Nasional | Genangan Air di Jalan Raya Jatinegara, Lalin Macet 2 Km



Jakarta – Hujan deras yang mengguyur wilayah DKI Jakarta mengakibatkan beberapa wilayah digenangi air. Salah satunya di Jalan Raya Jatinegara, Jakarta Timur. Genangan air yang berasal dari luapan sungai Ciliwung mengakibatkan jalanan menjadi macet.

Berdasarkan pantauan detikcom, Selasa (15/1/2013) malam, arus kendaraan dari arah Kampung Pulo menuju Kantor Sudin Kesehatan, Jakarta Timur macet sepanjang 2 Km. Ketinggian genangan air pun bervariasi. Ada yang mencapai semata kaki, lutut orang dewasa hingga 20 cm.

Akibat genangan air tersebut para pengendara melambatkan kendaraannya. Kemacetan pun tidak bisa terelakan lagi. Hingga kini situasi masih terpantau padat, ditambah dengan banyaknya sampah plastik yang memenuhi genangan air.

Sebelumnya Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), daerah yang berpotensi terkena banjir yakni di daerah sekitar bantaran Sungai Ciliwung yaitu di Rawajati, Kalibata, Pengadegan, Gang Arus/Cawang, Kebon Baru, Bukit Duri, Bidara Cina, dan Kampung Melayu.

(ndu/mok)

Nasional | Perbaikan Jalan di Jakarta Pasca Banjir Capai Rp 55 Miliar

Perbaikan Jalan di Jakarta Pasca Banjir Capai Rp 55 Miliar

Jalan rusak, ilustrasi

, JAKARTA — Banjir yang melanda sebagian besar wilayah Jakarta dan sekitarnya pekan lalu telah mengakibatkan kerusakan jalan di berbagai tempat. Diperkirakan, dana yang dibutuhkan untuk memperbaiki kerusakan tersebut mencapai Rp55 miliar.

Direktur Jenderal (Dirjen) Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum, Djoko Murjanto, mengatakan, dana sebesar Rp 55 miliar itu diperlukan untuk penanganan berupa penutupan lubang, pelapisan setempat (overlay), pembersihan dan perbaikan saluran samping serta trotoar. Menurut dia, dari 453 Km panjang jalan nasional di Jakarta dan sekitarnya (Jabodetabek), 106 Km diantaranya mengalami kerusakan akibat banjir. Namun kerusakan tersebut berupa spot-spot, bukannya menyeluruh pada sepanjang 106 Km tersebut.

“Kerusakan tersebut sebagian hanya kerusakan ringan yang bukan kerusakan struktural sehingga bisa ditangani melalui pemeliharaan rutin,” kata Djoko.

Ia menjelaskan, kerusakan paling banyak dialami jalan nasional di Jakarta. Bahkan, untuk jalan di daerah Marunda, Jakarta Utara perbaikannya memerlukan kajian lebih dalam untuk mengetahui penanganan yang tepat. “Marunda sempat tenggelam, itu sebelumnya sudah kita naikkan, masih harus pakai kajian lebih lanjut dahulu apakah akan kita naikkan alagi atau mau diapakan,” ucap Djoko.

Adapun beberapa jalan nasional di ibukota yang mengalami kerusakan antara lain jalan TB. Simatupang, Jalan Raya Bogor, jalan Trans Yogi dan jalan Mayjen Sutoyo. Kerusakan juga terjadi pada jalan S. Parman, jalan Latumenten, jalan Pluit Selatan Raya, jalan Lodan Raya serta jalan Taman Stasiun Priok.

Mengenai sumber dana perbaikan darurat jalan-jalan di Jakarta, menurut Dirjen Bina Marga, dari kebutuhan dana perbaikan tanggap darurat Rp 55 miliar tersebut, sebanyak Rp 23 miliar akan diambil dari dana pemeliharaan rutin jalan Jakarta. Sementara sisa kekurangannya, akan dicarikan dari pos anggaran lain di Ditjen Bina Marga.

Setelah selesainya perbaikan tanggap darurat, menurut Dirjen Bina Marga Kementerian PU Djoko Murjanto, jalan-jalan tersebut juga memerlukan perbaikan permanen.“Perbaikan permanen jalan kawasan Jabodetabek memerlukan Rp 90 miliar. Dana tersebut akan digunakan untuk penanganan berupa peningkatan jalan senilai Rp 80 miliar di Daan Mogot, Jakarta Barat dan Rp 10 miliar untuk perbaikan di daerah Puncak, Jawa Barat,” pungkas Djoko.

