ICW: Pejabat Wajar Kunjungi Anas asal jangan Intervensi KPK

Metrotvnews.com, Jakarta: Sejumlah pejabat negara beberapa hari terakhir terlihat hadir ke rumah tersangka dugaan suap proyek Hambalang Anas Urbaningrum. Fenomena tersebut dianggap wajar oleh peneliti Indonesia Corruption Watch (ICW) Tama S Langkun.

Menurut Tama, kunjungan itu hanya wujud dukungan sebagai kolega dan sahabat. “Saya sih menganggap hal itu wajar saja. Yang penting orang-orang berpengaruh tersebut tidak mengganggu proses hukumnya. Tidak intervensi KPK, proses hukum tetap jalan sebagaimana mestinya,” kata Tama di Jakarta, Selasa (26/2).

Setelah menyatakan berhenti sebagai Ketua Umum Partai Demokrat, beberapa pejabat negara memberikan dukungan moral kepada Anas dengan bertamu ke rumahnya. Sebut saja Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso. Priyo yang merupakan alumni Himpunan Mahasiswa Islam itu menegaskan kedatangannya ke rumah Anas untuk memberikan dukungan moral.

Selain Priyo, anggota DPR RI dari Partai Golkar Ade Komarudin dan Anggota DPR dari PAN Viva Yoga Mauladi juga tampak mengunjungi Anas. Viva Yoga yang saat ini sama-sama duduk sebagai anggota Presidium Majelis Nasional KAHMI menyampaikan banyak tukar pandangan terkait politik Indonesia.

Bahkan, Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD ikut mendatangi rumah Anas setelah pria yang sempat sesumbar minta digantung di Monas itu menyatakan berhenti sebagai Ketua Umum Partai Demokrat. Mahfud datang ke rumah Anas dengan membahasakan dirinya sebagai Ketua (Koordinator Presidium) KAHMI (Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam).

Dalam kedatangannya itu Mahfud sempat mengeluarkan pernyataan status Anas sebagai tersangka berindikasi adanya muatan politis bukan sekedar aspek hukum. Mahfud menyatakan KAHMI akan membantu Anas dalam mendapatkan keadilan hukumnya. Akbar Tandjung, Mahfud MD, Hary Tanoesoedibjo dan Yoris Raweyai juga berkunjung ke rumah Anas.

Tama mengatakan meskipun masing-masing tokoh tersebut bukanlah pribadi-pribadi yang berdiri sendiri tetapi ada status politik dan status jabatan yang dibawanya. Namun dukungan tersebut lebih sebagai sahabat.

“Biasa ketika seseorang mengunjungi kerabatnya, kolega. Yang pasti, apapun itu tidak mengganggu proses hukum di KPK,” pungkas Tama. (Akhmad Mustain/Nav)