SBY Menipu Warga NU!

SBY Menipu Warga NU!
Minggu, 05 Mei 2013 , 21:24:00 WIB

Laporan: Ade Mulyana

RMOL. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dianggap telah menipu nahdliyyin. Sikap para ulama NU yang secara istiqomah menunjukan kesetiaan kepada Negara dan diikuti warga NU dengan ketulusan telah dikhianati SBY.

Ulama muda kharismatik asal Jawa Barat, KH Maman Imanulhaq menyebut, ada dua sikap SBY yang telah menipu para ulama dan warga NU. Yakni, tidak amanah dan peka terhadap persoalan bangsa seperti yang diharapkan para ulama dan warga NU.

Dikatakan, dalam berbagai kesempatan SBY meminta menteri dari partai politik mundur jika tidak fokus dan lebih banyak urus partainya. Tapi rakyat hari ini melihat Sang Presiden menjadi ketua umum Partai Demokrat. Bahkan, SBY menujuk Menteri Koperasi dan UKM Syaprief Hasan sebagai Ketua Harian Partai Demokrat dan Menteri Perhubungan EE Mangindaan sebagai Ketua Harian Dewan Pembina Partai Demokrat.

“Rangkap jabatan ini menggelisahkan rakyat. Bukan hanya karena akan mengabaikan tugas kenegaraan tapi sikap SBY yang tidak konsisten. Ia mengingkari ucapannya sendiri,” tegas Kyai Maman.

Selain soal karakter yang tidak amanah, sikap SBY yang menipu warga NU menurut Kyai Maman, adalah ketidakpekaaannya terhadap persoalan bangsa dan Negara. Saat keadaan ekonomi yang semakin suram serta keadaan sosial semakin rentan terhadap konflik seperti Mesuji, Sumbawa, Ogan Komering Ulu, penyerangan LP Cebongan Sleman dan kerusuhan di Palopo, SBY tidak pernah serius berkonsentrasi untuk menyelesaikan itu semua.

SBY malah serius menanggapi soal Yeni Wahid yang tidak jadi gabung di Partai Demokrat, tapi tidak peka terhadap psikologi warga NU saat Gus Dur dihina Sutan Bhatoegana, atau saat Ketua Apindo Sofjan Wanandi menghina pesantren atau saat begitu banyak warga NU yang jadi Buruh TKI mendapat perlakuan tidak manusiawi di luar negeri.

Contoh ketidakpekaan lainnya, dengan bangga SBY menerima penganugerahan gelar Honoris Doctoral (Doctor of Letters) dari Rajaratnam School of International Studies (RSIS), Nanyang Technological University (NTU) Singapura, padahal di universitas tersebut kematian mahasiswa jenius asal Indonesia, David Hartanto Wijaya sampai hari ini masih misterius.

Sikap SBY yang demikian itu, kata  Pimpinan Pondok Pesantren Al-Mizan Ciborelang, Kecamatan Jatiwangi, Majalengka itu, membuat Pemerintahan kehilangan wibawa. Akibatnya, berbagai fenomena menyedihkan tentang kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat, kasus korupsi yang makin merajalela, konflik komunal berbasis etnik dan agama di sejumlah daerah, serta elit yang saling mendegradasi atau menghujat bahkan menjatuhkan satu sama lain, terus menghiasi kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Mana kepekaan sang presiden?” gugat Kyai Maman.

Besarnya dukungan dan harapan para ulama NU, setidak-tidaknya, mengemuka dalam acara zikir akbar yang diselenggarakan sebagai rangkaian haul pendiri Pesantren Al-Munawwir ke 74, pesantren salafiyah tertua di Jogja, KH.M.Munawwir Bin Abdullah Rosyad, pada minggu keempat April 2013. Dalam acara tersebut, lantunan kalimat thoyyibah membahana di halaman Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Jogjakarta saat KH.R.Moch Najib Abdul Qodir Munawwir memimpin dzikir untuk kedamaian dan keselamatan Bangsa dan Negara Indonesia.

Sementara Khatib ‘Amm Syuriah PBNU, KH.DR. Malik Madani, yang hadir sebagai penceramah menyebut, ketulusan para ulama NU dalam menjaga kedamaian, kerukunan dan keharmonisan negeri ini merupakan dukungan agar para pemimpin menjaga negara dan bangsa ini dengan keteladanan, kejujuran, dan sikap amanah.[dem]

rmol.co

Kyai Maman: SBY Menipu Warga NU!

Kyai Maman: SBY Menipu Warga NU!
Minggu, 05 Mei 2013 , 21:24:00 WIB

Laporan: Ade Mulyana

RMOL. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dianggap telah menipu nahdliyyin. Sikap para ulama NU yang secara istiqomah menunjukan kesetiaan kepada Negara dan diikuti warga NU dengan ketulusan telah dikhianati SBY.

Ulama muda kharismatik asal Jawa Barat, KH Maman Imanulhaq menyebut, ada dua sikap SBY yang telah menipu para ulama dan warga NU. Yakni, tidak amanah dan peka terhadap persoalan bangsa seperti yang diharapkan para ulama dan warga NU.

