Nasional | Waspada Banjir Susulan, Posko Siaga Jatinegara Diperpanjang

Waspada Banjir Susulan, Posko Siaga Jatinegara Diperpanjang

Gabungan anggota TNI dari Yonarmed VII dan Korps Brimob Polri sedang membersihkan lumpur di pemukiman warga Kampung Melayu, Jatinegara, Jakarta Timur, Rabu siang (23/1).

, JAKARTA — Meski air sudah surut, posko siaga banjir Koramil dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) 01 Jatinegara memastikan akan tetap bersiaga sampai Kamis (31/1).

“Kami hanya menunggu petunjuk, kebetulan posko ini disiagakan hingga 31 Januari. Selain itu kami bergerak berdasarkan antisipasi banjir susulan,” kata Petugas Pelaksana Posko Banjir Koramil 01/Jatinegara, Sersan Mayor Hariyadi, di Jakarta, Jumat.

Menurut Hariyadi setidaknya terdapat 27 personel yang masih bersiaga di posko tersebut, dengan komposisi 25 orang dari Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan dua orang dari BNPB. “Dari TNI 50 orang dan empat dari BNPB. Dibagi dua masing-masing 27 di tiap posko di Jatinegara dan Kalibata,” kata dia.

Hariyadi menyebutkan, di posko banjir tersebut terdapat dua perahu karet ukuran sedang dan tiga tenda besar untuk antisipasi evakuasi banjir susulan. Meski demikian, Hariyadi juga mengatakan masih mungkin apabila posko diperpanjang jika terjadi banjir susulan.

“Mungkin saja (diperpanjang), kami tinggal menunggu petunjuk,” kata dia.

Ia juga menyampaikan dalam dua tiga hari terakhir warga sekitar posko sudah mulai membersihkan lingkungan pemukiman mereka dari sampah sisa-sisa banjir, dibantu oleh petugas TNI.

Nasional | Benarkah Jakarta Banjir Besar pada 27 Januari?

Benarkah Jakarta Banjir Besar pada 27 Januari?

Aktivitas warga Pluit di tengah kepungan Banjir yang empat hari telah menggenangi kawasan mewah Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara, Ahad (20/1).

, JAKARTA — Adanya isu banjir besar yang akan terjadi pada Ahad (27/1) menyebabkan keresahan di masyarakat. Isu banjir besar santer merebak di pesan singkat, seperti Blackberry Messanger.

Menghadapi pesan tersebut, masyarakat diimbau tidak cemas. Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho mengatakan memang pada (27/1) air laut pasang mulai pukul 05.00 hingga mencapai puncak pada pukul 08.00 – 10.00 setinggi satu meter dari normalnya. Namun ini bukan pasang maksimum.

“Justru pada 24 dan 25 Januari terjadi pasang maksimum mencapai 1,1 meter,” ujar pria yang juga menjadi Profesor Hidrologi BPPT ini dalam siaran persnya, Jumat (25/1). Sementara pada 26 hingga 28 Januari 2013 pasang berkisar satu meter.

Dalam pesan berantai tersebut disebutkan air tidak akan dapat mengalir ke laut karena terhalang pasang air laut maksimum pada (27/1). Sementara itu hujan sangat lebat sehingga debit sungai meluap dan tidak dapat mengatus ke laut sehingga Jakarta tenggelam. “Akibatnya masyarakat resah, apalagi bagi masyarakat yang berdampak langsung terlanda banjir pada 15 Januari hingga sekarang,” ucap Sutopo.
 
Menurutnya, untuk terjadi banjir besar seperti Februari 2007 harus ada curah hujan berintensitas tinggi dan berdurasi lama. Banjir Jakarta 2007 disebabkan curah hujan yang ekstrem dan jauh di atas pola normalnya. Sebagai gambaran, kata Sutopo, pada 2 Februari 2007 hujan di Cileduk 340 milimeter perhari, di Kemayoran 235 milimeter perhari, dan di Pasar Minggu 220 milimeter perhari. Hujan juga merata di semua Daerah Aliran Sungai (DAS) dari 13 sistem sungai yang mengalir ke Jakarta.

Bandingkan dengan hujan yang terjadi 17 Januari 2013 yang menyebabkan banjir Jakarta tertinggi 125 milimeter perhari di Kedoya.

Sutopo mengatakan ditinjau dari durasi hujannya berlangsung selama lima hari secara terus menerus. Bahkan di Ciledug akumulasi hujan 29 Januari hingga 2 Februari sebanyak 521 milimeter.

