AD/ART Demokrat Atur Plt Ketua Umum tapi…

Metrotvnews.com, Jakarta: Kosongnya kursi Ketua Umum Partai Demokrat (PD) sepeninggal Anas Urbaningrum yang saat ini diambil alih oleh Majelis Tinggi memaksa jajaran pengurus PD untuk segera mencari pimpinan baru.

Pasalnya, Komisi Pemilihan Umum (KPU) tetap meminta agar semua partai menyerahkan Daftar Calon Sementara (DCS) yang harus ditandatangani ketua umum dan sekjen partai.

Di Pasal 99 AD/ART PD disebutkan di ayat 1 bahwa masa kepengurusan berlangsung selama lima tahun dan ayat 2 menyebutkan kurang dari waktu yang ditentukan dilakukan mekanisme Kongres Luar Biasa (KLB).

Jika kemudian pasal dua pun tidak bisa dilaksanakan, ayat 3 menyebutkan kepengurusan partai akan akan dipimpin pelaksana tugas (Plt).

Namun di ayat terakhir Pasal 99 mengenai tata cara, persyaratan, dan pengangkatan Plt diatur lebih lanjut dalam peraturan organisasi.

Ketua DPP PD Bidang Polhukam Cornel Simbolon mengakui PD sampai saat ini belum memiliki aturan dan tata cara penunjukan Plt ketua umum. “Itu nanti diatur dalam peraturan organisasi. Sampai saat ini belum ada aturannya,” kata Cornel saat melakukan konferensi pers di Jakarta, Sabtu (9/3).

Terkait KLB, Cornel mengatakan hal itu belum diputuskan Majelis Tinggi PD. Dalam perhitungan AD/ART, KLB menjadi jalan tengah paling demokratis untuk memberikan kewenangan ketua umum kepada nakhoda baru.

Namun, Cornel meyakinkan PD pasti akan mematuhi peraturan yang telah dibuat oleh KPU, khususnya terkait dengan DCS. “Waktunya tanda tangan, itu pasti ada yang tanda tangan,” tegasnya,

Mantan Wakil Kepala Staf Angkatan Darat tersebut mengatakan tidak mudah untuk melakukan KLB, karena harus mengumpulkan semua kader dari Sabang sampai Marauke.

“KLB kami tunggu mekanisme majelis tinggi. Tidak segampang itu. Kader di Jakarta bisa berangkat pagi dan pulang sore. Bagaimana kader Papua, Kendari, yang bisa seminggu di Jakarta, karena di daerah pun agendanya sedang padat?” ulasnya.

Saat mencoba memastikan PD akan melakukan KLB atau PLT untuk mencari ketua umum, Cornel enggan menjawab secara tegas. “Kami mencari yang paling baik saja, sedikit risikonya tapi banyak manfaatnya,” singkat Cornel. (Hafizd Mukti)

Editor: Wisnu AS