Kisah Hidup Terindah

Kisah Hidup Terindah

Headline

inilahcom

“Makna senyuman tidak akan sempurna tanpa pernah bersentuhan dengan makna air mata, begitu juga sebaliknya. Indahnya kehidupan tidaklah terletak pada seberapa lama kita berada dalam zona yang menyenangkan, melainkan pada nilai yang kita pegang teguh dan kita capai dalam setiap episode, termasuk episode yang melambangkan penderitaan.”

Kisah Nabi Yusuf dinyatakan Allah sebagai kisah terindah (ahsan al-qashash) karena episode kehidupannya sangatlah lengkap mulai dari ujian menuju pujian, dari cinta bertepuk sebelah tangan sampai cinta bak gayung bersambut, dari terhina menjadi mulia, serta mulai dari hal yang biasa menjadi hal luar biasa.

Kisahnya mengajarkan kita untuk tidak berlebihan dalam bangga ketika mendapat anugerah serta tidak terlarut dalam derita ketika mendapatkan musibah. Banyak sekali kenikmatan yang berujung derita, sebagaimana tidak sedikit derita yang berujung kenikmatan. Kisah utuh kehidupan Nabi Yusuf menjadi bukti benarnya kesimpulan ini.

Yusuf kecil yang tumbuh tampan dan sopan mendapatkan cinta yang sempurna dari ayahnya, Nabi Ya’qub. Sangat baik seorang ayah mencintai anaknya, namun tak lama kemudian Yusuf dibuang ke sumur oleh saudara-saudaranya yang iri dengan banyak kelebihan yang dimiliki Yusuf.

Masuk ke dalam sumur adalah musibah yang menjadi awal “nasib baik” bagi Yusuf ketika rombongan kerajaan menimba air sumur dan kemudian mendapatkan Yusuf untuk selanjutnya dibawa ke istana. Hidup di istana sebagai kenikmatan ternyata menjadi penyebab Yusuf harus masuk ke penjara karena tidak mau melayani keinginan maksiat Zulaikha, sang ibu negara.

Hidup di penjara secara umum dianggap sebagai musibah, namun di sinilah Allah menganugerahkan ilmu ta’wil mimpi kepada Yusuf untuk kemudian membantu raja menjelaskan makna mimipinya yang menjadi kenyataan. Dari penjara inilah Yusuf menapaki jalan kekuasaan mulai dari sebagai menteri sampai menjadi penguasa.

Pasang surut kehidupan adalah bagai warna pelangi yang indah dipandang, namun hanya oleh orang yang memiliki daya pandang bagus yang mampu menikmati secara utuh keindahan pelangi itu (rainbow outlook). Orang yang mata hatinya rabun, apalagi buta, tidak akan mampu menjalani skenario kehidupan yang tidak sesuai dengan keinginan hawa nafsunya, sehingga yang keluar dari mulutnya adalah sumpah serapah dan keluhan panjang tanpa koma dan titik.

Berdiam diri secara pasif dan bersedia untuk menerima keadaan apa adanya memang bukan pilihan sikap yang baik, namun lebih tidak baik lagi adalah menyikapinya secara negatif yang menyiksa diri dan menyiksa orang lain tanpa upaya untuk besikap konstruktif.

Negara kita tercinta ini sebentar lagi akan menggelar perhelatan besar bernama Pemilihan Umum (Pemilu), yang merupakan kompetisi terakbar meraih jabatan dan kekuasaan di negeri ini. Mulai dari jabatan sebagai anggota DPRD, DPD sampai pada jabatan Presiden dan Wakil Presiden.

Warna warni bendera partai yang selalu diletakkan di atas begitu indah dipandang, namun sayangnya suara-suara orang yang di bawah bendera itu seringkali terdengar sumbang ketika harus mengomentari warna bendera partai lain. Harusnya, suara-suara itu betapapun berbeda tetap dalam bingkai semangat tunggal, yakni semangat bendera merah putih yang ukurannya lebih besar dan letaknya berada lebih tinggi di atas bendera-bendera partai yang ada.

Kegaduhan suara menjelang pemilu berlangsung bisa saja menjadi sinyal besarnya potensi konflik yang terpendam, berupa ketidaksiapan untuk menjadi kelompok yang kurang beruntung. Padahal, mengikuti alur kisah terindah Yusuf di atas, ketidakberuntungan saat ini sangat mungkin menjadi pintu gerbang keberuntungan pada masa yang akan datang.