“Ini melebihi rata-rata curah hujan sebulan di Jakarta yang berkisar 450 milimeter perbulan,” katanya. Begitu pula akumulasi hujan selama lima hari di Jakarta Pusat 354 milimeter, Jakarta Timur 333 milimeter, Jakarta Selatan 332 milimeter, dan Jakarta Utara 320 milimeter.

Fenoma hujan yang sangat ektrem tersebut dipengaruhi perambatan cold surge (seruak dingin) dari Siberia dan adanya siklon tropis di selatan Indonesia atau sebelah utara Teluk Carpentaria Australia. Kondisi demikian menyebabkan massa uap air berlimpah dan hujan yang jatuh di wilayah Jakarta dan sekitarnya di atas normal.
 
Saat itu bersamaan dengan pasang air laut sehingga banjir meluas. Luas Jakarta yang terendam banjir saat ini 231,8 kilometer persegi atau 36 persen dari luas DKI Jakarta. Pengungsi mencapai 320 ribu orang dan kerugian Rp 4,3 trilyun.
 
Saat ini, iklon tropis tidak ada di selatan Indonesia. Indeks cold surge di Hongkong juga tidak terdeteksi. “Jika ada, maka akan ada perambatan //cold surge// ke daerah selatan ekuator yang terjadi setelah empat hingga enam hari yang kemudian Pulau Jawa akan mengalami curah hujan besar,” ujar Sutopo.

Demikian pula indek Madden Julian Oscillation (MJO) yang negatif. MJO adalah sebuah osilasi berperiode 40 hingga 50 hari, yang dalam beberapa kasus bisa melebar menjadi 30 hingga 60 hari. Gugus awan konveksi diproduksi di atas Samudera Hindia (sebelah barat Indonesia) kemudian bergerak ke arah timur di sepanjang ekuator untuk menempuh satu siklus putar dengan periode 40 hingga 50 hari.

Sutopo berujar dengan tiga faktor iklim tersebut kecil peluangnya curah hujan ektrem terjadi di wilayah Jakarta dan sekitarnya seperti halnya curah hujan 2007 yang menyebabkan banjir besar di Jakarta. Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisika juga melaporkan bahwa selama 25 hingga 28 Januari, curah hujan yang jatuh di Jakarta dominan berintensitas rendah hingga sedang. “

Jadi, kecil peluangnya banjir besar akan terjadi pada 27 Januari 2013,” ucap Sutopo.  Jika pun terjadi banjir hanya pengaruh dari rob atau genangan saja. Masyarakat dihimbau untuk tetap waspada dan siap siaga terkait ancaman banjir. Sebab curah hujan tinggi masih berpotensi hingga Maret mendatang.
 

Nasional | Perbaikan Jalan di Jakarta Pasca Banjir Capai Rp 55 Miliar

Perbaikan Jalan di Jakarta Pasca Banjir Capai Rp 55 Miliar

Jalan rusak, ilustrasi

, JAKARTA — Banjir yang melanda sebagian besar wilayah Jakarta dan sekitarnya pekan lalu telah mengakibatkan kerusakan jalan di berbagai tempat. Diperkirakan, dana yang dibutuhkan untuk memperbaiki kerusakan tersebut mencapai Rp55 miliar.

Direktur Jenderal (Dirjen) Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum, Djoko Murjanto, mengatakan, dana sebesar Rp 55 miliar itu diperlukan untuk penanganan berupa penutupan lubang, pelapisan setempat (overlay), pembersihan dan perbaikan saluran samping serta trotoar. Menurut dia, dari 453 Km panjang jalan nasional di Jakarta dan sekitarnya (Jabodetabek), 106 Km diantaranya mengalami kerusakan akibat banjir. Namun kerusakan tersebut berupa spot-spot, bukannya menyeluruh pada sepanjang 106 Km tersebut.

“Kerusakan tersebut sebagian hanya kerusakan ringan yang bukan kerusakan struktural sehingga bisa ditangani melalui pemeliharaan rutin,” kata Djoko.

Ia menjelaskan, kerusakan paling banyak dialami jalan nasional di Jakarta. Bahkan, untuk jalan di daerah Marunda, Jakarta Utara perbaikannya memerlukan kajian lebih dalam untuk mengetahui penanganan yang tepat. “Marunda sempat tenggelam, itu sebelumnya sudah kita naikkan, masih harus pakai kajian lebih lanjut dahulu apakah akan kita naikkan alagi atau mau diapakan,” ucap Djoko.

