‘Setop Pembangunan Mal di Jakarta, Perbanyak Area Hijau’

Anak-anak sedang bermain di taman bermain (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA — Jumlah mal di Jakarta jumlahnya sangat fantastis. Calon Senator dari daerah pemilihan DKI Jakarta, Rommy mengungkapkan, Jakarta bertengger di urut pertama di dunia sebagai kota dengan jumlah mal terbanyak.

”Ini bisa jadi bukti masifnya pembangunan. Tapi, apakah ini pertanda positif? Pembangunan mall bukan satu-satunya cara untuk menstimulasi gegap gempita perekonomian di Jakarta,” ujar calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dari DKI Jakarta itu, Senin (23/9).

Rommy menegaskan, jumlah mal yang ada sekarang sudah lebih dari cukup.  Diakuinya, mal memang selama ini sebagai pusat perputaran ekonomi sekaligus sebagai sarana rekreasi dan ajang interaksi masyarakat perkotaan.

“Akan tetapi, perlu dipikirkan, bagaimana tata kota Jakarta agar masyarakat,dan khususnya anak-anak bisa memiliki hak atas taman bermain, udara yang sehat, zona hijau, dan bebas dari kemacetan sebagai penyebab stress yang menyebabkan penyakit,” cetus Rommy.

Ia khawatir jika semakin banyak lahan yang dimasifkan untuk pembangunan mal, maka pembangunan taman bermain,udara yang sehat, zona hijau, sulit untuk dilaksanakan.

Menurut Rommy, anak-anak sebagai generasi penerus akan memiliki kualitas kehidupan yang sangat menyedihkan jika tidak ada lagi area hijau, taman bermain, polusi dan macet dimana-mana.

”Jika tingkat masifnya perputaran uang yang dijadikan prioritas dan melupakan lingkungan sehat di DKI, maka kualitas kehidupan juga tidak akan prima,” tutur Rommy.

Ia menyarankan agar DKI Jakarta lebih banyak membangun kawasan hijau, dan juga pengembangan pasar-pasar tradisional yang bersih dan mudah diakses, untuk memberi kesempatan bagi produk lokal semakin mendapat tempat dan pasar.

“Jika pasar tradisional dikelola dengan baik, hal ini tentu menguntungkan tidak hanya untuk petani lokal yang taraf hidupnya pas-pasan, tapi ini juga akan berdampak pada terbantunya masyarakat kalangan menengah kebawah karena memiliki banyak alternatif harga untuk mengurangi konsumsi rumah tangga,” ungkapnya.

Rommy menilai pemerintah DKI yang saat ini tegas melakukan moratorium pembangunan mal harus diacungi jempol, karena sejak dulu moratorium selalu gagal.

“Kepentingan pemodal besar selalu mendapat dukungan. Karena itu, kebijakan pro-poor oleh pemerintah DKI saat ini yang mendukung pedagang kecil, pengelolaan pasar tradisional, dan zona hijau perlu terus didorong agar Jakarta tidak meng-eksklusi masyarakat yang berpenghasilan rendah.”

 

google.co.id

KLH-Kadin Mou Produksi Hijau

Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) menandatangani MoU dengan Kadin tentang penerapan konsumsi dan produksi berkelanjutan di Indonesia atau inisiatif ’10 Years Sustainable Consumption and Production (SCP)’. MoU ditandatangani bersamaan dengan penyelenggaraan Rakernas Kadin bidang Agribisnis dan Pangan di Pekanbaru, Selasa (17/9), seperti siaran pers KLH.

MoU bertujuan meningkatkan gaya hidup hijau di masyarakat dan dunia usaha. Yaitu, agar konsumen dan dunia usaha mengonsumsi produk berkelanjutan. Serta memanfaatkan barang/jasa dan teknologi ramah lingkungan.

Menteri Lingkungan Hidup, Balthasar Kambuaya dalam sambutannya menyatakan dunia usaha menjadi mitra pemerintah memajukan konsumsi dan produksi berkelanjutan. Karena dunia usaha memegang peran strategis di bagian hulu, yaitu mencakup perumusan strategi bisnis, perencanaan investasi, desain produk, dan pemilihan teknologi produksi, pemilihan lokasi dan hal lainnya.

hukumonline.com

Penyu Hijau di Kepulauan Derawan Kian Langka Diduga Akibat Perburuan Liar


dok detikcom

Samarinda, – Populasi Penyu Hijau (Chelonia Mydas) di Kepulauan Derawan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur (Kaltim), kian menyusut diduga akibat perburuan liar kapal nelayan yang menebar pukat di area konservasi salah satu satwa langka di dunia itu.

Kapal nelayan berbadan besar yang menebar jaring pukat di sekitar Pulau Sangalaki dan Pulau Semama, tidak hanya mengancam kelangsungan populasi penyu, namun juga mengancam kelangsungan biota di bawah permukaan laut.