Sebaliknya, keberuntungan politik saat ini juga mungkin menjadi pintu gerbang kehancuran pada masa yang akan datang, terlebih ketika kemenangan dan keberuntungan itu didasarkan pada kecurangan dan ketidakprofesionalan.

Potensi konflik seperti ini harus diantisipasi dan sebisanya diminimalisir serta dilakukan tindakan preventif. Caranya, pertama, sosialisasi kesadaran publik bahwa kebersamaan tidak mensyaratkan keseragaman dalam segala hal. Membiarkan orang lain memiliki kebebasan memilih yang dikehendaki adalah perbuatan memanusiakan manusia (humanization) yang sangat terhormat dan terpuji.

Kedua, para elite partai, tokoh masyarakat dan tokoh agama harus menahan diri untuk memberikan komentar berlebihan yang memungkinkan pihak lain tersinggung dan tersakiti. Ketiga, semua pihak yang berkaitan dengan penegakan hukum dan keamanan harus bertindak tegas tanpa diskriminasi atas setiap proses yang melanggar aturan yang disepakati.

Ketika semua berjalan alami sesuai dengan aturan, maka apapun hasilnya harus dipersepsi sebagai takdir yang terbaik pada masanya yang akan terus mengalir untuk menjalani takdir-takdir berikutnya yang tidak mungkin diduga masa, bentuk dan perubahannya oleh siapapun.

Pada poin ini, menarik untuk mengingat kembali kaidah kehidupan: “Apapun yang tercatat sebagai hakmu, akan datang menjadi milikmu walau engkau berada dalam posisi yang sangat lemah, sementara apapun yang bukan menjadi hakmu tidak akan pernah datang menjadi milikmu walaupun engkau berkuasa dan berusaha mati-matian untuk memperolehnya.”

Menginjak orang lain sebagai upaya meninggikan posisi diri sendiri, menghina orang lain sebagai usaha rekayasa kesan kemuliaan diri dan menghambat jalan orang lain demi melebarkan jalannya sendiri seringkali merupakan cara yang berefek pantul semisal peribahasa “senjata makan tuan.”

Hati yang sehat akan selalu berpihak kepada mereka yang nyata-nyata tertindas dan terdzolimi, bukan pada mereka yang mencitrakan dirinya sebagai yang tertindas dan terdzolimi, terlebih lagi bukan kepada mereka yang nyata-nyata menindas dan mendzolimi. Rakyat Indonesia jelas masih memiliki telinga, mata dan hati yang selalu berpihak kepada kebajikan dan kebenaran.

Bagian akhir kisah Nabi Yusuf menarik untuk diteladani, yakni ketika saudara-saudaranya yang membuang Yusuf ke dalam sumur semasa kecil bertemu dengan Nabi Yusuf di istana, Nabi Yusuf memaafkan sauadara-saudaranya dan tidak mengungkit kesalahan masa lalu.

Andaikan semua pemimpin, tokoh dan segenap anak bangsa serempak fokus menata dan menatap masa depan dengan kebersamaan dan cinta maka sangat mungkin Indonesia menjadi mercusuar dunia, sebagaimana diungkapkan oleh Bung Karno.

Bahwa pelanggaran hukum yang telah terjadi harus tetap diproses adalah suatu yang positif dan obyektif, tetapi mengungkit kesalahan masa lalu untuk dijadikan klaim dan stigma negatif pada orang lain adalah sesuatu yang negatif dan subyektif. Memaklumi dan memaafkan adalah akhlak indah yang diwariskan nenek moyang.

Janganlah seperti kisah kayu yang mengeluh karena dilukai oleh paku. Pakupun beralasan tidak sengaja, melainkan karena kepalanya ada yang memukul. Palu sebagai alat pemukul tidak terima disalahkan karena tidak punya kemampuan kecuali ada tangan yang menggerakkan.

