Ada Dua ‘Surya’ di NasDem, Hary pun Pilih Hengkang

Ada Dua ‘Surya’ di NasDem, Hary pun Pilih Hengkang

Headline

Hary Tanoesoedibjo – inilah.com/Agus Priatna

inilah.com, Jakarta – Sungguh mengagetkan ketika Hary Tanoesoedibjo hengkang dari Partai NasDem. Mengagetkan karena bukan hanya dia seorang, melainkan membawa gerbong yang juga tokoh-tokoh penting di partai itu.

Apalagi gerbong yang diusung adalah kelompok muda yang memiliki potensi bagus. Publik pun terhenyak menyaksikan bagaimana ia mengungkapkan alasannya mundur. Meskipun tidak secara vulgar dia mengungkapkan munculnya dua faksi di partai itu, namun Hary secara jelas mengungkapkan bahwa ia tidak lagi bisa bersanding dengan Surya Paloh.

Dari apa yang diungkapkan Hary, hanya satu penjelasan mengenai apa yang terjadi di NasDem. Di Partai itu ada dua surya yang bersinar terang. Matahari itu adalah Surya Paloh dan Hary Tanoe. Sebagai pendiri, Surya Paloh menjadi matahari bagi NasDem. Begitupun dengan Hary, ide dan sokongan dananya menjadikannya sebagai matahari kedua yang tak kalah terang.

Sumber inilah.com di lingkaran satu partai itu menjelaskan, adanya dua surya atau matahari itulah yang membuat Hary dan Surya Paloh tak bisa bersanding. Dan memang, sesuai hukum jagat raya, tak boleh ada matahari kembar.

Begitupun di jagat NasDem, dua surya atau matahari ini seolah menjadi dua sumber cahaya yang menyinari NasDem. Hary tampil dengan dukungan kelompok muda yang progresif dan sokongan dana yang amat besar. Sedangkan Surya Paloh tampil konservatif didukung kaum tua tanpa dana besar.

Sebagai matahari baru, Hary mampu membawa NasDem berlari cepat. Tidak hanya menyuplai kebutuhan untuk memenuhi syarat disebut sebagai partai, ia juga mampu meloloskan partai ‘kemarin sore’ itu menjadi peserta Pemilu 2014.

Belum lagi kampanye pencitraan yang ia galang di media massa miliknya, MNC Group, menjadikan nama partai ini dikenal publik dalam waktu singkat. Pencitraan sebagai kelompok perubahan ini pula yang menjadikan banyak orang tertarik bergabung ke Partai NasDem.

Kelompok muda yang mendukungnya juga mampu bergerak kilat mengkonsolidasikan kekuatan. Tidak heran bila partai ini kemudian tidak bisa dianggap main-main. Singkat kata, Hary Tanoe dengan segala kemampuannya mampu menjadikan partai ini tampil kinclong.

Sementara itu, kelompok Surya Paloh merasa kekuataannya di NasDem tergerus oleh pesona Hary. Maklum saja, dari sisi kekuatan material dan finansial, Hary Tanoe jauh melampaui Surya Paloh. Untuk menancapkan dukungannya, Hary lebih banyak memiliki media lewat MNC Group ketimbang Surya Poloh yang memiliki Media Group-nya.

Hary hampir memiliki semua sektor media untuk mendukungnya. Radio, TV, surat kabar, majalah, media online dan lain-lain. Sedangkan Surya Palon hanya didukung oleh TV dan surat kabar.

Dalam soal dukungan media ini, Hary tahu persis betapa besar pengaruhnya. Itulah mengapa bersamaan dengan pengunduran dirinya, ia langsung mencabut iklan NasDem dari MNC Group.

Sumber inilah.com juga mengungkapkan Surya Paloh tidak mau kuku Hary semakin menancap kencang di NasDem. Karena itulah Surya bagaimanapun harus menjadi ketua umum. Dengan cara itu Surya akan tetap memegang kendali.

Masih kata sumber tadi, Surya Paloh tidak ingin pengalaman Partai Demokrat terulang di NasDem. Demokrat yang didirikan oleh SBY tiba-tiba berpindah tangan ke kubu Anas Urbaningrum. SBY gagal menyokong Andi Mallarangeng untuk memimpin Demokrat.

Surya Paloh tidak ingin kasus Demokrat itu terjadi di partai yang ia dirikan. Sebagai pendiri, Surya tidak rela kekuasaannya jatuh pada Hary yang note bene adalah pendatang baru.

Bagaimanapun matahari di NasDem harus satu dan Surya Paloh ingin tetap menjadi ‘sang surya’. Itulah agaknya alasan paling masuk akal mengapa Hary rela melepaskan penggorbanannya yang sudah ia curahkan dan meninggalkan NasDem begitu saja. [tjs]

Rekomendasi Untuk Anda


  • IHSG Dekati 4.380-4.400, Pemodal Cari Aman

    IHSG Dekati 4.380-4.400, Pemodal Cari Aman

  • Syahrul Yasin Limpo Sujud Syukur

    Syahrul Yasin Limpo Sujud Syukur