Jokowi Tegaskan Dukung Rieke-Teten

Jokowi Tegaskan Dukung Rieke-Teten


Bandung: Usai melakoni sejumlah kegiatan yang padat di Jakarta, Joko Widodo meluncur ke Bandung, Jawa Barat, Ahad (18/11) siang. Gubernur DKI Jakarta itu berniat kembali menyatakan dukungannya pada pasangan Cagub dan Cawagub Jawa Barat, Rieke Diah Pitaloka-Teten Masduki. Jokowi disambut ratusan simpatisan pasangan Rieke-Teten begitu tiba di markas Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Bandung, Jawa Barat. Jokowi datang dengan mengenakan baju kotak-kotak. Jokowi mengaku memiliki kesamaan dengan Rieke dalam proses pemilihan Gubernur, yaitu sama-sama tidak memiliki sokongan dana yang besar. Mereka juga sama-sama sering turun langsung ke masyarakat dalam membangun daerah. Gubernur DKI Jakarta itu menegaskan mendukung pencalonan Rieke Diah Pitaloka dan Teten Masduki sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat. Keduanya dinilai telah lama aktif membela rakyat dan peduli terhadap pemberantasan korupsi. (Wtr4)

Nasional | Usai Pasar Minggu, Jokowi Cek Pengungsi Banjir di Rawa Buaya



Jakarta – Usai meninjau korban banjir di Pasar Minggu, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo berencana akan meninjau pengungsi yang ada di Rawa Buaya, Jakarta Barat. Jokowi berencana akan memberikan bantuan kepada mereka.

Bantuan yang diberikan berupa bahan-bahan makanan. Informasi yang didapat, ada ribuan pengungsi yang membutuhkan bantuan pangan di lokasi itu.

“Ke Rawa Buaya, Katanya di sana ada 4 ribuan yang ngungsi, itu saya mau cek,” ujar Jokowi di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Selasa (15/1/2013).

Jokowi mengatakan bantuan pangan berupa lauk dan beras tidak hanya diberikan kepada beberapa wilayah di DKI Jakarta. Namun juga ke semua wilayah Jakarta yang terkena banjir.

“Tapi kan tidak di sini saja, Kemungkinan di daerah ya yang dikepung banjir, ada Rawa Buaya, ada Kampung Pulo, Kampung Melayu, di Bukit Duri, Tebet juga ada, semuanya lah mau kita tengok,” ungkapnya.

Jokowi pun sempat bercanda kepada para wartawan yang senantiasa mengikuti dirinya agar pulang. Ia meminta agar para wartawan juga menjaga kesehatannya.

“Tapi nggak usah ikutlah (ngomong sama wartawan). Sampe malem nanti dengan saya. Hujan lagi, nanti masuk angin Heheh..,” canda Jokowi.

(ndu/mok)

Pesan Prabowo Subianto untuk Gubernur DKI Jakarta Jokowi dan Basuki

Pesan Prabowo Subianto untuk Gubernur DKI Jakarta Jokowi dan Basuki


Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Prabowo Subianto berpesan kepada Jokowi dan Basuki agar tidak korupsi, tidak mencuri uang rakyat, tidak akal-akalan proyek, karena rakyat menuntut pemimpin yang bersih, jujur dan profesional. Jika Jokowi dan Basuki tidak amanah, Prabowo yang akan memimpin demonstrasi untuk menurunkan Jokowi dan Basuki. Namun Prabowo yakin ia tidak akan pernah perlu melakukan hal tersebut, karena Jokowi dan Basuki memiliki integritas, jejak rekam yang baik, serta pengalaman sebagai walikota dan bupati dengan bersih.

Fadli Zon : Jokowi Tak Takut Foke Didukung Koalisi Partai

Fadli Zon : Jokowi Tak Takut Foke Didukung Koalisi Partai


“Melihat putaran pertama, Jokowi-Ahok optimis tetap akan menang pemilukada. Partai politik adalah salah satu syarat saja. Tapi pada akhirnya yang menentukan warga jakarta sendiri.” Kubu calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo (Jokowi) – Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), mengaku tak gentar dengan banyak partai yang mendukung calon petahana (incumbent) Fauzi Bowo (Foke)-Nachrowi Ramli (Nara). Hal itu dilontarkan salah satu tim pendukung Jokowi-Ahok, sekaligus Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon kepada Beritasatu TV, Senin (13/8). Menurutnya, warga DKI sangat dekat dengan akses informasi. Sehingga, mereka lebih mudah untuk dapat mengetahui track record dua kandidat yang bertarung. “Melihat putaran pertama, Jokowi-Ahok optimis tetap akan menang pemilukada. Partai politik adalah salah satu syarat saja. Tapi pada akhirnya yang menentukan warga jakarta sendiri,” tandasnya. Peluang Jokowi-Ahok, lanjutnya, masih sangat terbuka, karena sentimen untuk perubahan cukup tinggi. Apalagi, selama lima tahun pemerintahan, Foke tidak banyak membuat kemajuan bagi warga Jakarta. “Ini adalah pertarungan antara keinginan untuk berubah atau mempertahankan status quo. Koalisi pragmatis melawan koalisi rakyat,” paparnya. Lebih lanjut Fadli menuturkan bahwa Jokowi-Ahok memiliki integritas, kejujuran dan kesetiaan terhadap program. Terlebih, Jokowi-Ahok juga mampu melayani rakyat, bukan cuma ingin dilayani. “Rakyat DKI ingin pemimpin yang jujur dan mampu melayani bukan ingin