Nasional | Kemacetan di Jalan Raya Ciawi Makin Parah

Kemacetan di Jalan Raya Ciawi Makin Parah

Ratusan kendaraan terjebak kemacetan di kawasan Puncak Cisarua, Bogor, Jawa Barat.

, BOGOR — Jalan rusak sering  kali menjadi sumber kemacetan. Salah satunya di jalan Raya Ciawi, Cikereteg yang setiap hari mengalami kemacetan.

Jalanan berlubang, berkelok dan cukup sempit membuat volume kendaraan tak mampu tertampung sempurna sehingga menyebabkan antrean panjang. Pantauan //// pada hari kerja, Senin hingga Jumat, antrean kendaraan terjadi sekitar siang dan sore hari hingga malam.

Namun, pada akhir pekan, antreannya dapat terjadi sepanjang hari. Daden Abidin, pengendara yang melintas jalan tersebut di kawasan Rancamaya, Rabu (23/1) pagi sekitar pukul 08.00 WIB mengatakan kemacetan terjadi karena jalanan rusak.

Ia mengaku mengalami //stuck// selama hampir 30 menit dan selebihnya padat merayap. ”Kondisi jalanannya parah, kendaraan juga tidak teratur,” ujar Daden.

Jalan Raya Sukabumi memang menjadi satu-satunya jalan yang menghubungkan Sukabumi dan Bogor. Kendaraan yang melintasinya di dominasi oleh kendaraan pribadi, angkutan umum hingga truk-truk dan bahkan kontainer.

Pasalnya, beberapa daerah Sukabumi merupakan kawasan industri dan perdagangan. Banyak perusahaan besar lokal, nasional hingga asing berdiri di Sukabumi, sehingga satu-satunya jalan distribusi hanya melalui jalan tersebut.

Jalan provinsi ini memiliki lebar yang tidak seragam di beberapa titik. Seperti di kawasan Rancamaya, lebar jalan hanya dapat memuat tiga kendaraan sementara di kawasan tikungan Cikereteg hanya memuat dua kendaraan.

Tri Saputri pernah mengendarai sepeda motornya melewati jalanan ini pada akhir pekan mengaku kemacetan sangat parah. ”Banyaknya motor juga mempengaruhi karena kebanyakan //main serobot//, kan jalannya kecil,” ujarnya.

Pantauan //Republika// pada akhir pekan beberapa waktu lalu, kendaraan di sepanjang jalan dari arah Ciawi, Ciderum, Cikereteg hingga Caringin tersendat. Ribuan mobil pribadi, sepeda motor, truk, kontainer, angkutan kota (angkot), dan angkutan umum lainnya //berjubel// menyusuri jalanan yang sempit, berkelok dan sebagian rusak.

Bahkan, di beberapa titik, ruas jalan dipenuhi kendaraan menuju Bogor saja. Sehingga kendaraan yang akan menuju ke arah Sukabumi terpaksa harus melalui bahu jalan yang masih berupa tanah. Antrean kendaraan diprediksi hingga lebih dari 17 kilometer. Dari pantauan //Republika//, tampak beberapa polisi lalu lintas berupaya menormalkan kembali arus lalu lintas di beberapa titik macet.

Tri mengatakan kemacetan yang terjadi parah jika akhir pekan. Untuk mengakali kemacetan yang terjadi, menurutnya, sering kali pengendara menggunakan jalan alternatif menuju Cicurug, Sukabumi melalui kawasan Cipaku, Cihideung, Bogor meskipun jalannya pun sempit. Namun tak jarang, jalur ini pun dilanda kemacetan pada akhir pekan.

Nasional | Korban Kecelakaan Akibat Jalan Berlubang Bisa Tuntut Pemerintah



Jakarta – Jalanan yang berlubang menjadi buntut dari banjir yang merendam Jakarta. Sejumlah pengendara menjadi korban karenanya. Perlu diketahui, sebagai warga negara, pengguna jalan bisa menuntut para penyelenggara jalan jika terjadi kecelakaan akibat jalan rusak. Dalam hal ini Pemprov DKI, pemerintah pusat, maupun swasta.

“Hal ini terdapat dalam pasal 24 ayat 1 UU No 22 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan yang menyatakan penyelenggara jalan wajib segera dan patut untuk memperbaiki jalan yang rusak yang dapat mengakibatkan kecelakaan lalu lintas,” jelas Ketua Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat (ADAMSCO) David Tobing kepada detikcom, Rabu (23/1/2013).

“Jadi (kalau belum bisa diperbaiki) harus diberikan tanda bahwa jalan tersebut rusak untuk menghindari terjadinya kecelakaan,” lanjutnya.