Ternyata tangan itu adalah tangan calon legislatif dan calon presiden yang mau memasang fotonya di pohon-pohon yang juga tidak mau disalahkan dengan alasan karena aturannya belum jelas. Saling menyalahkan adalah lingkaran setan yang tak mengenal ujung, menikmati jalan hidup sesuai aturan akan menjadikan kisah hidup kita menjadi kisah terindah. [*]

Rekomendasi Untuk Anda


  • Isteri Presiden China Suka Nyeleneh

    Isteri Presiden China Suka Nyeleneh

  • Kiper Milan Ini Ungkap Kondisi Tim Sebenarnya

    Kiper Milan Ini Ungkap Kondisi Tim Sebenarnya

Inilah.com

KSPI Nilai Upah Rp2,4 Juta tidak Layak untuk Hidup di Jakarta

Metrotvnews.com, Jakarta: Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) upah minimum Provinsi DKI Jakarta sebesar Rp2,4 juta sangat tidak layak untuk hidup di Jakarta.

Presiden KSPI Said Iqbal dalam siaran tertulisnya menyebutkan, keputusan Gubernur Jokowi tentang upah minimum provinsi (UMP) tersebut telah mengembalikan rezim upah murah. Sebab, beberapa daerah lainnya akan terkena dampak negatif oleh keputusan itu.

Menurutnya, upah minimum Rp2,4 juta tidak layak untuk hidup di Jakarta, sebab biaya sewa rumah saat ini mencapai Rp600.000, biaya transortasi Rp500.000, dan biaya makan Rp990.000 (makan warteg).

Said Iqbal juga gubernur tidak memahami tentang penetapan nilai kebutuhan hidup layak (KHL) yang digunakan untuk menghitung nilai upah minimum. Karena KHL yang diputuskan pemerintah sebesar Rp2,29 juta adalah nilai KHL 2013.

Oleh karena itu, ujarnya, KHL uyang diusulkan serikat pekerja sebesar Rp2.767.320 dari menghitung nilai KHL pada 2014 secara regresi, dan bukan 2013. (RO)

Editor: Patna Budi Utami

google.co.id

[VIDEO] Bunda Putri Hidup Susah Saat Remaja dan Belajar Kebatinan

[VIDEO] Bunda Putri Hidup Susah Saat Remaja dan Belajar Kebatinan

Liputan6.com, Jakarta : Sosok kontroversial Bunda Putri terus menjadi perbincangan hangat. Apalagi setelah kemarahan Presiden SBY yang tak terima disebut dekat dengan sang bunda oleh tersangka suap impor daging sapi yang juga mantan Presiden PKS, Luthfi Hasan Ishaaq.

Tak hanya SBY, Bunda Putri juga diduga dekat dengan sejumlah pejabat negara. Kedekatan-kedekatan itu terungkap lewat foto-foto yang beredar di jagat maya. Sosok Bunda Putri semakin menggelitik rasa penasaran masyarakat.

Bunda Putri bernama asli Siti Nurlela. Wanita yang karib disapa Non Saputri itu lahir di Jambi pada 27 April 1962 silam. Tim Liputan 6 SCTV berhasil menemukan 2 KTP milik Bunda Putri yakni di Kabupaten Kuningan dan Depok, Jawa Barat. Keduanya menggunakan nama yang berbeda, Enon Nurlela dan Non Saputri.

Dia adalah anak perempuan dari ibu bernama Asariah dan ayahnya yang keturunan Kalimantan, Nasaruddin. Saat masih kecil, ibunda Non bercerai dan menikah kembali dengan orang asli Cilimus, Kuningan. Semasa remaja, Non dikenal berasal dari keluarga yang sangat sederhana. Bahkan ibunda Non sempat menjadi TKI di Arab Saudi selama kurang lebih 8 tahun.

Pada usia yang mulai remaja, Non bersekolah di SMP yang tak jauh dari rumahnya. Dia dikenal sebagai anak yang aktif dan pintar dalam berteman. Tamat SMP pada 1978 Non kemudian melanjutkan pendidikan di SMA Cilimus. Namun tak sempat menyelesaikan sekolahnya. Bahkan beberapa nilai rapornya mendapat angka merah.

“Itu karena faktor ekonomi, saya tahu sendiri. Kasihan dulu nasib dia, kalau mau makan harus cuci piring dulu di sebelah tempat tukang gado-gado. Makanya dia dulu termasuk orang tidak berpunya” kata salah satu tetangga Bunda Putri kepada Liputan 6 Malam SCTV, Sabtu (26/10/2013).

