Demokrat Merasa Masih Dipercaya Rakyat

Kalah Terus di Pilkada
Demokrat Merasa Masih Dipercaya Rakyat

Headline

Ketua Fraksi Partai Demokrat Nurhayati Ali Assegaf – inilah.com

inilah.com, Jakarta – Ketua Fraksi Partai Demokrat Nurhayati Ali Assegaf merasa partainya masih dipercaya rakyat meski dalam beberapa kali kalah dalam pemilihan kepala daerah (pemilukada). Kekalahan terbaru adalah di Pemilukada Sulawesi Selatan, dan di DKI Jakarta yang lalu.

“Dari pemilukada Partai Demokrat itu berkoalisi. Tapi kami tetap percaya bahwa rakyat masih percaya,” kata Nurhayati ketika dihubungi inilah.com, Jakarta, Kamis (24/1/2013).

Menurut dia, dalam sebuah kompetisi pemilukada partai binaan Susilo Bambang Yudhoyono itu telah menjalankan proses demokrasi. Kekalahan Partai Demokrat di pilkada bukan berarti kekalahan secara nasional.

“Dalam demokrasi, hanya ada dua kata kalah atau menang. Saya kira apa yang dilakukan Demokrat itu adalah yang terbaik, itu hasilnya bukan berarti kami kalah,” kilah Nurhayati.

Sebelumnya diberitakan, pengamat politik dari Universitas Indonesia, Iberamsjah mengatakan, kekalahan Partai Demokrat di beberapa Pemilukada menunjukkan bahwa partai itu semakin tak disenangi rakyat.

“Sudah lama rakyat tidak percaya. Partai Demokrat itu bukan lagi tidak disukai tapi sudah dibenci,” kata Iberamsjah, kepada inilah.com, Jakarta, Kamis (23/1/2013). [yeh]

Rekomendasi Untuk Anda


  • Kecewa, Roberto Baggio Mundur Tukangi Italia

    Kecewa, Roberto Baggio Mundur Tukangi Italia

  • Kena Tendangan Arbeloa, Casillas Cedera

    Kena Tendangan Arbeloa, Casillas Cedera

Nasional | Pakar: Muhammadiyah tak Lagi Merasa Bagian PAN

Pakar: Muhammadiyah tak Lagi Merasa Bagian PAN

Bendera Partai Amanat Nasional

, JAKARTA — Pakar politik, Bahtiar Effendy, mengatakan banyak warga Muhammadiyah yang tidak lagi merasa bagian dari PAN. Hal itu disebabkan oleh partai tersebut yang tidak merawat dengan baik basis massanya.

“Hal itu diperparah dengan pernyataan salah satu petinggi PAN bahwa partai itu sudah menanggalkan identitas Islam. Pernyataan itu selain tidak cerdas, juga sangat melukai warga Muhammadiyah yang selama ini menjadi basis massa PAN,” kata Bahtiar Effendy dihubungi di Jakarta, Rabu (23/1).

Dekan FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu mengatakan, eksistensi PAN di panggung politik nasional adalah wujud dukungan konkret Muhammadiyah dan elemen umat Islam. Karena itu, pernyataan itu bisa menyebabkan larinya suara-suara umat Islam, khususnya yang berasal dari kantong-kantong Muhammadiyah pada pemilu 2014.

Bahtiar mengatakan, kondisi itu akan membuat posisi PAN tidak menguntungkan, apalagi bila bersaing dengan partai Islam lain seperti PPP, PKS, dan PKB yang basis massanya selama ini bisa dilihat secara jelas.

“Sudah jamak diketahui bahwa basis massa PKS adalah jamaah-jamaah halaqoh yang mereka bangun selama ini. PKB juga masih menempati posisi khusus bagi sebagian besar masyarakat NU,” tuturnya.

Sementara PPP, kata dia, basis massanya adalah aktivis partai-partai Islam awal seperti NU, Masyumi, Perti, syarikat Islam dan beberapa organisasi massa Islam lainnya.

“Pertarungan keras pada konstestasi politik 2014 akan terjadi di lingkaran partai-partai Islam. Dari keempat partai Islam yang ada, saya melihat hanya PKS, PKB dan PPP yang sudah memiliki basis massa sementara PAN masih abu-abu dan mengambang,” katanya.

PPI Merasa Dianggap PKI Oleh SBY

Anggota Perhimpunan Pergerakan Indonesia (PPI) (dari kiri) Sri Mulyono, Ma'mun Murod Al Barbasy, dan Carel Ticualu memberi keterangan kepada wartawan di Jakarta, Rabu (23/10).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ormas Perhimpunan Pergerakan Indonesia (PPI) bentukan Anas Urbaningrum bereaksi keras terhadap pesan singkat (SMS) yang diduga dikirim oleh Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) kepada petinggi Partai Demokrat. Menurut PPI, isi SMS SBY itu mengejutkan. 