Kalau penyelenggara jalan tidak memasang tanda pada jalan rusak, maka ketentuan pidana atas pelanggaran Pasal 24 ayat (2) diatur dalam Pasal 273 ayat (4) sehingga penyelenggara jalan terancam pidana penjara paling lama 6 bulan atau denda paling banyak Rp 1,5 juta.

Lebih lanjut, David mengatakan jika penyelenggara jalan tidak segera memperbaiki kerusakan dan mengakibatkan munculnya korban, maka akan ada ancaman sanksi pidana. Jika korban mengalami luka ringan dan/atau kerusakan kendaraan ancaman hukumannya adalah paling lama 6 bulan penjara atau denda paling banyak Rp 12 juta.

Sementara jika korban mengalami luka berat, maka penyelenggara jalan bisa terancam pidana penjara paling lama 1 tahun atau denda paling banyak Rp 24 juta. Dan jika korban sampai meninggal dunia, maka penyelenggara terancam penjara paling lama 5 tahun atau denda paling banyak Rp 120 juta.

“Hal ini tertera dalam Pasal 273,” kata David.

“Menurut saya korban luka, meninggal atau yang mengalami kerusakan motor atau mobil masih bisa menuntut penyelenggara jalan secara perdata dengan dasar perbuatan melawan hukum,” imbuhnya.

Seperti diketahui, pertanggungjawaban atas ruas jalan di Jakarta terbagi atas jalan nasional oleh pemerintah pusat, jalan Provinsi dan jalan kota oleh Pemerintah Provinsi.

(sip/trq)

Nasional | Ini 13 Ruas Jalan di Jakarta Masih Tergenang Banjir

Ini 13 Ruas Jalan di Jakarta Masih Tergenang Banjir

Aktivitas warga Pluit di tengah kepungan Banjir yang empat hari telah menggenangi kawasan mewah Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara, Ahad (20/1).

,  JAKARTA — Sejumlah ruas jalan umum di wilayah Jakarta Utara dan Jakarta Barat masih tergenang air sampai setinggi 70 centimeter, demikian keterangan dari Traffic Management Centre (TMC) Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta.

“Ada 13 titik yang tidak bisa dilewati kendaraan umum yang tersebar di Jakarta Utara dan Jakarta Barat, para pengendara pun diimbau agar berhati-hati,” tulis TMC Polda Metro Jaya di laman resmi yang dipantau di Jakarta, Selasa malam.

TMC mencatat di kawasan Jakarta Barat terdapat lima titik genangan dan di daerah Jakarta Utara ada tujuh luapan air yang sampai hari keenam darurat banjir belum juga surut.

Lima titik genangan di ruas-ruas jalan Jakarta Barat yang tidak bisa dilintasi kendaraan adalah Jalan Gedung Panjang dengan tinggi air 30 cm, Jalan Pancoran ke Pasar Pagi (40 cm), Jalan Perniagaan Pasar Pagi (40 cm), Jalan Susilo di belakang Terminal Grogol (30 cm), dan Jalan Muwardi (20 cm).

Sementara itu di Jakarta Utara ketinggian air di tiga titik mencapai 70 cm atau setara dengan pinggang orang dewasa. Ketiga titik genangan air itu terdapat di Jalan Pluit Timur, Jalan Pluit Raya Selatan, serta Jalan Pluit Putra dan Putri.

Empat luapan air lain di wilayah Jakarta Utara terdapat di Jembatan 3 (50 cm), Muara Baru (50 cm), sekitar kepolisian Sektor Penjaringan (30 cm), dan Jalan Gedong Panjang arah Muara Baru (30 cm).

Jakarta Utara dan Jakarta Barat memang adalah wilayah yang terkena dampak banjir paling parah dengan jumlah pengungsi di masing-masing wilayah secara berurutan mencapai 5.040 jiwa dan 24.529 jiwa sampai pada Selasa.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sendiri memusatkan penanganan banjir di wilayah Pluit Jakarta Utara dan telah berkoordinasi dengan Kesatuan TNI Angkatan Darat, Kepolisian RI, Badan SAR Nasional, Kementerian Kesehatan dan sejumlah relawan lainnya. Mereka menggunakan ratusan perahu karet dan truk untuk mengevakuasi korban, mendistribusikan bantuan logistik dan kebutuhan dasar.

“Logistik yang ada saat ini mencukupi kebutuhan kebutuhan semua pengungsi,” kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho.

Jumlah pengungsi secara keseluruhan mencapai 33. 502 jiwa atau turun sebanyak 12.425 dari hari sebelumnya. Sementara itu jumlah kematian yang tercatat di BNPB sampai berita ini diturunkan sebanyak 20 orang.