Hary Tanoe Terjebak Gelar ‘Pakar Semu’

Hary Tanoe Terjebak Gelar ‘Pakar Semu’

Headline

Hary Tanoesoedibjo – Inilah.com/Ardhy Fernando

inilah.com, Jakarta – Keputusan Hary Tanoe mengundurkan diri dari Partai Nasdem direspons sebagai sebuah kejadian yang cukup mengejutkan. Namun yang jauh lebih mengejutkan sebetulnya justru keputusan Hary Tanoe ketika menerima jabatan Ketua Dewan Pakar di partai yang didirikan Surya Paloh tersebut.

Mengejutkan sebab kredibilitas kepakaran Hary Tanoe di dunia politik belum teruji sama sekali. Sejauh yang diketahui oleh banyak kalangan, Hary adalah seorang pakar bisnis. Andaikata Surya Paloh yang mendapat gelar 'pakar' di Nasdem, publik mungkin masih lebih banyak yang manggut-manggut. Sebab Surya Paloh memang seorang pengusaha yang menggabungkan kegiatan berbisnis dan berpolitik.

Sementara Hary Tanoe baru dikenal banyak melakukan berbagai rekayasa bisnis dan bukan rekayasa politik. Dalam dunia bisnis, Hary wajar bahkan sangat pantas digelari seorang pakar. Ia ahli dalam melakukan berbagai rekayasa bisnis. Dan hasil rekayasanya itu, sudah banyak memberi bukti. Tanpa kepakarannya dalam dunia bisnis, tidak mungkin Hary mengalahkan Mbak Tutut, puteri mendiang Presiden RI yang kedua, dalam sengketa mereka di kepemilikan stasiun TV, TPI.

Juga memang sudah terbukti dalam waktu yang relatif singkat, kurang dari satu dekade, Hary Tanoe sudah bisa mensejajarkan diri dengan Anthony Salim. Putera konglomerat almarhum Liem Sioe Liong ini diisukan menolong Hary Tanoe sehingga bisa menguasai Bimantara Group sehingga menjadi salah seorang yang masuk dalam daftar orang terkaya di Indonesia.

Pertanyaan tentang akuntabilitas dan kredibilitas kepakaran Hary Tanoe dalam politik, sempat menjadi bahan candaan atau diskusi tidak serius di kalangan komunitas wartawan. Sebab para wartawan ada juga yang bangga melihat Hary Tanoe punya gelar baru.

Maklum selama ini belum pernah terjadi, ada bos wartawan, seorang pemilik atau pemimpin media, tiba-tiba mendapat gelar 'pakar' dalam sebuah ormas dan partai politik.

Jakob Oetama, pendiri harian Kompas, media terbesar konglomerasinya di Indonesia, belum pernah dijuluki sebagai seorang pakar. Padahal Jakob Oetama selain dikenal sebagai orang ahli media, ia juga sudah pernah terjun dalam politik.

Jakob pernah direkrut oleh pemerintah Orde Baru untuk menjadi Anggota DPR dan MPR-RI. Kendati begitu wartawan senior yang tahun ini berusia 82 tahun, belum pernah memperoleh gelar 'pakar'.

Padahal lewat media yang dia bangun dan ia besarkan, Jakob Oetama juga sudah mencetak sejumlah anak buahnya untuk menjadi tokoh dan figur publik. Kepakarannya sudah terbukti. Tercatat dua wartawan didikan Jakob Oetama yang menjadi anggota DPR-RI yaitu Ansel Da Lopez dan Bosco Beding (almarhum).

Kemudian Manuel Manuel Kaisiepo, wartawan lainnya yang menjadi Menteri Daerah Tertinggal di era pemerintahan Gus Dur dan Megawati. Dan yang terbaru, August Parengkuan, wartawan seniornya dipilih Presden SBY menjadi Dubes RI untuk Italia sejak pertengahan 2012 lalu.

Satu-satunya kehormatan yang diterima Jakob Oetama yang bermakna pengakuan atas kepakarannya, ketika Jakob Oetama menerima gelar Doktor Kehormatan dari Universitas Gajah Mada.

Ketika gelar pakar diberikan kepada Hary Tanoe setahun silam, kejadian itu lebih dilihat sebagai sebuah peristiwa internal Nasdem. Maka tak ada yang bereaksi, mengkritisi atau mempersoalkannya.

Sesuai catatan yang ada, istilah 'Dewan Pakar' menjadi sangat terkenal dalam kamus politik Indonesia, ketika di 1990-an berdiri Ikatan Cendekiawan Muslim Indoneia (ICMI). Ormas Islam ini dalam waktu singkat berhasil menarik dan menampung ribuan bahkan mungkin jutaan anak bangsa yang memiliki berbagai gelar akademi. Selain itu ikut direkrut mereka yang sangat berpengalaman di berbagai bidang sesuai kepakaran atau keahlian masing-masing.