Adanya kesulitan demi kesulitan yang kerap dirasa, membuat Non lantas berguru di suatu tempat yang disebut-sebut dapat mendatangkan ketenangan jiwa. Selain berguru ilmu kebatinan, Non juga kerap meminta bantuan kepada Mayor Jendral Ahmadi–seorang tokoh yang dulu bersama mantan Presiden Soeharto mendirikan Partai Golkar. Posisi sang ayah yang bekerja di rumah Ahmadi berhasil dimanfaatkannya. Non memaksa sang jendral mengakuinya sebagai anak. Sehingga banyak proyek yang berhasil dengan menjual nama sang jendral.

“Memang bukan siapa-siapanya (Ahmadi), bukan saudara juga apalagi anak. Kebetulan dia ada fotonya Bapak Ahmadi ketika kampanya Golkar dulu di rumahnya Non, itu yang dipakainya,” tutur sumber lain yang mengaku dekat dengan Bunda Putri.

Keberadaan Bunda Putri kini tengah disorot. Rumah mewahnya di kawasan elit Pondok Indah, Jaksel, telah lama kosong. Sementara masyarakat terus bertanya-tanya, seberapa kuat hubungan Bunda Putri dengan para pejabat negeri ini. (Ndy)

JW Player goes here

liputan6.com

Korban Penyekapan: Saya Hidup untuk Kedua Kalinya

TEMPO.CO, Jakarta–Di lantai dua bangunan ruko no 120-D Jalan Hayam Wuruk, Jakarta Barat terdapat berbagai macam baju satpam. Ada seragam yang berwarna putih, biru marun, orange. Ada baju pemadam kebakaran pula. Berbagai atribut keamanan juga ada di sana semisal pentungan dan police line. Di sanalah kantor perusahaan jasa pengamanan, PT Benteng Jaya Mandiri.

Pada Rabu, 18 September 2013 malam hari, Tempo masuk lebih ke dalam ruangan itu melewati ruangan direksi lalu dapur. Setelah itu, Tempo naik ke loteng tempat dimana Arifin disekap. Di ruangan seluas 6 meter persegi itu sangat pengap. Tinggi ruangannya tak lebih dari dua meter. Di ruang tanpa cahaya inilah Arifin diborgol di sebuah pintu sejak 5 Agustus 2013. Ia disekap lantaran ia jadi saksi dalam sebuah proyek pengeboran migas. Sedang pihak yang berjanji kabur, sehingga ia yang dicari. Rutin sejak saat itu, ia dipukul dengan gagang airsoft gun, tangan kosong, hingga telinganya distaples.

Ada sebuah ember yang dapat ia gunakan untuk buang air kecil. Namun untuk tempat buang air besar, ia tak diberi. Makan pun ia diberi 3-4 hari sekali. Lantaran tak kunjung bisa memenuhi tuntutan agar melunasi hutang dan bunganya, ia hampir pasti akan dibunuh pada Jumat, 20 September. Pria cepak berambut putih ini pasrah jika dirinya akan dieksekusi. “Saya tidak bisa melakukan apa-apa,” katanya lirih.

Tempo lalu turun kembali ke dapur seluas 10 meter persegi. Di salah satu sudutnya ada sebuah pintu teralis besi yang menghubungkan tempat masak itu dengan gudang. Kemarin malam, Selasa, 17 September 2013, Ahmad Zamani, 32 tahun, diborgol tangannya di tempat tersebut.

Ia berurusan dengan PT BMJ lantaran joint venture bisnisnya pailit di tahun kedua. Rekanan bisnis Zamani ingin mendapat uangnya, Rp 1,5 miliar secara instan dengan menggandeng pihak debt collector. Akhirnya, Zamani diambil paksa dari rumahnya di sebuah perumahan Cilacap, Jawa Tengah. Ia disekap sejak 13 September 2013.

