Ditinggalkan Anas, Partai Demokrat Galau

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kasus hukum Anas Urbaningrum yang kemudian berujung pada penghentian dirinya sebagai ketua umum Partai Demokrat menyisakan polemik dalam tubuh parpol berlambang bintang mercy itu.

Anas telah menjabat sebagai ketua umum selama hampir 2,5 tahun dan turut membangun kaderisasi yang kuat hingga daerah-daerah.

“Partai galau, mulai dari Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sampai kader-kader di daerah karena mundurnya Anas,” kata anggota Dewan Pembina Partai Demokrat, Hayono Isman, di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (28/2).

Kegalauan itu, menurut Hayono, karena sosok Anas selama ini merupakan pimpinan utama Partai Demokrat. Yang cakap dalam menjalankan tugas keorganisasian.

“Mas Anas tidak hanya sebagai ketum, tapi kami harapkan jadi capres termuda dari Partai Demokrat,” kata anggota Komisi I DPR itu.

Namun, kasus yang menimpa Anas, lanjut Hayono, mau tidak mau telah mengubah citra yang dibangun Demokrat selama ini. Sangat berat bagi Partai Demokrat yang menerima amanat dari rakyat, tetapi partainya dipersepsikan sebagai partai yang memelihara koruptor. Secara moral, beban Demokrat bertambah dengan slogan partai sebagai parpol yang bersih, cerdas, dan santun.

Bila ada ungkapan ‘Guru kencing berdiri, murid kencing berlari’, menurut Hayono, apa yang dilakukan pimpinan akan diikuti oleh pengikutnya di mana pun mereka berada.

Mantan menpora itu menuding, semakin turunnya elektabilitas Demokrat memang disebabkan banyak hal. Tetapi, aspek utama penyebab melorotnya keterpilihan Demokrat disebut Hayono karena faktor persepsi masyarakat tentang korupsi yang dilakukan petinggi Demokrat.

“Yang paling signifikan itu karena isu korupsi. Dan, pimpinan partai disangkakan melakukan korupsi,” katanya.