DPRD Hambat Jokowi Lewat APBD 2013

DPRD Hambat Jokowi Lewat APBD 2013


Dituding Hambat Jokowi, Ini Jawaban DPRD DKI Jumat, 7 Desember 2012 JAKARTA, KOMPAS.com — Ketua DPRD DKI Jakarta Ferrial Sofyan menampik tudingan bahwa dirinya sengaja menghambat waktu pengesahan anggaran DKI untuk tahun 2013. Baginya, proses pembahasan anggaran tak bisa diprediksi akan berjalan cepat atau sebaliknya. “Sama sekali DPRD tidak menghambat. Kegiatan pembahasan itu proses, bisa cepat, bisa lambat, dan saya yang bertanggung jawab supaya pembahasan ini dapat berkualitas,” kata Ferrial di gedung DPRD Jakarta, Jumat (7/12/2012). Dia mengatakan, kunci skema anggaran untuk menjalankan seluruh program DKI pada tahun depan ada dalam penyusunan Kebijakan Umum Anggaran (KUA) serta Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (PPAS). Nantinya, kelahiran Rancangan APBD atau ketika disahkan menjadi APBD sangat dipengaruhi oleh kualitas dalam KUA-PPAS tersebut. Suatu kegiatan dalam pembangunan, kata dia, harus bisa dilaksanakan saat semua masalah administrasi dan keuangannya telah memenuhi persyaratan. Bila tak teliti, dia khawatir nantinya akan muncul masalah dari hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan. “Sekarang, kan, banyak program baru. Sesuatu yang luar biasa ini harus diperhatikan, dan memenuhi persyaratan,” ujarnya. Untuk diketahui, kesalapahaman belum dicapai di level legislatif atas empat program Joko Widodo. Yakni mengenai mekanisme hibah bus, sumber dana Kartu Jakarta Sehat (KJS), pembangunan jalan layang non-tol dari Ciledug sampai Blok M, dan penataan kampung

Mereka-reka Cawapres Jokowi

Mereka-reka Cawapres Jokowi

Headline

Calon Presiden RI, Joko Widodo – (Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta – Siapakah yang bakal jadi pendamping Jokowi sebagai capres PDI Perjuangan? Apakah dari kalangan sipil atau militer? Dari Jawa atau luar Jawa? Pertanyaan-pertanyaan itu masih mengemuka sampai cawapres Jokowi secara definitif ditetapkan PDIP.

Pastikah Jokowi menang? Kemungkinan kalah masih terbuka. Salah satu penentu kekalahannya, tidak tertutup kemungkinan, adalah ketidaktepatan memilih pasangan calon wapresnya.

Jokowi hampir pasti berhadapan dengan Prabowo Subianto, dan itu penantang yang serius. Tidak ada jaminan bahwa popularitas Jokowi bakal dengan mudah mengalahkan Prabowo. Bahkan, Prabowo justru berpeluang menang kalau cawapres Jokowi bukan sosok yang tepat.

Jika sosok itu terlalu tua atau terlalu berorientasi pasar atau bisnis, misalnya, bisa jadi ganjalan tersendiri. Atau jika sosok cawapres Jokowi itu lebih pro-neoliberalisme dan bukan pro rakyat, berkarakter ambigu dan bermuka janus, misalnya, yang bisa mendulang resistensi tinggi dari masyarakat menengah ke bawah, juga bisa menyebabkan kekalahan Jokowi.

Seperti kata M Alfan Alfian, sesungguhnya Jokowi, secara perorangan, sudah sangat populer belakangan ini sebagai capres. Ia terlontar sekaligus pelontar. Ia memperoleh momentum naik tangga kekuasaan, di tengah krisis model “kepemimpinan yang lain”.