Adapun beberapa jalan nasional di ibukota yang mengalami kerusakan antara lain jalan TB. Simatupang, Jalan Raya Bogor, jalan Trans Yogi dan jalan Mayjen Sutoyo. Kerusakan juga terjadi pada jalan S. Parman, jalan Latumenten, jalan Pluit Selatan Raya, jalan Lodan Raya serta jalan Taman Stasiun Priok.

Mengenai sumber dana perbaikan darurat jalan-jalan di Jakarta, menurut Dirjen Bina Marga, dari kebutuhan dana perbaikan tanggap darurat Rp 55 miliar tersebut, sebanyak Rp 23 miliar akan diambil dari dana pemeliharaan rutin jalan Jakarta. Sementara sisa kekurangannya, akan dicarikan dari pos anggaran lain di Ditjen Bina Marga.

Setelah selesainya perbaikan tanggap darurat, menurut Dirjen Bina Marga Kementerian PU Djoko Murjanto, jalan-jalan tersebut juga memerlukan perbaikan permanen.“Perbaikan permanen jalan kawasan Jabodetabek memerlukan Rp 90 miliar. Dana tersebut akan digunakan untuk penanganan berupa peningkatan jalan senilai Rp 80 miliar di Daan Mogot, Jakarta Barat dan Rp 10 miliar untuk perbaikan di daerah Puncak, Jawa Barat,” pungkas Djoko.

Nasional | Usai Pasar Minggu, Jokowi Cek Pengungsi Banjir di Rawa Buaya



Jakarta – Usai meninjau korban banjir di Pasar Minggu, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo berencana akan meninjau pengungsi yang ada di Rawa Buaya, Jakarta Barat. Jokowi berencana akan memberikan bantuan kepada mereka.

Bantuan yang diberikan berupa bahan-bahan makanan. Informasi yang didapat, ada ribuan pengungsi yang membutuhkan bantuan pangan di lokasi itu.

“Ke Rawa Buaya, Katanya di sana ada 4 ribuan yang ngungsi, itu saya mau cek,” ujar Jokowi di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Selasa (15/1/2013).

Jokowi mengatakan bantuan pangan berupa lauk dan beras tidak hanya diberikan kepada beberapa wilayah di DKI Jakarta. Namun juga ke semua wilayah Jakarta yang terkena banjir.

“Tapi kan tidak di sini saja, Kemungkinan di daerah ya yang dikepung banjir, ada Rawa Buaya, ada Kampung Pulo, Kampung Melayu, di Bukit Duri, Tebet juga ada, semuanya lah mau kita tengok,” ungkapnya.

Jokowi pun sempat bercanda kepada para wartawan yang senantiasa mengikuti dirinya agar pulang. Ia meminta agar para wartawan juga menjaga kesehatannya.

“Tapi nggak usah ikutlah (ngomong sama wartawan). Sampe malem nanti dengan saya. Hujan lagi, nanti masuk angin Heheh..,” canda Jokowi.

(ndu/mok)

Nasional | Lembaga Zakat Dinilai Lebih Tanggap Banjir

Lembaga Zakat Dinilai Lebih Tanggap Banjir

Warga korban bencana banjir luapan Sungai Ciliwung mengungsi di bawah jembatan layang Kampung Melayu, Jakarta, Ahad (20/1) malam. (/Yasin Habibi)

, JAKARTA –- Lembaga zakat berkontribusi besar dalam penanganan banjir Jakarta.

“Saat ini, Dompet Dhuafa merespons bencana banjir dengan dua jenis kegiatan yang terbagi ke dalam tahapan emergency dan recovery,” ungkap General Manager Program Relief DD Bambang Suherman, Kamis (24/1).

Selama lebih dari sepekan banjir, ujar Bambang, pihaknya menurunkan 135 orang personil yang tersebar di lima wilayah kota Jakarta. Selain membuka pusat-pusat penampungan pengungsi, DD menggelontorkan 10 jenis program bagi sekitar 50 ribu penerima manfaat donasi banjir Jakarta.

Posko serta tempat pengungsian yang dibuka DD antara lain di Cawang, Kalibata, Tebet, Pejaten, Ulujami, Rawa Buaya, Petamburan, dan  Karet Tengsin. Ada pula di RRI, Plumpang, Cilincing, Pluit, dan Penjaringan.

