METRO TV-NASDEM (Nasional Demokrat) Vs LUVIANA

METRO TV-NASDEM (Nasional Demokrat) Vs LUVIANA


Pernyataan Sikap Aliansi METRO: “Pekerjakan Kawan Kami Kembali” Pernyataan Sikap Aliansi METRO (Melawan Topeng Restorasi) “Pekerjakan Kawan Kami Kembali” Konstitusi menjamin hak setiap warga negara dalam berserikat, berkumpul dan mengeluarkan pendapat. Begitu pun dengan hak untuk bekerja serta mendapat imbalan dan perlakuan yang adil dan layak dalam hubungan kerja. Tapi yang dilakukan manajemen Metro TV terhadap jurnalis perempuannya, Luviana, seperti telah membalikkan tatanan nilai itu. Ia dibebastugaskan lantaran menuntut perbaikan kesejahteraan, manajemen ruang redaksi, serta tengah menggagas berdirinya organisasi pekerja yang mampu memperjuangan aspirasi karyawan di perusahaan televisi milik Surya Paloh, seorang pengusaha yang juga pendiri Partai Nasional Demokrat (NasDem) dan tengah gencar menggaungkan slogan Restorasi Indonesia itu. Sudah hampir tiga bulan Luviana dibebastugaskan tanpa alasan yang jelas. Manajemen Metro TV yang semula menyatakan Luviana tidak melakukan kesalahan apa pun, baik secara administratif maupun tugas jurnalistik, kini menganggap Luviana telah melakukan kesalahan karena dianggap telah berupaya mereformasi manajemen, mengajak karyawan Metro TV untuk memprotes manajemen, serta telah melakukan pencemaran nama baik karena menceritakan kepada orang lain tentang kasus kesewenang-wenangan yang ia alami. Tak hanya itu, tatkala dukungan publik kepada Luviana semakin deras mengalir, justru secara kasar Luviana malah dirumahkan oleh pihak manajemen

Wartawan Republika Raih Penghargaan Lomba Jurnalistik AJI Jakarta

Tema AJJ 2013 yang berlangsung di Galeri Nasional Jakarta, 22-23 Juni 2013.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta, Ahad (23/6), mengumumkan pemenang Apresiasi Jurnalis Jakarta (AJJ) 2013 dalam acara “Pesta Media 2013 Tetap Independen, Tidak Partisan” di Galeri Nasional, Jakarta.

Setelah melalui proses penjurian, juri memutuskan ada lima pemenang AJJ 2013 masing-masing untuk lima kategori, yaitu media cetak, online, radio, televisi dan foto. Pemenang untuk kategori media online terbaik adalah karya Erik Purnama Putra dari Harian Umum Republika dengan judul reportase Kondisi Citarum di Hulu dan Hilir.

Pemenang untuk kategori media cetak adalah reportase dengan judul Arisan Kenaikan Harga, Kelangkaan Bawang dan Carut Marut Tata Niaga Komoditas oleh Arief Ardiansyah, Lilin Yuliantina dan Andri Indradie, dari Mingguan Kontan.

Sementara pemenang kategori radio adalah reportase berjudul Perjuangan Bidan Bergaji Rp 15 Ribu karya Yudi Rahman dari Kantor Berita Radio (KBR) 68 H. Pemenang untuk kategori televisi adalah reportase berjudul Menanti Aksi Pemerintah di Geylang karya Monique Rijkers dari Metro TV. Dan karya foto dimenangkan oleh Fransiskus P Simbolon dengan judul Emma Menjemput Mimpi di Ibukota dari Harian Kontan.

Masing-masing pemenang berhak memperoleh sertifikat dan hadiah uang tunai masing-masing kategori sebesar Rp 5 juta. Hadiah tersebut diantaranya disediakan oleh PT Perusahaan Gas Negara (persero).

Juri dalam AJJ 2013 ini adalah Wenseslaus Manggut (Redaktur Pelaksana Viva.co.id) untuk kategori media cetak dan online, Eddy Suprapto (Wapemred RCTI) untuk kategori televisi, Margiono (Pendiri Indonesia Online Advocacy/IDOLA) untuk kategori radio, serta Arbain Rambey (Fotografer Kompas) untuk kategori foto.

Panitia dan empat juri menetapkan kriteria penilaian untuk semua karya yang mengikuti AJJ 2013, yakni manfaat untuk publik, kemampuan menggali data di lapangan, menembus narasumber yang tepat, orisinalitas, penulisan atau penyajian serta bahasa dan etika jurnalistik yang digunakan.

Apresiasi Jurnalis Jakarta 2013 cukup mendapat respons dari para jurnalis di Jakarta. Selama empat pekan masa pendaftaran, mulai 3 Mei – 10 Juni 2013, panitia menerima 71 karya jurnalistik dari media televisi, cetak, online, radio, dan foto.

Lomba jurnalistik yang diselenggarakan AJI Jakarta ini telah dimulai sejak 2002 dan diumumkan setiap tahun. Lewat lomba ini AJI Jakarta ingin mendorong para jurnalis dan media untuk terus meningkatkan kualitas karya-karya jurnalistiknya dan memberi manfaat bagi publik.

