Desakralisasi Cikeas Menguat

Desakralisasi Cikeas Menguat

Headline

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) – Inilah.com

inilah.com, Jakarta – Dalam satu bulan terakhir peristiwa politik Tanah Air mengalami dinamika yang cukup cepat. Cikeas yang identik dengan Presiden SBY dan keluarganya ini dalam satu bulan terakhir mengalami desakralisasi.

Nama Cikeas telah identik dengan Presiden SBY dan keluarganya. Nama daerah ini kadarnya hampir sama dengan nama Cendana, jalan di daerah Menteng sebagai tempat kediaman Presiden Seeharto saat Orde Baru dulu. Konotasi makna Cikeas berbeda dengan Ciganjur yang merujuk kediaman Presiden KH Abdurrahman Wahid atau Kebagusan merujuk kediaman pribadi Presiden Megawati Soekarnoputri.

Namun, selama sebulan terakhir ini, nama Cikeas seolah mengalami desakralisasi yang berupa upaya untuk tidak mensakralkan atau mengkeramatkan nama ini. Ini dimulai pada akhir Januari lalu dengan beredarnya dokumen Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan Pajak keluarga Presiden SBY.

Dokumen tersebut berisi Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT) milik SBY, putra sulungnya Agus Harymurti Yudhoyono serta putra bungsi SBY, Edhie Baskoro Yudhoyono. Dokumen itu pun telah dipublikasikan oleh salah satu surat kabar berbahasa Inggris.

Tak butuh waktu lama, pada Selasa (12/2/2013), putra bungsu Presiden SBY, Ibas Yudhoyono saat sidang paripurna membuat berita menghebohkan. Pemicunya, cara absensi putra kesayangan Presiden SBY itu tidak lazim. Ia meneken absensi bukan pada tempatnya.

Alih-alih menghampiri meja absensi yang telah disediakan, justru ajudan Ibas mengambil absensi untuk diserahkan kepada Ibas. Bukannya memasuki ruang sidang paripurna, Ibas justru mangkir dari ruang sidang melalui tangga darurat.

Merespons pemberitaan media yang cukup massif ihwal gaya absensi Ibas, Sekjen DPP Partai Demokrat itu memilih mundur dari anggota DPR. Hanya saja, alasan yang ia kemukakan bukan terkait dengan absensi yang menjadi soritan publik. Fokus mengurus partai dan keluarga menjadi alasan yang mengemuka.

Publik baru saja melupakan insiden absensi ala Ibas Yudhoyono, namun pada Kamis 28 Februari 2013 lalu, dokumen beredar di kalangan wartawan tentang aliran dana dari Nazaruddin ke Ibas Yudhoyono. Dalam dokumen tersebut disebutkan pada 29 April 2010 Ibas menerima dana dari Kas Amir sebesar US$ 100. Nominal yang sama juga diberikan pada kesokan harinya pada 30 April 2010 kepada nama yang sama yang tak lain putra Ibu Ani Yudhoyono itu.

Tentu saja, Ibas dan sejumlah kader Partai Demokrat membantah dokumen yang beredar luas tersebut. Hingga saat ini, tidak ada respons dari Presiden SBY. Namun, jika merujuk pernyataan SBY pada 14 Februari 2013 lalu saat mengomentari mundurnya Ibas Yudhoyono dari kursi anggota DPR, SBY mengatakan saat ini merupakan masa yang paling sulit dihadapi dirinya dan keluarganya.

Ia mengaku sejak terpilih menjadi Presiden pada 2004 kerap mendapat hujatan dan fitnah. “Saya sudah siap dengan semua itu karena konsekuensi saya sebagai presiden di negeri ini,” kata Presiden. SBY mengaku prihatin pada keluarga dan teman-teman saya yang menjadi korban saat ini.

Nama Cikeas juga sempat menjadi buah bibir saat akhir 2009 lalu. Penulis buku George Junus Aditjondro menulis buku “Gurita Cikeas” yang menggambarkan dugaan praktik korupsi keluarga Cikeas. Saat itu, buku Gurita Cikeas menjadi buruan masyarakat meski secara substansial, buku tersebut hanya berisi kliping-kliping pemberitaan media massa saja.

Bantahan dan respons ala Cikeas dalam menjawab tudingan dan dokumen yang beredar di publik tidaklah menjawab polemik yang terjadi di masyarakat. Jika Cikeas masih ingin tetap sakral (suci) di mata publik semestinya SBY mempelopori transparansi atas setiap tudingan yang mengarah pada keluarga besarnya. Jawaban dan bantahan yang muncul selama ini tak menjawab substansi persoalan.

Maka jangan merasa galau jika belakangan Cikeas mengalami desakralisasi. Jika situasi ini terus menerus terjadi tak menutup kemungkinan, Cikeas akan mengalami demoralisasi. Sesuatu yang tak pernah diimpikan keluarga besar SBY yang akrab dengan jargon santun, bersih dan cerdas itu. [mdr]

Rekomendasi Untuk Anda


  • Air Seni Kini Bisa Dianalisa oleh Smartphone

    Air Seni Kini Bisa Dianalisa oleh Smartphone

  • Dua Pemain Ini Jadi Incaran Utama Man City

    Dua Pemain Ini Jadi Incaran Utama Man City