Berkas Lengkap, Neneng Menunggu Jadwal Sidang

Berkas Lengkap, Neneng Menunggu Jadwal Sidang


Metrotvnews.com, Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengatakan, berkas tersangka kasus korupsi pengadaan pembangkit listrik tenaga surya atau PLTS di Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Neneng Sri Wahyuni, sudah lengkap atau P-21. Berkas itu akan dilimpahkan ke Pengadilan Tindak Pidana Korupsi dan diproses selama 14 hari. Demikian dikatakan juru bicara KPK, Johan Budi, di Jakarta, Rabu (10/10). Selain Neneng, berkas dua tersangka lain sudah P-21. Kedua tersangka merupakan warga negara Malaysia yang membantu Neneng dalam pelarian. Neneng beserta kedua tersangka tinggal menunggu jadwal sidang. Neneng diduga menerima uang Rp2 miliar sebagai perantara proyek. Istri mantan Bendahara Umum Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin itu sempat kabur keluar negeri selama 10 bulan. Aksinya di luar negeri dibantu dua warga Malaysia. Pelarian istri terpidana kasus korupsi Wisma Atlet, M Nazaruddin, itu berakhir pada 13 Juni 2012. Selama pelariannya, Neneng diduga memindahkan aset suaminya senilai Rp1 triliun.

Ruhut: Siapa Lagi Kalau Bukan yang Sering Disebut Nazar

Ruhut: Siapa Lagi Kalau Bukan yang Sering Disebut Nazar


Jakarta: Politikus Partai Demokrat Ruhut Sitompul menyatakan aksi pengusiran dirinya dari arena Silatnas Partai Demokrat di Bogor, Jawa Barat, karena orang-orang yang tidak suka dengan dirinya gerah dengan keberadaannya. Orang-orang itu makin geram justru ketika dirinya yang menjadi pusat perhatian. Apalagi saat wartawan mengerubunginya untuk diwawancara. “Mereka melihat, kok, bukan tokoh-tokoh yang disanjung yang diwawancara. Apa-apa Bang Ruhut saja gitu kan,” kata dia santai saat diwawancara langsung Metro TV, Jakarta, Jumat (14/12) petang. Ketika ditanya siapa tokoh-tokoh yang mereka sanjung, Ruhut bilang siapa lagi kalau bukan yang sering disebut mantan Bendahara Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin. “Nazar beberapa kali bilang si A itu otak ini semua,” kata Ruhut. Ruhut menyebut si A yang dimaksud adalah Anas Urbaninggrum. “Biasalah ada beberapa badutnya menjerit-jerit, kita ketawa ajalah,” ujarnya. Ruhut dipecat dari posisinya sebagai salah satu ketua DPP Partai Demokrat. Ia sebelumnya mengaku dipecat karena sering meminta Anas mundur Menurutnya, aksinya meminta Anas mundur untuk mengembalikan citra partai yang terpuruk karena sejumlah kader Partai Demokrat yang tersangkut kasus korupsi. “Legowo mundur sementara. Manakala jadi tersangka dimundurkan, bagaimana citra partai kita nanti,” katanya. Ia juga mengungkapkan kedekatan Anas dengan Nazar sebelum Nazar menjadi terduga beragam kasus korupsi hingga suap yang menghebohkan Tanah Air. Anas dan Nazar seperti prangko

Angie Berharap Nazar Hadir di Sidang

Angie Berharap Nazar Hadir di Sidang


Jakarta: Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Kamis (22/11), menghadirkan empat dari enam saksi terkait kasus dugaan korupsi penganggaran proyek di Kemenpora dan Kemendiknas. Dua di antaranya mantan kolega Angelina Sondakh, terdakwa kasus tersebut. Keempat saksi yang hadir di antaranya mantan Ketua Komisi X DPR Mahyuddin, anggota Komisi X DPR I Wayan Coster, staf Angelina Sondakh, Jefry Rawis dan Lindina Wulandari. Sementara, dua saksi yang tidak hadir yakni mantan Bendahara Umum Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin dan anggota Tim Pencari Fakta (TPF) Partai Demokrat Max Sopacua. Dalam persidangan kali ini, Angie menyampaikan dengan linangan air mata. Ia memohon agar Muhammad Nazaruddin dapat hadir di persidangan untuk memperjelas kasus yang menjeratnya. “Nazar tidak ada. Mudah-mudahan (kasus ini menjadi jelas). Ayah saya lagi sakit jadi saya agak sedikit terganggu (sedih),” ungkap Angie. Dalam surat dakwaan JPU, Angie disebutkan menyebut Wayan Coster turut menerima aliran dana dari Grup Permai. Dana itu sebagai imbalan karena Angie menyetujui untuk mengalokasikan anggaran proyek di Kemenpora dan Kemendiknas sesuai permintaan Grup Permai. Dalam sidang sebelumnya, mantan Direktur Pemasaran Grup Permai, Mindo Rosalina Manulang mengaku bahwa Angie pernah meminta jatah untuk Mahyuddin.(Wrt1)

Inilah Alasan Enggartiasto Gabung ke NasDem

Inilah Alasan Enggartiasto Gabung ke NasDem

Headline

Mantan kader Partai Golongan Karya (Golkar) Enggartiasto Lukita – Ist

inilah.com, Jakarta – Mantan kader Partai Golongan Karya (Golkar) Enggartiasto Lukita bergabung ke Partai Nasional Demokrat (NasDem). Apa alasannya?