“Berlebihan kalau PPI dianggap mengancam pemerintahan dan Demokrat,” kata Pengurus Pusat PPI, Ma’mun Murod Al-Barbasy di Jakarta, Rabu (23/10).

Ma’mun heran jika ormas seperti PPI dianggap sebagai ancaman Demokrat. Karena ancaman Demokrat sesungguhnya adalah partai peserta Pemilu di 2014. “Ancaman Demokrat itu Golkar, PDIP, dan Gerindra, bukan PPI. Itu anggapan salah alamat,” ujarnya.

Perintah SBY menindak kader Demokrat yang terlibat sebagai pengurus PPI mestinya juga berlaku kepada semua yang terlibat dalam ormas lain. SBY, kata Ma’mun jangan menerapkan standar ganda kepada para kadernya. “Kalau misalnya Demokrat mau menindak kader di PPI, jangan standar ganda,” katanya.

Ma’mun juga terkejut dengan wacana pembubaran PPI yang didengungkan Wakil Ketua Umum Demokrat, Nurhayati Ali Assegaf. Menurutnya wacana pembubaran itu tidak mendasar karena selama ini PPI tidak merasa menyerang Demokrat. 

“Seolah-olah kami PKI. Kami tidak pernah menyerang Demokrat. Kami baik dengan kader-kader Demokrat,” ujarnya.

Ma’mun pun menyatakan, PPI akan semakin kencang melancarkan kritik ke pemerintah lewat mekanisme-mekanisme yang sesuai asas demokrasi. “Kami tidak menghilangkan sikap kritis kami ke pemerintah. Kami justru malah semakin akan kencang Apa salah diskusi bicara soal meritokrasi dan politik dinasti?” paparnya. 

google.co.id

Golkar Merasa Diserang Secara Politik oleh SBY

Golkar Merasa Diserang Secara Politik oleh SBY

Headline

Ketua DPP Partai Golkar, Indra J Piliang – ist

inilah.com, Jakarta – Sindiran Presiden SBY terhadap dinasti politik Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah dianggap oleh Partai Golkar sebagai serangan secara politik.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dinilai memanfaatkan kasus suap yang menyeret Ratu Atut dan keluarganya. Pasalnya kasus Atut sudah menjadi pembahasan SBY dalam keterangannya di Istana Negara.

“Terlihat jelas dari pernyataan soal dinasti mengarah ke dinasti Atut,” ujar Ketua DPP Partai Golkar, Indra J Piliang di Jakarta, Sabtu (12/10/2013).

Pernyataan Presiden SBY terhadap dinasti politik itu dinilai sangat rekatif dan terlalu diumbar. Padahal dalam kasus suap korupsi itu yang dituju adalah lembaga tinggi negara yakni Mahkamah Konstitusi (MK).

“Ada upaya memanfaatkan, umbar, upaya naikkan, ada serangan politik SBY sebagai Ketum Demokrat terhadap Golkar,” terangnya.

Selain itu, dari bahasa tubuh Presiden SBY yang menyampaikan soal adanya politik dinasti disebuah daerah mengarah kepada Partai Golkar. Karena Ratu Atut merapakan kader Golkar yang menjadi Gubernur Banten.

“Dari bahasa tubuhnya, kegeraman, terlihat Golkar jadi sasaran. Selain itu, terlihat jelas dari pernyataan soal dinasti mengarah ke dinasti Atut,” tandasnya. [gus]

Rekomendasi Untuk Anda


  • Start di Posisi Tiga, Crutchlow Pesimistis

    Start di Posisi Tiga, Crutchlow Pesimistis

  • Juru Kunci, Laos Permasalahkan Jeda Pertandingan

    Juru Kunci, Laos Permasalahkan Jeda Pertandingan

Inilah.com

Golkar Merasa Diserang SBY

Golkar Merasa Diserang SBY
Sabtu, 12 Oktober 2013 , 19:26:00 WIB

Laporan: Fayaddh Abubakar

SBY
  

RMOL. Partai Golkar merasa diserang oleh Presiden SBY lewat pernyataannya terkait dinasti politik.

Kemarin, SBY memang tidak menyebut nama Gubernur Banten Ratu Atut saat menyampaikan harapannya agar masyarakat bisa mencegah terjadinya dinasti kekuasaan.

Apalagi, ungkap Presiden, meski dalam UUD 1945 atau UU tidak ada pembatasan seseorang untuk mengisi posisi pemerintahan, tetapi, perlu ada batas kepatutan.