Sejak saat itu ia disiksa. Tubuhnya disundut rokok, dicambuk pake kabel. Dan, maaf, kemaluannya diolesi balsem beberapa kali. Selain itu, ia diancam bahwa istrinya akan diperkosa massal. Anaknya akan dibuat cacat. Ia juga diancam akan bernasib sama dengan Arifin, mati. Sebelum mempersiapkan kematiannya, rambut Zamani dipotong rapi. Ia juga diberi baju rapi, menggantikan baju lamanya yang berlumuran darah. Arifin juga mendapat perlakuan sama. (Lihat juga: Oknum TNI Diduga Terlibat Penyekapan di Taman Sari)

Selasa malam kemarin, keduanya kaget lantaran mengira eksekusi kematiannya lebih dipercepat. “Banyak orang memakai senapan laras panjang malam itu,” kata Zamani. Ia mengira akan dibunuh lalu mayatnya dibuang di tol seperti yang diomongkan penyekap. Setelah tahu bahwa mereka adalah polisi, keduanya bersyukur. “Saya seperti terlahir untuk kedua kalinya,” ucap mereka sembari meneteskan air mata. Tak bisa dipungkiri, mereka sangat berterima kasih kepada aparat yang berhasil menyelamatkan nyawanya.

Terlihat paras kedua korban sayu lantaran disekap dalam keadaan gelap, pengap, dan tidak diberi makan. Mereka menuturkan banyak pegawai sana, baik laki-laki maupun perempuan yang bersliweran seakan memandang biasa. “Mereka tak ada empati, bahkan untuk memberikan seteguk airpun tidak,” kata mereka.

Mereka berharap semoga kejadian yang menimpa keduanya tak terulang kembali. Namun, mereka juga bisa berpikir kritis. Kasus ini meninggalkan satu pertanyaan lagi untuk polisi. Jika PT BMJ sudah beroperasi selama dua tahun, pasti sebelumnya pernah ada korban yang dieksekusi oleh mereka. Kemudian, apakah berbagai jasa pengamanan lainnya juga melakukan penyekapan dan penganiayaan yang sama. Semoga aparat segera bisa menjawab pertanyaan Arifin dan Zamani tersebut agar tak ada korban berikutnya.

MUHAMMAD MUHYIDDIN

Terhangat:
Tabrakan Anak Ahmad Dhani | Info Haji | Penembakan Polisi

Baca juga:
Lima Tweet yang Mengguncang Dunia
Enam Jenis Ikan yang Sebaiknya Dihindari
Ini Hasil Lengkap Pertandingan Liga Champions
Ahok Tak Takut Ditinggal Jokowi Jadi Presiden

Google.co.id

Lawan NGO asing, kata Menteri Lingkungan Hidup

(ANTARA News) – Sorotan negatif yang terus dihembus-hembuskan organisasi non pemerintah (NGO) asing dengan menyebut bahwa industri kelapa sawit dan “pulp and paper” Indonesia tidak bisa berkembang perlu dilawan, kata Menteri Lingkungan Hidup Balthasar Kambuaya.

“Itu betul. Jadi sekarang kita harus jaga agar jangan sampai isu lingkungan yang sengaja di bawa NGO asing untuk menyerang industri kertas, kelapa sawit dan lain sebagainya, tidak terus-terusan dihembuskan,” ujarnya di Pekanbaru, Rabu.

Balthasar hadir di Pekanbaru saat menutup Rapat Kerja Nasional Kadin Indonesia Bidang Agribisnis dan Pangan Bersama Bidang Lingkungan Hidup, Perubahan Iklim dan Pembangunan Berkelanjutan yang dilaksanakan 16-17 September 2013.

Kalau NGO asing sengaja menghembuskan isu lingkungan, menurutnya, maka yang bisa dilakukan pihaknya menjaga lingkungan melalui perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang kertas dan perkebunan kelapa sawit penghasil minyak sawit mentah (CPO).

Indonesia memiliki generasi penerus yang jumlah tidak sedikit dan untuk saat ini saja, jumlah penduduk lebih dari 240 juta jiwa yang tersebar dari Sabang, Nanggroe Aceh Darusalam hingga Merauke, Papua.

“Makanya kita harus jaga lingkungan terutama peusahaan. Baru dengan cara itu, kita harus melawan NGO asing dengan mengatakan kami lebih tahu apa yang terbaik bagi lingkungan kami,” jelasnya.

Pihaknya tengah berusaha betul agar industri di Indonesia bisa berkerja dan meminta pihak perusahaan agar tetap menerapkan praktek ramah terhadap lingkungan disekitar operasional perusahaan.