Di kawasan Tangerang ada di Total Persada, Pedurenan, serta Karang Tengah. Sedangkan di Bekasi terpusat di Jati Asih, Margahayu, Muara Gembong, dan Babelan.

Tahapan emergency ditujukan untuk lokasi-lokasi yang masih terendam oleh banjir dan aktivitas masyarakat belum dapat berjalan dengan normal. Kegiatannya antara lain adalah evakuasi, distribusi logistik, ataupun pengadaan dapur umum.

Sedangkan, tahapan recovery ditujukan untuk lokasi-lokasi yang relatif telah surut dari banjir. Kegiatannya antara lain, bersih-bersih lingkungan dan fasilitas umum yang kotor akibat banjir, menyediakan stok air bersih dan obat-obatan, mengadakan layanan kesehatan, serta melakukan assessment terkait kerusakan infrastruktur dan kondisi masyarakat pascabanjir.

“Per 23 Januari, donasi yang telah disalurkan pada korban banjir sekitar Rp 970 juta,“ terang Bambang.

Penanggung jawab tim banjir DD ini tak memungkiri, upaya timnya tidak semulus kelihatannya. Secara umum kendalanya terletak pada besarnya kebutuhan masyarakat dibanding kemampuan respon. Misalnya, tim butuh perahu bermesin untuk menjangkau masyarakat di daerah terisolir seperti di Bekasi.

Tim DD juga memerlukan kontribusi peralatan besar untuk mengangkut sampah. Kemudian yang tak kalah penting, belum adanya peralatan untuk melakukan disinfektan masif agar bibit penyakit pascabanjir mati.

“Agar bisa bergerak lebih cepat, tim kita perlu sokongan pemerintah daerah dan bantuan militer untuk menyediakan peralatan berat tadi,”cetus Bambang.

Yayasan Majelis Al Washiyyah (YMA) milik KH Mohamad Hidayat juga turut membantu warga yang terkena musibah. Bekerjasama dengan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), YMA membuka Posko Kesehatan Peduli Banjir Jakarta. Bantuan berupa pengobatan gratis kepada 150 warga di wilayah Tanah Rendah, Kebon Pala, Kampung Melayu yang meliputi delapan  RT dan tiga RW.

“Pengobatan langsung menemui warga ini sangat efektif karena dapat menjalin komunikasi dengan baik. Sehingga tercipta rasa kekeluargaan,” ujar Kiai Hidayat. Anggota Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN MUI) Pusat ini bersyukur lembaga-lembaga zakat lebih tanggap untuk menangani problem sosial pascabanjir.

Lokasi pengobatan gratis ini meliputi lima titik, yakni Gang Arus (Kali Ciliwung), Gang Asam (Kebon Pala), Gudang Peluru (Kampung Melayu, Masjid Jami Al-Atiq), Tanah Rendah (Kebon Pala), serta Gang Banten (Jatinegara).

Salah seorang warga yang kebanjiran  di Tanah Rendah, Sofyan Syauri mengaku sangat berterima kasih kepada Yayasan Majelis Al Washiyyah maupun lembaga-lembaga zakat yang turun langsung ke lokasi dengan mengadakan pengobatan gratis.

“Mudah-mudahan bisa meringankan beban penyakit yang dialami warga korban banjir,” katanya. Dia juga berharap ada bantuan berupa pakaian untuk anak sekolah serta perlengkapannya. Lantaran seluruh perlengkapan itu lenyap terbawa arus.

Tanggapnya lembaga zakat terhadap penanganan pengungsi dan warga juga diakui warga Gang Arus, Cawang, Elva. Setelah sempat terisolir selama dua hari, Baznas yang pertama mendirikan posko dan dapur umum di tempatnya.  Selain menyediakan susu bagi anak-anak, lembaga ini juga menyediakan nasi kotak bagi warga setiap hari.

“Meskipun belum bisa menjangkau 1050 KK disini karena masih ada tiga RT terisolir, setidaknya posko mereka meringankan beban kami,”jelas Elva.

Dari data Baznas, ada 16 posko yang didirikan di Jakarta, Tangerang hingga Karawang.  Total donasi yang disalurkan bagi korban banjir lebih dari Rp 200 juta. Program Baznas lebih terfokus pada pembangunan dapur umum serta pemenuhan nutrisi anak-anak dan warga.