, kekalahan ini menjadi warning (peringatan) bagi Partai Golkar sebelum menghadapi Pemilu 2014 yang tinggal satu tahun lagi.

“Ini tentunya harus menjadi warning buat Partai Golkar agar tidak terus menerus terlena dengan dominasinya di Indramayu. Karena dinamika politik di Kota Mangga ternyata terus berkembang,” ujar Pembantu Rektor III Unwir ini, Selasa (26/2).

Ditanya tentang faktor penyebab kekalahan Yance pada Pilgub Jabar 2013, Murip menilai, kalau ada sejumlah faktor yang sangat berpengaruh. Menurutnya, faktor pertama adalah figur wakil yang digandeng Yance yaitu DR H Tatang Farhanul Hakim MPd.

Menurutnya, figur mantan Bupati Tasikmalaya ini tidak mampu mendongkrak perolehan suara pasangan Intan (Irianto-Tatang). Padahal digandengnya Tatang sebenarnya diharapkan mampu menambah perolehan suara, terutama dari wilayah Jawa Barat bagian selatan yang merupakan daerah asal Tatang.

“Pemilihan Tatang sebagai calon wakil gubernur juga terkesan dipaksakan dan kurang matang, karena saat itu memang waktunya sudah mendesak,” ujar Murip.

Faktor lain yang juga menjadi penyebab kekalahan Yance, ujar Murip, adalah figur artis yang menjadi pesaing Yance. Menurutnya, stigma yang mengatakan bahwa figur artis sudah tidak laku ternyata tidak terbukti. Karena masyarakat Jawa Barat ternyata masih banyak yang memilih figur artis.

Bahkan suara Ahmad Heryawan juga terangkat karena menggandeng Deddy Mizwar, artis yang setiap hari nongol di TV. Begitu juga dengan figur Rieke “Oneng” Pitaloka yang membuntuti di posisi kedua.

Selain faktor-faktor tersebut, Murip juga menilai, kalau instrumen politik Partai Golkar masih belum bekerja maksimal, terutama untuk wilayah Priangan. Padahal Yance sendiri selama ini sudah berupaya maksimal  dengan blusukan ke berbagai pelosok desa di Jawa Barat.

“Saya menghargai kinerja Pak Yance yang selama satu hingga dua tahun sudah blusukan ke berbagai pelosok Jawa Barat. Hanya saja instrumen politik memang banyak yang tidak maksimal, terutama untuk wilayah Priangan,” ujar Murip. (oet)