“Kedua pulau itu memang menjadi kawasan pakan penyu. Juga terdapat biota laut lainnya seperti terumbu karang dan ikan,” kata Project Coordinator WWF Indonesia-Berau untuk Program Penyu, Rusli Andar, dalam perbincangan bersama detikcom di ujung telepon, Rabu (24/7/2013) malam.

Peristiwa penangkapan 2 kapal nelayan berbadan besar asal Jakarta oleh warga dan tim gabungan TNI AL, Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Berau dan kepolisian pada Senin (22/7/2013) lalu, bukan kali pertama terjadi di perairan Kepulauan Derawan.

“Tahun 2010 pernah ada kapal nelayan berbadan besar, juga menebar pukat di area pakan penyu yang juga terdapat banyak ikan. Pukat itu seharusnya ditebar di laut lepas, bukan di area konservasi penyu,” ujar Rusli.

“Karena keberadaan kapal itu di areal konservasi penyu, kemungkinan mereka sudah tahu. Karena di wilayah itu banyak ikan dan penyu keluar masuk mencari makanan,” tambahnya.

Dalam penelitian WWF, sambung Rusli, sejak tahun 2007 lalu, penyu yang keluar masuk mencari makanan di Pulau Sangalaki dan Pulau Semama, berkisar 90-100 ekor. Namun beberapa tahun terakhir, pemandangan penyu mencari makan sulit ditemukan.

“Beberapa tahun terakhir ini sejak 2007, penyu yang cari makan bisa dihitung, berkurang sekitar 75 persen populasinya dari sekitar 90-100 ekor,” terang Rusli.

“Sekarang susah mencari penyu dewasa yang sedang makan meskipun lokasi mereka sudah kita beri tanda khusus sebagai wilayah pakan penyu. Tidak tahu kemana mereka (penyu),” ungkapnya.

Berkurangnya populasi penyu diduga akibat penebaran pukat yang tidak ramah lingkungan. Penyu sendiri, menurut Rusli, memiliki pangsa pasar cukup besar. Nelayan diduga kuat mengincar Plastron atau bagian dada penyu yang memiliki nilai jual tinggi.

“Dari informasi yang kita peroleh, bahwa daging penyu itu dikonsumsi untuk kesehatan. Di sejumlah wilayah di Indonesia, 1 ekor penyu bisa dijual Rp 3-5 juta. Semakin besar penyu, semakin mahal,” jelasnya.

Masih menurut Rusli, dunia sendiri sudah menjadikan satwa penyu sebagai satwa langka di dunia, dimana Penyu masuk dalam Convention International Trade Endangered Species (CITES) yang harus dilindungi dan tidak boleh diperdagangkan karena masuk dalam daftar Apendik I yang terancam punah.

“Melaui pemerintah sendiri, penyu juga dilindungi berdasarkan UU No 5 tahun 1990 tentang Konservasi dan Sumber Daya Alam yang diperkuat oleh PP No 07 dan No 08 Tahun 1999,” sebut Rusli lagi.

“Pengawasan laut terutama yang menjadi area konservasi penyu yang tidak terlalu ketat, diduga menjadi potensi nelayan untuk menjerat ikan dan penyu di sekitar kepulauan Derawan, dengan pukat,” tutupnya.

Seperti diberitakan, 2 kapal nelayan asal Jakarta, ditangkap petugas gabungan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Berau, Kalimantan Timur (Kaltim) serta petugas TNI AL, di sekitar perairan laut Kepulauan Derawan, Berau, Kaltim, Senin (22/7/2013).

Kedua kapal itu menebar jaring pukat di daerah konservasi penyu, sekitar perairan pulau Sangalaki dan Pulau Semama. Pulau Sangalaki itu sendiri saat ini menjadi base camp Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kaltim untuk pelestarian penyu.

Dibakar Api Cemburu, Seorang Suami Bunuh Istri Dan "PIL" Sang Istri. Saksikan di "Reportase Pagi", jam 04.45 – 05.20 WIB, hanya di TRANS TV

(mpr/mpr)

google.co.id

Penyu Hijau di Kepulauan Derawan Kian Langka Diduga Akibat Perburuan Liar


dok detikcom

Samarinda, – Populasi Penyu Hijau (Chelonia Mydas) di Kepulauan Derawan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur (Kaltim), kian menyusut diduga akibat perburuan liar kapal nelayan yang menebar pukat di area konservasi salah satu satwa langka di dunia itu.

Kapal nelayan berbadan besar yang menebar jaring pukat di sekitar Pulau Sangalaki dan Pulau Semama, tidak hanya mengancam kelangsungan populasi penyu, namun juga mengancam kelangsungan biota di bawah permukaan laut.

“Kedua pulau itu memang menjadi kawasan pakan penyu. Juga terdapat biota laut lainnya seperti terumbu karang dan ikan,” kata Project Coordinator WWF Indonesia-Berau untuk Program Penyu, Rusli Andar, dalam perbincangan bersama detikcom di ujung telepon, Rabu (24/7/2013) malam.