Dikatakan, dalam berbagai kesempatan SBY meminta menteri dari partai politik mundur jika tidak fokus dan lebih banyak urus partainya. Tapi rakyat hari ini melihat Sang Presiden menjadi ketua umum Partai Demokrat. Bahkan, SBY menujuk Menteri Koperasi dan UKM Syaprief Hasan sebagai Ketua Harian Partai Demokrat dan Menteri Perhubungan EE Mangindaan sebagai Ketua Harian Dewan Pembina Partai Demokrat.

“Rangkap jabatan ini menggelisahkan rakyat. Bukan hanya karena akan mengabaikan tugas kenegaraan tapi sikap SBY yang tidak konsisten. Ia mengingkari ucapannya sendiri,” tegas Kyai Maman.

Selain soal karakter yang tidak amanah, sikap SBY yang menipu warga NU menurut Kyai Maman, adalah ketidakpekaaannya terhadap persoalan bangsa dan Negara. Saat keadaan ekonomi yang semakin suram serta keadaan sosial semakin rentan terhadap konflik seperti Mesuji, Sumbawa, Ogan Komering Ulu, penyerangan LP Cebongan Sleman dan kerusuhan di Palopo, SBY tidak pernah serius berkonsentrasi untuk menyelesaikan itu semua.

SBY malah serius menanggapi soal Yeni Wahid yang tidak jadi gabung di Partai Demokrat, tapi tidak peka terhadap psikologi warga NU saat Gus Dur dihina Sutan Bhatoegana, atau saat Ketua Apindo Sofjan Wanandi menghina pesantren atau saat begitu banyak warga NU yang jadi Buruh TKI mendapat perlakuan tidak manusiawi di luar negeri.

Contoh ketidakpekaan lainnya, dengan bangga SBY menerima penganugerahan gelar Honoris Doctoral (Doctor of Letters) dari Rajaratnam School of International Studies (RSIS), Nanyang Technological University (NTU) Singapura, padahal di universitas tersebut kematian mahasiswa jenius asal Indonesia, David Hartanto Wijaya sampai hari ini masih misterius.

Sikap SBY yang demikian itu, kata  Pimpinan Pondok Pesantren Al-Mizan Ciborelang, Kecamatan Jatiwangi, Majalengka itu, membuat Pemerintahan kehilangan wibawa. Akibatnya, berbagai fenomena menyedihkan tentang kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat, kasus korupsi yang makin merajalela, konflik komunal berbasis etnik dan agama di sejumlah daerah, serta elit yang saling mendegradasi atau menghujat bahkan menjatuhkan satu sama lain, terus menghiasi kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Mana kepekaan sang presiden?” gugat Kyai Maman.

Besarnya dukungan dan harapan para ulama NU, setidak-tidaknya, mengemuka dalam acara zikir akbar yang diselenggarakan sebagai rangkaian haul pendiri Pesantren Al-Munawwir ke 74, pesantren salafiyah tertua di Jogja, KH.M.Munawwir Bin Abdullah Rosyad, pada minggu keempat April 2013. Dalam acara tersebut, lantunan kalimat thoyyibah membahana di halaman Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Jogjakarta saat KH.R.Moch Najib Abdul Qodir Munawwir memimpin dzikir untuk kedamaian dan keselamatan Bangsa dan Negara Indonesia.

Sementara Khatib ‘Amm Syuriah PBNU, KH.DR. Malik Madani, yang hadir sebagai penceramah menyebut, ketulusan para ulama NU dalam menjaga kedamaian, kerukunan dan keharmonisan negeri ini merupakan dukungan agar para pemimpin menjaga negara dan bangsa ini dengan keteladanan, kejujuran, dan sikap amanah.[dem]

rmol.co

Golkar: Menteri Nyaleg Lagi, Itu Menipu Rakyat

JAKARTA – Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Golkar, Idrus Marham menegaskan bahwa pihaknya tidak mau memanfaatkan popularitas menteri untuk mendulang suara pada pemilu legislatif (pileg) 2014. Dengan alasan inilah, pada pemilu mendatang tidak satupun menteri Golkar maju dalam pileg tahun depan.

Menurut Idrus, partai-partai lain menggunakan menteri hanya sebagai Vote Getter atau pendulang suara belaka. Mereka, lanjut Idrus, sebenarnya tidak pernah berniat untuk menjadi anggota legislatif dan akan mundur dari kursinya setelah terpilih nanti.

"Itu menipu rakyat namanya. Golkar tidak mau ada vote getter," tegas Idrus usai penyerahan DCS di kantor KPU RI, Jalan Imam Bonjol, Jakarta Pusat, Minggu (21/4).

Idrus mengklaim bahwa caleg Golkar adalah orang yang berkomitemen untuk menyalurkan aspirasi rakyat. Maka kandidat yang tidak benar-benar berniat menjadi anggota legislatif tidak akan dicalonkan.

Lebih lanjut, Idrus juga yakin bahwa menteri yang maju sebagai caleg akan terganggu pekerjaannya. Soalnya proses pencalegan memakan waktu yang tidak sedikit.

"Biarkan menteri konsentrasi dari pekerjaannya. Sekjen Partai Golkar juga tidak mencaleg kok, karena harus fokus pada partai," imbuhnya. (dil/jpnn)

JPNN.COM