Dengan posisinya sebagai ekstrem model kepemimpinan yang berbeda dengan model Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Jokowi naik daun. Ia mendekonstruksi kepemimpinan arus utama. Model blusukan, yang lazim saja dilakukan siapa pun, di tangannya menjadi “sesuatu”. Jokowi kini berada dalam posisi ekstrem alternatif, dan itulah yang diyakini merevisi potensi golput. Artinya, golput diyakini bakal menurun karena ada pilihan bernama Jokowi.

Benarlah pandangan Alfan Alfian bahwa Jokowi, dengan gaya apa adanya, cenderung masuk ke kategori–meminjam Herbert Feith–solidarity maker. Dalam arti dia seorang pemimpin populis, penggalang massa dan seolah hanya dengan cara menyapa publik setiap saat, itulah model kepemimpinan yang terbaik saat ini.

Itu memang tidak salah, tapi belum sepenuhnya lengkap. “Yang mendampinginya, sebagai calon wakil presiden, semestinya sosok dengan tipe administrator atau problem solver, yang memastikan sistem pemerintahan bekerja dengan baik dan efektif,” ungkap Alfan Alfian, pengamat politik.

Lalu, siapa cawapres yang mendampingi Jokowi? Dalam kaitan ini, LSM Imparsial menyatakan tak setuju jika cawapres Jokowi diambil dari kalangan militer. Direktur Imparsial, Al Araf, menuturkan adanya kekhawatiran Jokowi tidak bisa mengendalikan militer jika cawapresnya tidak berasal dari militer, harus dilawan.

Menurutnya anggapan seperti itu adalah anggapan sesat. Ia kemudian mencontohkan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang berasal dari militer pun, tampak tidak tegas dan penuh kebimbangan saat hendak mengambil kebijakan. Karena itu, pasangan Jokowi seyogianya sosok yang melengkapinya, perpaduan solidarity maker dan administrator.

Dalam hal ini, teknokrat atau pemecah masalah dari kalangan sipil sebetulnya lebih dibutuhkan agar kompleksitas persoalan pasca rezim SBY, bisa dipecahkan, dalam suatu koalisi nasionalis yang memihak kepentingan rakyat banyak. Tidak mudah bukan? [berbagai sumber]

Rekomendasi Untuk Anda


  • MUI Dukung PPP Jadi Wadah Politik Umat Islam

    MUI Dukung PPP Jadi Wadah Politik Umat Islam


  • “Sudah Saatnya Gerrard Angkat Piala Liga Primer”

Inilah.com

Wiranto Tak Mau Mikirin Jokowi

Wiranto Tak Mau Mikirin Jokowi

Headline

Calon Presiden Wiranto dan Joko Widodo atau Jokowi – (Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jember – Calon Presiden dari Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) Wiranto, tak mau memikirkan capres yang dianggap lawan terberat, Joko Widodo atau Jokowi.

Wiranto enggan energinya tersita lantaran PDIP resmi mengusung Jokowi, yang menurut berbagai lembaga survei elektabilitasnya sangat tinggi. Wiranto belum mau berkompromi politik.

“Kami fokus memenangkan pemilihan umum legislatif dulu. Kami tetap serius. Kami pada tahap terakhir meyakinkan masyarakat bahwa Partai Hanura ikhlas tulus memperjuangkan rakyat,” kata Wiranto, usai kampanye di di Gedung Serba Guna Kaliwates, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Kamis (20/3/2014).

Hanura ingin melaksanakan pesan para pendiri negara. Juga Hanura ingin membangun negara Indonesia yang bersatu, berdaulat, adil, dan makmur.

“Selama 69 tahun kita merdeka, kita belum sepenuhnya mewujudkan pesan dan warisan itu,” kata Wiranto.

Salah satunya yang disorot Wiranto adalah belum berdaulatnya pangan di Indonesia. Padahal, Indonesia pernah swasembada beras.

“Saat ini kita sedih dan khawatir dengan komoditas pangan, seperti buah-buahan, susu, yang tergantung luar negeri. Kita belum mampu menjadi satu negara yang dapat memenuhi kebutuhan sebagian besar pangan bagi bangsa Indonesia,” jelas Wiranto.

Tidak hanya itu, lanjut dia, persoalan energi juga kita masih tergantung pihak asing. Padahal, energi itu diambil dari sumber daya alam Indonesia.

“Belum lagi kita bicara kedaulatan energi, kedaulatan kebudayaan. Ini semua jadi pekerjaan rumah pemerintah akan datang untuk melakukan langkah serius,” tambah Wiranto. [beritajatim]

Rekomendasi Untuk Anda



  • “Sudah Saatnya Gerrard Angkat Piala Liga Primer”

  • Mereka-reka Cawapres Jokowi

    Mereka-reka Cawapres Jokowi

Inilah.com