Publikasi lomba AJJ 2013 sudah disebar di berbagai milis jurnalis, lewat Facebook dan Twitter AJI Jakarta. Juga disebarkan melalui undangan kepada redaksi media cetak, online, radio dan televisi di Jakarta melalui fax dan email. Informasi juga dilakukan melalui berbagai media komunikasi dan sosial lainnya.

Ketua AJI Jakarta Umar Idris mengatakan, dari sejumlah karya yang dilombakan tahun ini, secara umum kualitasnya cukup bagus. Namun pengambilan tema, angle berita dan objek foto belum ada yang baru. Semua masih bermain dalam isu isu lama, meskipun manfaatnya untuk publik juga dinilai penting.

“AJI Jakarta berharap AJJ ini akan mendorong para jurnalis dan media untuk meningkatkan kualitas karya jurnalistiknya dan memiliki dampak yang positif bagi publik,” kata Umar.

google.co.id

Nasional | Ibas: Yulianis Mencemarkan Nama Baik Saya

Ibas: Yulianis Mencemarkan Nama Baik Saya

Edhie Baskoro. (Antara/Rosa Panggabean)

Liputan6.com, Jakarta : Sekretaris Jenderal Partai Demokrat, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) membantah pernyataan mantan Wakil Direktur Keuangan Grup Permai, Yulianis, yang menyebut dirinya ikut menerima uang dari proyek Hambalang.

“Saya tidak mengenal Yulianis, Saya juga tidak mengenal Mindo. Tuduhan itu sudah mencemarkan nama saya. Sudah saya katakan sebelumnya, 1000 persen itu tidak benar.” ujar Ibas dalam keterangan tertulis, Sabtu (16/3/2013).

Ibas menilai tudingan-tudingan ditujukan padanya adalah tuduhan lama yang diulang-ulang dan sumbernya tidak valid. Dari mulai tuduhan menerima dana Century, Hambalang atau apapun. Ibas menegaskan jangan sampai hal ini terus terulang. Apalagi, Ibas sudah berkali-kali membantah.

“Saya sudah sering dituduh. Penuduhnya pun sudah tervonis dan diketahui,” jelas putra bungsu Presiden SBY ini. “Saya tidak menerima apapun.” Ibas justru ingin mengetahui pihak mana yang sengaja menggunakan namanya untuk kepentingan kelompok tertentu.

“Saya Ketua SC kongres Partai Demokrat di Bandung. Saya tidak menerima uang apapun. Justru saya ingin tahu siapa yang dimaksud dan siapa yang mengatasnamakan saya bila benar uang itu diatasnamakan Saya.” terang Ibas.

Ibas mengaku, selama ini banyak diam. Tapi itu bukan berarti tidak bisa bersuara dan menuntut keadilan atas upaya-upaya yang merusak nama baiknya. Ibas curiga ada kepentingan politik di balik tudingan-tudingan yang di alamatkan kepadanya.

“Saya bertanya-tanya, ada kepentingan politik besar apa dibalik isu-isu ini yang menginginkan saya masuk dalam pusaran,” kata suami dari Alya Rajasa ini.

Ibas berharap, media dapat objektif dan profesional terkait isu ini. Ibas menghargai kebebasan pers, tetapi kebebasan yang beretika dan berdasarkan kode etik jurnalistik. “Agar kedepannya pers dapat menjaga profesionalitas profesinya,” ujar dia.

Seperti diketahui, pernyataan Yulianis itu disampaikan usai menjalani sidang di Pengadilan Tindak Pidan Korupsi, Jakarta Selatan. Yulianis, mengatakanIbas memang pernah mendapatkan uang sebesar USD200 ribu dari perusahaannya. Pemberian dilakukan saat Kongres Partai Demokrat di Bandung tahun 2010. “Benar, uang 200.000 dollar AS kepada Ibas itu terkait kongres di Bandung. Saya yakin,” kata Yulianis saat ditanya wartawan, Kamis (14/3). (Ism)

Nasional | Ingin Tahu Kaitan Bahasa dan Kode Etik Jurnalistik? Ikuti Seminar Ini

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA — Masalah kode etik jurnalistik hingga saat ini masih disorot banyak kalangan. Terutama menyangkut independensi wartawan saat menulis beritanya.

Kode Etik Jurnalistik mengamanatkan agar wartawan independen dalam sikap, sehingga  karya yang dihasilkan berimbang, objektif, dan tidak memihak. Namun, apakah ‘independen’ juga diperlukan dalam berbahasa? Jika ‘ya’, dalam hal apakah seorang wartawan harus independen dalam soal bahasa ini? Bolehkan sikap tersebut ‘menabrak’ kaidah bahasa yang berlaku? Ataukah hanya dalam kaitan dengan penggunaan pilihan kata yang bisa jadi berbeda dengan yang disampaikan oleh narasumber?