Peristiwa penangkapan 2 kapal nelayan berbadan besar asal Jakarta oleh warga dan tim gabungan TNI AL, Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Berau dan kepolisian pada Senin (22/7/2013) lalu, bukan kali pertama terjadi di perairan Kepulauan Derawan.

“Tahun 2010 pernah ada kapal nelayan berbadan besar, juga menebar pukat di area pakan penyu yang juga terdapat banyak ikan. Pukat itu seharusnya ditebar di laut lepas, bukan di area konservasi penyu,” ujar Rusli.

“Karena keberadaan kapal itu di areal konservasi penyu, kemungkinan mereka sudah tahu. Karena di wilayah itu banyak ikan dan penyu keluar masuk mencari makanan,” tambahnya.

Dalam penelitian WWF, sambung Rusli, sejak tahun 2007 lalu, penyu yang keluar masuk mencari makanan di Pulau Sangalaki dan Pulau Semama, berkisar 90-100 ekor. Namun beberapa tahun terakhir, pemandangan penyu mencari makan sulit ditemukan.

“Beberapa tahun terakhir ini sejak 2007, penyu yang cari makan bisa dihitung, berkurang sekitar 75 persen populasinya dari sekitar 90-100 ekor,” terang Rusli.

“Sekarang susah mencari penyu dewasa yang sedang makan meskipun lokasi mereka sudah kita beri tanda khusus sebagai wilayah pakan penyu. Tidak tahu kemana mereka (penyu),” ungkapnya.

Berkurangnya populasi penyu diduga akibat penebaran pukat yang tidak ramah lingkungan. Penyu sendiri, menurut Rusli, memiliki pangsa pasar cukup besar. Nelayan diduga kuat mengincar Plastron atau bagian dada penyu yang memiliki nilai jual tinggi.

“Dari informasi yang kita peroleh, bahwa daging penyu itu dikonsumsi untuk kesehatan. Di sejumlah wilayah di Indonesia, 1 ekor penyu bisa dijual Rp 3-5 juta. Semakin besar penyu, semakin mahal,” jelasnya.

Masih menurut Rusli, dunia sendiri sudah menjadikan satwa penyu sebagai satwa langka di dunia, dimana Penyu masuk dalam Convention International Trade Endangered Species (CITES) yang harus dilindungi dan tidak boleh diperdagangkan karena masuk dalam daftar Apendik I yang terancam punah.

“Melaui pemerintah sendiri, penyu juga dilindungi berdasarkan UU No 5 tahun 1990 tentang Konservasi dan Sumber Daya Alam yang diperkuat oleh PP No 07 dan No 08 Tahun 1999,” sebut Rusli lagi.

“Pengawasan laut terutama yang menjadi area konservasi penyu yang tidak terlalu ketat, diduga menjadi potensi nelayan untuk menjerat ikan dan penyu di sekitar kepulauan Derawan, dengan pukat,” tutupnya.

Seperti diberitakan, 2 kapal nelayan asal Jakarta, ditangkap petugas gabungan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Berau, Kalimantan Timur (Kaltim) serta petugas TNI AL, di sekitar perairan laut Kepulauan Derawan, Berau, Kaltim, Senin (22/7/2013).

Kedua kapal itu menebar jaring pukat di daerah konservasi penyu, sekitar perairan pulau Sangalaki dan Pulau Semama. Pulau Sangalaki itu sendiri saat ini menjadi base camp Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kaltim untuk pelestarian penyu.

Dibakar Api Cemburu, Seorang Suami Bunuh Istri Dan "PIL" Sang Istri. Saksikan di "Reportase Pagi", jam 04.45 – 05.20 WIB, hanya di TRANS TV

(mpr/mpr)

google.co.id

Tommy Kurniawan Dirikan Yayasan Indonesia Hijau

Metrotvnews.com, Jakarta: Bintang sinetron Tommy Kurniawan semakin mengobarkan jiwa sosialnya. Ia memiliki yayasan bernama Indonesia Hijau sebagai bentuk keprihatinannya terhadap kondisi alam Indonesia.

“Saya dan teman-teman mendirikan Yayasan Indonesia Hijau. Salah satu programnya ialah menghijaukan kota-kota yang sekarang mendapatkan Adipura,” katanya.

Caleg PPP tersebut bekerja sama dengan pemerintah kota di Tangerang Selatan dan karang taruna yang memiliki niat menghijaukan kembali negara ini. Acara yang sempat digelar Tommy dan kawan-kawannya beberapa waktu lalu antara lain konsep penghijauan di daerah-daerah yang tingkat penghijauannya menurun.

“Kemarin kami sudah bikin Go Green Karang Taruna. Sekarang, kami harus menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk peduli kepada lingkungan. Karena saya berkecimpung di dunia politik, banyak yang menawari saya hal-hal yang baik untuk masyarakat. Makanya dengan Indonesia Hijau, saya harus berkontribusi banyak,” harapnya.

Editor: Wisnu AS

metrotvnews.com