Bagi Golkar, pernyataan SBY itu sangat jelas menyinggung dinasti politik Ratu Atut Chosiyah, yang merupakan kader Partai Beringin. Karena memang Ratu Atut mendapat sorotan setelah adiknya jadi tersangka kasus suap sengketa Pilada Lebak.

“Ada upaya memanfaatkan, mengumbar, upaya menaikkan (isu ini). Ada serangan politik SBY, sebagai Ketum Demokrat terhadap Golkar,” ujar Ketua Balitbang DPP Golkar Indra J. Piliang dalam diskusi ‘Dinasti Atut Cenat Cenut’ di Warung Daun, Cikini, Jakarta, Sabtu (12/10).

Selain Golkar, sambung Indra, SBY juga menyerang Partai Keadilan Sejahtera (PKS) lewat bantahan kerasnya soal Bunda Putri. SBY menegaskan, bekas Presiden PKS berbohong karena menyebut Bunda Putri orang dekat Kepala Negara tersebut.

Menurut Indra, kedua serangan itu sangat emosional dan berakibat buruk bagi partai. “Kalau SBY tidak bisa bedakan sebagai Presiden atau Ketum, akan menjadi masalah besar. Subjektifitas SBY akan jadi pertanyaan,” jelas politikus muda ini.

Menurut Indra, sikap SBY itu terlalu berlebihan dan di luar wewenangnya sebagai RI 1. “Dia seperti menepuk air di dulang. Presiden semestinya berlaku objektif. Jangan pakai (campuri dengan kepentingan) Partai Demokrat,” sergahnya. [zul]


Baca juga:

Keluarga Atut Menilai Pemberitaan Media Tidak Adil
DPP Golkar: Kasus Akil Murni Perbuatan Individu, Bukan Partai!
MK Akan Kooperatif Ke KPK
Janedjri Diperiksa KPK
Diperiksa 8 Jam, Atut Katakan Terima Kasih Ya…


Komentar Pembaca

Golkar Merasa Diserang SBY

Golkar Merasa Diserang SBY
Sabtu, 12 Oktober 2013 , 19:26:00 WIB

Laporan: Fayaddh Abubakar

SBY
  

RMOL. Partai Golkar merasa diserang oleh Presiden SBY lewat pernyataannya terkait dinasti politik.

Kemarin, SBY memang tidak menyebut nama Gubernur Banten Ratu Atut saat menyampaikan harapannya agar masyarakat bisa mencegah terjadinya dinasti kekuasaan.

Apalagi, ungkap Presiden, meski dalam UUD 1945 atau UU tidak ada pembatasan seseorang untuk mengisi posisi pemerintahan, tetapi, perlu ada batas kepatutan.

Bagi Golkar, pernyataan SBY itu sangat jelas menyinggung dinasti politik Ratu Atut Chosiyah, yang merupakan kader Partai Beringin. Karena memang Ratu Atut mendapat sorotan setelah adiknya jadi tersangka kasus suap sengketa Pilada Lebak.

“Ada upaya memanfaatkan, mengumbar, upaya menaikkan (isu ini). Ada serangan politik SBY, sebagai Ketum Demokrat terhadap Golkar,” ujar Ketua Balitbang DPP Golkar Indra J. Piliang dalam diskusi ‘Dinasti Atut Cenat Cenut’ di Warung Daun, Cikini, Jakarta, Sabtu (12/10).

Selain Golkar, sambung Indra, SBY juga menyerang Partai Keadilan Sejahtera (PKS) lewat bantahan kerasnya soal Bunda Putri. SBY menegaskan, bekas Presiden PKS berbohong karena menyebut Bunda Putri orang dekat Kepala Negara tersebut.

Menurut Indra, kedua serangan itu sangat emosional dan berakibat buruk bagi partai. “Kalau SBY tidak bisa bedakan sebagai Presiden atau Ketum, akan menjadi masalah besar. Subjektifitas SBY akan jadi pertanyaan,” jelas politikus muda ini.

Menurut Indra, sikap SBY itu terlalu berlebihan dan di luar wewenangnya sebagai RI 1. “Dia seperti menepuk air di dulang. Presiden semestinya berlaku objektif. Jangan pakai (campuri dengan kepentingan) Partai Demokrat,” sergahnya. [zul]


Baca juga:

Keluarga Atut Menilai Pemberitaan Media Tidak Adil
DPP Golkar: Kasus Akil Murni Perbuatan Individu, Bukan Partai!
MK Akan Kooperatif Ke KPK
Janedjri Diperiksa KPK
Diperiksa 8 Jam, Atut Katakan Terima Kasih Ya…


Komentar Pembaca