Berbagai pertanyaan soal Kode Etik Jurnalistik dan bahasa, akan akan dibahas dalam diskusi bahasa bertema “Kode Etik Jurnalistik dan Penggunaan Bahasa dalam Pemberitaan” yang diselenggarakan Forum Bahasa Media Massa (FBMM) bekerja sama dengan Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara dan Kemenkopolhukan pada Kamis 14 Maret 2013 di Auditorium Adhyana, Wisma Antara Lantai II, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat.

Akan hadir sebagai narasumber dalam diskusi tersebut Wina Armada Sukardi, anggota Dewan Pers 2008 – 2013 yang membidangi masalah kode etik jurnalistik; Dr. Dendy Sugono, mantan Kepala Pusat Bahasa Depdiknas (kini Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemdiknas), Ahmad Kusaeni dari LKBN Antara; dan J.Kristiadi dari CSIS. Sebagai moderator adalah T.D.Asmadi, Ketua FBMM.

Wina Armada antara lain akan membahas masalah kode etik dan penerapannya berkaitan dengan bahasa. Juga kasus-kasus yang terjadi karena ketidaktepatan bahasa. Dendy Sugono tentang pilihan kata agar tidak melanggar kode etik. Syarat apa sajakah agar pilihan kita tepat, sesuai dengan fakta.

Ahmad Kusaeni akan membicarakan berbagai masalah dalam praktik penegakan kode etik yang berkaitan dengan bahasa. Sebagai praktisi dia memiliki segudang pengalaman berkaitan dengan penegakan kode etik.

Sedangkan J.Kristiadi akan mengemukakan penjelajahan dan pendalamannya tentang berbagai ketidaktepatan media yang berkaitan dengan bahasa dan juga isi.
Diskusi akan dimulai pukul 12.00 didahului dengan makan siang. Setelah pembukaan akan ada pidato kunci dari Seskemenkopolhukam. Para pegiat media, baik yang cetak maupun yang elektronik diharapkan kehadirannya dalam rangka memperkuat profesi dan ketrampilan berbahasa. Masyarakat  umum pun, termasuk para guru bahasa, diundang menghadiri diskusi yang tanpa dipungut biaya ini.

Gus Ipul `Mlaku` Bareng dengan Ribuan Warga Surabaya


Gus Ipul `Mlaku` Bareng dengan Ribuan Warga Surabaya - Sambut HUT PWI Jatim dan HPN - Gus Ipul didampingi Ketua PWI, Munir, ikut meramaikan acara jalan sehat

Gus Ipul didampingi Ketua PWI, Munir, ikut meramaikan acara jalan sehat(Foto: sarifa)

LENSAINDONESIA.COM: Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jatim menggelar serangkaian acara dalam memperingati HUT ke 67 PWI dan Hari Pers Nasional 2013 Tingkat Jawa Timur. Setelah acara donor darah dan pengobatan gratis yang dilakukan beberapa waktu lalu, kali ini PWI Jatim menggelar acara jalan santai yang bertema mlaku Bareng Pak Dhe Karwo dan Gus Ipul di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Minggu (3/3/2013).

Acara ini diikuti oleh ribuan peserta dari seluruh lapisan masyarakat, seperti warga Surabaya, anggota PWI Jatim, wartawan, pegawai pemerintahan dan pejabat yang diberangkatkan langsung oleh Wakil Gubernur Jatim, Saifullah Yusuf. Sementara Gubernur Jatim, Soekarwo berhalangan hadir karena masih bertugas di Swiss-Eropa.

Baca juga: Gus Ipul Berharap Dukungan Partai Golkar Dalam Pilgub Jatim dan Superior, Pasangan KarSa II Tunggu Lawan dari Independen?

Gus Ipul (sapaan akrab Saifullah) mendukung acara yang melibatkan banyak masyarakat seperti ini. “Dengan mlaku bareng seperti ini banyak pihak yang mendapatkan manfaatnya, utamanya pemerintah. Kita sambut baik upaya PWI Jatim untuk pertemukan banyak pihak ini,” ungkapnya.

Menurutnya, pers sekarang ini jauh berbeda dengan masa orde baru. “Pers sekarang adalah pers yang bebas, yang diseleksi langsung oleh masyarakat pers sendiri dan oleh rakyat. Sehingga tidak ada alasan bagi insan pers di Indonesia khususnya Jawa Timur untuk tidak memperbaiki diri dan melaksanakan tugas secara profesional sesuai kaidah jurnalistik dan jauh dari intrik,” tegasnya.

Dalam acara ini Gus Ipul juga ikut mlaku bareng, membaur dengan masyarakat. Rute dari jalan santai ini yakni start dari Grahadi, Panglima Sudirman, Patung Karapan Sapi, Basuki Rahmat dan finish di Grahadi.

Selain itu, PWI Jatim juga hujani para peserta mlaku bareng dengan banyak doorprize. Seperti 5 buah sepeda motor, 10 buah sepeda angin, lemari es, televisi, kipas angin, rice cooker, dispenser dan ratusan hadiah hiburan lainnya. @sarifa

Berita Terkait: