Anas Tak Heran Amir Membantah soal Ibas

JAKARTA – Mantan Ketua Umum Partai Demokrat (PD), Anas Urbaningrum mengaku tak kaget dengan bantahan Amir Syamsuddin perihal pengakuan M Nazaruddin dalam pertemuan di Cikeas, 2011 silam, yang menyebut Sekretaris Jenderal Demokrat, Edhie Baskoro Yudhoyono atau Ibas ikut menerima dana proyek Hambalang.

"Ya pasti membantah yah lah. Masa tidak membantah," ujar Anas saat ditemui di kediamannya di bilangan Duren Sawit, Jakarta Timur, Rabu (27/2).

Anas yang saat ditemui terlihat sarungan dan mengenakan baju muslim warna hitam, menyebut Amir kala itu ditugasi memeriksa mantan Bendahara Umum Partai Demokrat, Muhammad Nazaruddin yang terlibat beberapa kasus korupsi. Menurut Anas, Amir jelas tahu hasil pemeriksaan terhadap Nazaruddin.

"Pak Amir dalam posisi sebagai Sekretaris Dewan Kehormatan partai, ketika diperiksa tentu ada hasil pemeriksaan. Tentu Pak Amir tahu detilnya. Itu saja. Soal dibantah atau tidak dibantah, itu soal lain," terang dia.

Namun Anas tak mau berpanjang lebar mengomentari bantahan Amir. Dengan mimik dingin, Anas menegaskan bahwa dalam situasi yang dihadapinya saat ini, ia memilih bersabar dan memperbanyak doa  Setelah itu, mantan ketua fraksi Partai Demokrat itu langsung kembali memasuki rumahnya.

"Terima kasih kepada teman-teman. Saya masih ada tamu-tamu yang ingin silaturahim. Saya akan melanjutkan terima tamu," pungkasnya.

Sebelumnya, Amir membantah pengakuan Anas dalam wawancara dengan salah satu televisi swasta, yang menyebut Nazaruddin membeber sejumlah nama penerima dana dari proyek Hambalang. Anas sebelumnya mengakui, nama Ibas disebut pertama kali ketika Nazaruddin dipanggil  ke kediaman Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Cikeas. Pertemuan itu dilakukan sebelum Nazaruddin pergi ke Singapura.

Kala itu SBY disebut-sebut marah karena mengetahui Ibas menerima aliran uang proyek Hambalang. Di pertemuan itu, hadir juga Amir. Karena itu, Anas mengaku Amir pun mengetahui perihal penyebutan nama Ibas itu. Tapi ikhwal pertemuan itu dibantah oleh Amir.

"Bukan begitu. Memang ada pertemuan sidang kehormatan Juli 2011 tapi tidak ada sepatah kata pun terkait Ibas. Dia ingin membuat skenario. Sidang itu muncul karena usulan dari Anas. Nazaruddin waktu itu diperiksa dewan kehormatan dan meminta Nazaruddin untuk mundur baik-baik," papar Amir.(gil/jpnn)