Mantan Bupati Sidoarjo Mendekam di Penjara

Mantan Bupati Sidoarjo Mendekam di Penjara

Headline

Win Hendrarso – (Foto: beritajatim.com)

inilah.com, Sidoarjo – Setelah sehat dari sakitnya, Win Hendrarso akhirnya bersedia ditahan di Lapas Kelas I Surabaya di Porong, Sabtu (19/10/2013). Mantan Bupati Sidoarjo ini divonis MA melakukan korupsi Kasda 2005-2007 senilai Rp2,4 miliar.

Win Hendraso dijemput oleh empat jaksa eksukotor yang mendatanginya di RS Primer Surabaya. Langka jaksa itu dilakukan setelah mendapatkan keterangan dan konfirmasi dr Jefri yang menyatakan Win sudah sehat dan diperbolehkan pulang.

“Sebelum membawa yang bersangkutan, kami juga konfirmasi dengan dokter yang menanganinya. Memang sempat ada perdebatan sengit yang akhirnya bersama pengacaranya Trimoelya dan Emy isterinya, Win bersedia menuju Lapas Porong,” ucap Wahyu salah satu jaksa pidana khusus.

Disinggung soal uang pengganti kerugian negara senilai Rp 2 miliar, kata Wahyu, melalui Trimoelya selaku kuasa hukum Win Hendrarso, akan disetorkan Senin (21/10/2013) mendatang. Wahyu juga menyatakan, di Lapas Porong, untuk masa tahapan pertama, Win Hendrarso akan ditempatkan di masa pengenalan lingkungan (Mapeling).

Diberitakan sebelumnya, kasus dugaan korupsi Kasda Sidoarjo 2005 sebesar Rp 2,4 miliar menyeret tiga tersangka. Terdiri dari mantan Bupati Sidoarjo Win Hendrarso, Anggota DPRD Sidoarjo dari Fraksi Demokrat Nunik Ariyani yang kala itu menjabat Kepala Dispenda Sidoarjo dan staf Dispenda Sidoarjo Agus Dwi Handoko.

Ketiganya dianggap sebagai pihak yang bertanggungjawab terhadap hilangnya dana kasda pada tahun anggaran 2005 dan 2007. Oleh Pengadilan Tipikor, Win Hendrarso divonis 1 tahun penjara namun yang bersangkutan mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi (PT) Jatim. Dalam prosesnya, akhirnya, Pengadilan Tinggi memutus bebas Win Hendrarso karena menilai tidak ada unsur kerugian negara.Jaksa Penuntut Umum (JPU) kemudian mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung (MA).

Hampir dua tahun proses pengajuan kasasi, akhirnya MA memutuskan vonis 5 tahun penjara kepada Win Hendrarso dan harus membayar uang pengganti sebesar Rp 2 miliar. Dalam putusan Mahkamah Agung No.1891/Pid.Sus/2012 menyebutkan Win Hendrarso terbukti melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama.

Mahkamah Agung berpendapat bahwa terdakwa telah terbukti melanggar pasal 3 Jo Pasal 18 Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang No.31 Tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi dan menghukum terdakwa selama 5 tahun penjara dan terdakwa untuk dilakukan penahanan.

Dalam kasus ini, Win Hendrarso mengajukan PK (Peninjauan Kembali) dengan bukti-bukti baru (novum) yang diharapkan bisa dijadikan pertimbangan jika Win Hendrarso tidak bersalah. Kuasa hukumnya juga meminta semua pihak untuk menghormati upaya yang ditempuh kliennya dalam mencari keadilan. [beritajatim]

Rekomendasi Untuk Anda


  • Bek Kiri Timnas U-19 Ini Kagumi Lahm dan Alba

    Bek Kiri Timnas U-19 Ini Kagumi Lahm dan Alba

  • Mou Buang Bintang Inggris dari Skuad Utama Chelsea

    Mou Buang Bintang Inggris dari Skuad Utama Chelsea

Inilah.com

Nazarudin Kini Mendekam di Lapas Sukamiskin Bandung

Bandung, GATRAnews – Terpidana kasus suap Wisma Atlet Jakabaring yang juga mantan Bendahara Umum Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin saat ini menghuni Lembaga Pemasyarakatan Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat.

 

“Betul, sudah dipindahkan (di Lapas Sukamiskin) sejak tadi malam,” ujar Kepala Kantor Wilayah Kemenkum HAM Jawa Barat I Wayan Dusak melalui pesan singkatnya kepada wartawan, sebagaimana dikutip Antara, Kamis.

 

Hingga saat ini belum diketahui Nazaruddin ditempatkan di blok mana, tapi beredar kabar bahwa Nazaruddin akan ditempatkan di blok utara.

 

Di Lapas Sukamiskin juga dihuni koruptor lainnya, di antaranya mafia pajak Gayus Tambunan.

 

Pada 20 April 2012 Pengadilan Tipikor Jakarta menjatuhkan vonis terhadap Muhammad Nazaruddin dengan hukuman penjara empat tahun dan 10 bulan penjara, serta denda Rp200 juta, karena terbukti bersalah dan meyakinkan melakukan tindak pidana korupsi. Selain itu, Nazaruddin juga harus membayar denda Rp. 200 juta. (Dh)

 

gatra.com