Dengan latar belakang tersebut, ICMI kemudian membentuk struktur organisasi yang menampung semua anggota yang dianggap pakar atau benar-benar ahli. Inilah yang mungkin membedakan gelar pakar yang ada di ICMI dan gelar pakar yang disandang Hary Tanoe, pemberian Nasdem.

Oleh sebab itu pula, gelar pakar pada boss RCTI tersebut kemudian dikesankan para pengamat sebagai sebuah cara untuk membuat Hary Tanoe senang dan tersanjung. Harapan yang memberi gelar, Hary Tanoe akan dengan senang hati berbuat yang terbaik bagi Nasdem. Dengan gelar itu, Hary Tanoe diikat sehingga tidak akan mudah lari kemana-mana.

Kalau saja pada waktu gelar tersebut diberikan, Hary Tanoe sempat berpikir secara kritis, mungkin pengusaha sukses itu tidak akan mau menerimanya. Sebab sebagai orang yang banyak uang, sejatinya Hary Tanoe lebih cocok menduduki posisi Bendahara Umum. Posisi yang disamakan dengan 'Menteri Keuangan' .

Lagi pula ketika masuk ke Nasdem, karena statusnya sebagai orang banyak uang, maka Hary mau tidak mau harus ikut membantu membiayai partai termasuk menciptakan sistem. Disinilah sebetulnya awal dari kejanggalan perselisihan Hary Tanoe dan Surya Paloh.

Ketika bergabung, Hary Tanoe diberi gelar Ketua Dewan Pakar. Namun dalam prakteknya, Hary Tanoe lebih banyak berfungsi sebagai jurubayar. Tidak klop dan tidak sinkron kata orang. Kepakarannya tidak pernah dimanfaatkan.

Nah siapa sebetulnya yang membuat kepakaran Hary Tanoe di Nasdem menjadi janggal? Orang yang bukan ahli diberi gelar pakar dan sosok yang dihormati sebagai ahli, ternyata lebih banyak bertugas sebagai jurubayar atau mesin ATM.

Akhirnya ceritera tentang pecah kongsi Hary Tanoe dan Surya Paloh, hanya bisa menjadi sebuah ceritera tak berujung. Misalnya siapa yang melahirkan gagasan gelar pakar untuk Hary Tanoe tersenbut? Apakah Surya Paloh, pendiri Nasdem yang memang dikenal cukup pakar dalam melakukan manuver atau Hary Tanoe sendiri.

Pertanyaan muncul sebab Hary Tanoe mengaku, dia bergabung ke Nasdem bukan atas kemauan sendiri. Melainkan karena dilamar. Entah siapa yang benar. Tapi berhubung Hary Tanoe sudah mengundurkan diri, maka soal tersebut tidak relevan lagi dipertanyakan. Yang pasti dengan pengunduran dirinya itu, Hary Tanoe, pantas mengaku bahwa gagal membuktikan dirinya sebagai pakar dalam politik.

Dengan klaim bahwa dia didukung oleh massa pemuda yang lebih banyak, seharusnya Hary berjuang di dalam dengan menggunakan kepakarannya. Seharusnya Hary membuat skenario berdasarkan kepakaran sehingga ia berhasil menjadi Ketua Umum sementara Surya Paloh ia posisikan sebagai Ketua Dewan Pakar, Partai Nasdem. Jika itu yang terjadi, Hary patut diacungi jempol.

Hasil Kongres Partai Nasdem akhirnya tetap menjadikan Surya Paloh sebagai Ketua Umum. Dengan hasil itu, Surya Paloh membuktikan kepakarannya dalam dunia politik. Duit dari Hary sudah dia dapat, jabatan Ketua Umum dari Rio Capello yang katanya hanya sebuah mandat, kembali diperolehnya. Hary berkaor-kaor di luar, sementara Surya tenang-tenang bermanuver. Hary Tanoe, kembali ke dunia bisnis, ke habitat kepakarannya.

Dengan segala hormat patut disampaikan kepada sidang pembaca bahwa dalam kasus ini, kelihatannya Hary Tanoe memang terjebak dengan gelar dan kesemuan itu.

Rekomendasi Untuk Anda


  • Inilah Hasil Pertandingan La Liga, Sabtu (26/1/13)

    Inilah Hasil Pertandingan La Liga, Sabtu (26/1/13)

  • Arsenal dan Duo Manchester Berjaya di Piala FA

    Arsenal dan Duo Manchester Berjaya di Piala FA