Balthasar mengaku pernah berkunjung ke Amerika Serikat saat berlangsung acara pertanian dan mereka ingin memasukan sejenis genetik untuk berbagai tanaman, tapi pihaknya melarang sesuai undang-undang lingkungan yang berlaku di Indonesia.

“Kenapa Amerika setuju dan sedangkan Indonesia menolak. Saya bilang sama dia, `you` Amerika dan saya Indonesia. Saya bikin aturan menurut negara saya dan bukan negara orang lain,” ucapnya.

google.co.id

Terdesak Kebutuhan Hidup, 50 Persen Guru Ngaji Alih Profesi Tukang Ojek

Guru mengaji mengajarkan muridnya, ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, PURWAKARTA — Guru ngaji yang tersebar di 17 kecamatan di Purwakarta, mencapai 1.346 orang.

Dari jumlah tersebut, 50 persennya telah beralih profesi jadi buruh pabrik dan tukang ojek. Sebab, kesejahteraan menjadi guru ngaji tidak diperhatikan oleh pemerintah.

Ketua Forum Silaturahim Guru Ngaji (FSGN) Kabupaten Purwakarta, Adang Badrudin, mengatakan, selama ini para guru ngaji bekerja dengan niat yang baik. Yaitu, karena Allah SWT. Meskipun sejak lama tak diberi perhatian, tetap saja transfer ilmu agama masih jalan.

“Namun, seiring perkembangan zaman kehidupan para guru ngaji semakin terdesak oleh kebutuhan,” ujarnya di sela-sela acara FSGN se-Jabar, di Ponpes Alhikamussyalafiyah, Kamis (12/9).

Karenanya, para guru ngaji yang mayoritas sudah berkeluarga, lebih memilih alih profesi. Yaitu, jadi buruh pabrik atau tukang ojek. Sebab, bila terus menekuni profesi ini, khawatir anak serta isteri tak bisa hidup dengan layak.

Sebenarnya, lanjut Adang, bila ada perhatian sedikit dari pemerintah mengenai kesejahteraan, maka para guru ngaji ini tak mau meninggalkan profesinya. Sebab, profesi sebagai guru ngaji sangatlah mulia. Bahkan, profesi ini turut berkontribusi dalam mencerdaskan anak-anak generasi muda. Karena, sejak usia dini mereka telah dikenalkan dengan huruf-huruf Al Quran.

Tak hanya itu, para guru ngaji ini turut membentuk akhlak generasi muda jadi lebih baik lagi. Namun, sayang profesi ini belum mendapat perhatian serius. Pasalnya, baik dari pemkab maupun kementerian agama, tak ada honorarium yang diterima guru ngaji.

“Kalaupun ada, hanyalah bantuan setahun sekali jelang lebaran. Itupun nominalnya kecil,” jelasnya.

Adang mengaku, bila pemerintah tak secepatnya turun tangan untuk mengatasi persoalan kesejahteraan guru ngaji, khawatir akan berdampak buruk terhadap dunia pendidikan agama. Sebab, guru ngaji yang beralih profesi akan semakin banyak. Lambat laun, profesi ini akan ditinggalkan. Karena, masa depannya suram.

Sementara itu, Ketua Fraksi PKB DPRD Purwakarta, Neng Supartini, mengaku miris dengan kondisi para guru ngaji. Mereka dengan keihklasan hati mendidik anak-anak sejak usia dini. Namun, kesejahteraan mereka tak diperhatikan.

“Seharusnya, para guru ngaji ini punya honor yang setara dengan guru pendidikan umum,” ujar Neng.

Neng mengaku, pihaknya telah lama mengusulkan supaya pemkab memberikan bantuan untuk kesejahteraan guru ngaji. Idelanya, mereka dapat honor sebulan sekali. Meskipun honornya di bawah Rp 1 juta. Namun, usulan itu sampai saat ini tak pernah ada jawaban.

Tak hanya itu, nasib guru ngaji juga tak pernah tersentuh oleh bantuan industri. Padahal, potensinya cukup besar. Di Purwakarta, banyak berdiri ratusan pabrik berskala internasional dan nasional. Bila pabrik ini, mau menyisihkan dana CSR minimalnya 10 persen saja, maka para guru ngaji ini akan sejahtera.

“Tapi sayang, usulan kami di dewan belum mendapat tanggapan,” jelasnya.

google.co.id