“Pertama, restorasi Indonesia dan Surya Paloh selain itu saya mundur dan mau terlibat membesarkan NasDem. Saya yakin Nasdem kuat, apalagi NasDem sebagai satu-satunya partai baru yang lolos pemilu,” kata Enggar di Kantor DPP Nasdem, Jakarta, Kamis (24/1/2013)

Enggar mengaku tidak mencari jabatan, melainkan untuk memberikan kontribusi besar bagi partai yang mengusung Gerakan Perubahan.

“Usia saya sudah tua. Makanya saya yakin di tengah masa tua ini saya bisa memberikan kontribusi besar bagi negara melalui Partai NasDem ini,” ucap mantan Wakil Bendahara Partai Golkar. [rok]

Rekomendasi Untuk Anda


  • Tak Didampingi Pelatih, Spurs Nyaris Tumbang

    Tak Didampingi Pelatih, Spurs Nyaris Tumbang

  • Demi Balotelli, Milan 'Korbankan' Satu Pemain

    Demi Balotelli, Milan ‘Korbankan’ Satu Pemain

Max Sopacua Mangkir Lagi dalam Persidangan Angie

Max Sopacua Mangkir Lagi dalam Persidangan Angie


Jakarta: Max Sopacua tidak hadir lagi dalam sidang kasus suap pengurusan anggaran Kemendiknas dan Kemenpora dengan terdakwa Angelina Sondakh di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Kamis (29/11). Max dipanggil sebagai saksi. “Untuk saksi Max Sopacua tidak bisa hadir di persidangan karena sedang berada di Malaysia,” kata Jaksa Penuntut Umum KPK Kiki Ahmad Yani kepada Majelis hakim Pengadilan Tipikor Jakarta. Ini ketiga kalinya Max mangkir dari panggilan Jaksa Penuntut Umum. Sebelumnya, Max tidak hadir tanpa konfirmasi. Majelis Hakim meminta jaksa menghadirkan Max secara paksa. Saat Angie masih diperiksa sebagai tersangka di KPK, Max pernah dihadirkan sebagai saksi. Ia mengatakan tidak pernah mengetahui pembahasan anggaran di Komisi X. Di DPR, dia adalah anggota Komisi I yang tidak terkait dengan pembahasan anggaran di Kementerian Pendidikan Nasional. Max menduga dirinya diperiksa terkait informasi yang pernah diungkap mantan Bendahara Umum Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin. Nazaruddin membeberkan bahwa Tim Pencari Fakta Partai Demokrat menggelar pertemuan pada 11 Mei tahun lalu. Max termasuk di dalamnya. Dalam pertemuan itu, Nazar mengatakan Angie mengakui menerima uang Rp9 miliar sebagai fee dari pembahasan anggaran di DPR. Uang diberikan kepada sejumlah koleganya, termasuk Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum sebesar Rp2 miliar. Namun Anas berkali-kali membantah tuduhan tersebut.(IKA)

Hukuman Nazaruddin Ditambah Tiga Tahun

Hukuman Nazaruddin Ditambah Tiga Tahun

Headline

M Nazaruddin – inilah.com/Agus Priatna

inilah.com, Jakarta – Mahkamah Agung (MA) menolak kasasi terdakwa kasus korupsi pembangunan Wisma Atlet Palembang, Muhammad Nazaruddin, dan mengabulkan permohonan jaksa penuntut umum Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk menambah masa hukumannya.

Majelis hakim yang terdiri atas Hakim Agung Artidjo Alkostar sebagai ketua serta Hakim Agung Mohammad Askin dan MS Lumme sebagai anggota pada Selasa (22/1/2013) memutuskan menambah masa tahanan Nazaruddin dari empat tahun 10 bulan menjadi tujuh tahun.

Menurut Hakim Agung Artidjo Alkostar di Jakarta, Rabu (23/1/2013), majelis hakim juga menambah pengenaan denda bagi Nazaruddin menjadi Rp300 juta.

Hakim Agung yang mengadili perkara itu menyatakan Nazaruddin terbukti bersalah melanggar Pasal 12 huruf b UU No. 20/2001 tentang perubahan atas UU No. 31/1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Pada 20 April 2012, Majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) berkeputusan secara bulat bahwa mantan Bendahara Umum Partai Demokrat M Nazaruddin terbukti bersalah karena menerima hadiah atau gratifikasi sebesar Rp4,6 miliar berupa cek dari PT Duta Graha Indah, rekanan Kemenpora dalam proyek pembangunan wisma atlet SEA Games di Jakabaring, Pelembang, Sumatra Selatan senilai Rp191 miliar. Hadiah itu sebagai bentuk terima kasih karena Nazaruddin sudah mengupayakan PT DGI mendapatkan proyek tersebut.

Majelis hakim menghukumnya selama empat tahun dan 10 bulan penjara dan denda Rp200 juta, subsider empat bulan kurungan penjara. [ant/mvi]

Rekomendasi Untuk Anda


  • Besok Bursa Libur, Jumat Beroperasi Kembali

    Besok Bursa Libur, Jumat Beroperasi Kembali

  • Kalah di Pilkada, Partai Demokrat Dibenci Rakyat

    Kalah di Pilkada, Partai Demokrat Dibenci Rakyat